ITN Malang jadi Focal Point Dorong Inventor Patenkan Penelitian

MoU (Memorandum of Understanding) antara ITN Malang dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada Selasa 31 Oktober 2017 lalu menjadi motivasi bagi kampus biru untuk makin berkarya dan memanfaatkan kekayaan intelektual (KI).

Dengan penandatanganan nota kesepahaman ini menurut Dr. Dimas Indra Laksmana, ST.,MT., Ketua Sentra KI ITN Malang, otomatis ITN menjadi salah satu focal point dalam menjelaskan mengenai paten kepada peneliti atau inventor. Kesempatan kerjasama ini akan dimanfaatkan secara optimal oleh ITN untuk kepentingan inventor dan pihak yang membutuhkan.

“Inventor di sini adalah penemu atau pencipta di dalam paten. Tugas ITN juga mengadakan sosialisasi secara internal kepada perguruan tinggi dan eksternal kepada perusahaan/industri yang melakukan riset. Kegiatan ini sebenarnya sudah kami lakukan dari tahun kemarin,” terangnya saat jumpa pers, di Kampus I, Kamis (2/11).

Pentingnya pendaftaran hak cipta/paten disadari betul oleh ITN Malang. Terbukti sebanyak 160 lebih karya dosen dan mahasiswa sudah mendapat hak cipta. “Jumlah ini akan terus bertambah dengan adanya penemuan-penemuan baru. Sedangkan jumlah paten yang terdaftar lebih dari 7 buah,”  tambahnya.

Dimas membeberkan, untuk proses pendaftaran paten sejauh ini membutuhkan waktu satu bulan, sedangkan pengumuman bisa diperoleh antara rentang waktu satu sampai tiga tahun. Bergantung dari ada tidaknya jumlah claim menyangkut kesamaan atau tidaknya karya. Lamanya searching paten inilah yang kadang dirasakan menjadi kendala dalam pendaftaran hak paten.

“Dengan adanya kerjasama dengan DJKI, maka akan dibantu oleh TISC-WIPO dalam menyediakan layanan akses informasi di bidang teknologi. Peneliti bisa melakukan searching data paten dan bisa meningkatkan kesadaran mereka di bidang paten,” paparnya.

“Sebenarnya kendalanya adalah bagaimana peneliti mencari sesuatu yang baru. Karena syarat hak paten ada tiga, mengandung kebaruan atau novelty, bisa dimanfaatkan oleh dunia industri dan penemuan tidak biasa dan tak terduga, di sini maksudnya benar-benar baru dan inovatif yang tidak duplikasi,” pungkasnya. (mer/humas)