Jawab Masalah UKM Tempe, Dosen ITN Malang Kembangkan Mesin Pengolah Kedelai yang Ramah Lingkungan dan Higienis

Siapa yang tidak suka tempe, tahu, atau keripik tempe. Olahan berbahan dasar kedelai khususnya tempe dan keripik tempe ini merupakan makanan khas Malang. Namun dibalik enaknya camilan tersebut ternyata masih menyisakan problem dalam pemrosesan bahan baku.

Selama ini kebanyakan UKM dalam mengolah kedelai masih memanfaatkan sistem pelembangan/ayakan manual. Proses manual tersebut selain belum mampu meningkatkan produktifitas hasil olahan juga berdampak pada kesehatan para pekerja.

“Mereka (pekerja, Red) selama pelembangan harus merendam tangan tiap hari. Proses ini rawan terhadap penyakit kulit seperti gatal-gatal. Apa lagi diusia mereka yang tidak muda lagi antara 40-50,” terang Dr. I Komang Astana Widi, ST.MT., dosen Teknik Mesin ITN Malang saat ditemui di Kampus II, Sabtu (11/11).

Melihat fenomena tersebut Ir. Wayan Sujana, MT., Ir Teguh Rahardjo, MT., dan Dr. I Komang Astana Widi, ST.MT., berupaya memberikan jawaban atas masalah yang dihadapi UKM pengrajin tempe dan keripik tempe di Desa Sanan, Kota Malang. Melalui program pengabdian kepada masyarakat tahun 2017, dosen ITN Malang ini mengembangkan mesin dengan teknologi otomatis pengolahan kulit ari kedelai yang ramah lingkungan dan higienis.

Secara spesifik dosen sekaligus Wakil Dekan I FTI menjelaskan, beberapa kasus muncul dari model pelembangan/ayakan kedelai manual. Diantaranya, usia pekerja umumnya sudah tua; selama pelembangan pekerja rawan terhadap penyakit kulit terutama pada tangan dan kaki; lamanya pelembangan dengan kapasitas besar akan merusak biji kedelai dan berdampak pada menurunnya kualitas serta produktifitas produk; dari segi ergonomi seringkali pekerja mengeluh karena kram atau kaku dibagian pinggul saat pelembangan; daya listrik yang dimiliki UKM umumnya sangat rendah antara 450 dan 900 watt sehingga UKM meminimalisir pemanfaatan teknologi dalam proses produksinya.

“UKM umumnya memakai daya listrik rendah. Mereka ingin alat yang tidak ribet dan tidak menggunakan listrik. Sehingga kami mengakalinya dengan memakai pompa,” terang Komang biasa didapa.

Cara kerja alat ini sangat sederhana. Komang menggambarkan, setelah kedelai dimasukkan ke dalam alat, kemudian diberi tekanan dengan pompa air yang bersudut dari bawah. Tekanan air berputar inilah yang akan melepaskan kulit ari kedelai. Kulit ari yang ringan selanjutnya mengambang dan terkumpul diwadah penampungan.

Biji kedelai yang sudah mengelupas otomatis akan mengendap ke bawah. Pekerja bisa melihat melalui kaca di sisi samping alat. Kaca tersebut juga berfungsi untuk memonitor bersih tidaknya kedelai serta pengontrol tekanan air. Kalau kedelai kurang bersih bisa diulang lagi dengan memberikan tekanan air.

“Kami memakai pompa dengan daya kecil agar air tidak muncrat saat dioperasikan. Operator juga bisa mengatur tekanan pompa kalau ingin kedelai lekas bersih tekanannya bisa dipercepat,” tambah dosen kelahiran Denpasar ini.

Memanfaatkan pompa air berkapasitan 145 watt, mesin pelembang kedelai dirancang memiliki kapasitas 5 kg dengan pengulangan proses dapat dilakukan setiap 20 menit. Dengan demikian, dalam 1 jam dapat memproses kedelai sekitar 15 kg. Ini jauh berbeda kalau menggunakan cara manual, untuk kapasitas 20 kg dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

“Berbeda dengan pengerjaan manual yang biasanya sedapatnya, bergantung pada skill dan kekuatan pekerja. Mesin ini bisa memberikan hasil yang lebih konsisten,” katanya berharap teknologi tepat guna bisa langsung dimanfaatkan oleh UKM. (mer/humas)