Prihatin Curah Hujan Tinggi, Pakar ITN Malang Suarakan Sumur Resapan

Tingginya curah hujan di Kota dan Kabupaten Malang mengundang keprihatinan tersendiri bagi Dr.Ir. Kustamar, MT., ahli air Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Seperti saat ini musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi banyak air menggenang dan terbuang sia-sia. Bahkan mengakibatkan banjir disejumlah lokasi.

“Pada waktu musim hujan luar biasa banjirnya tapi pada saat kemarau dibeberapa daerah kekurangan air khususnya di lahan-lahan pertanian,” katanya saat ditemui disela-sela acara institusi beberapa waktu yang lalu.

Apalagi menurut alumni ITN Malang ini, Kabupaten Malang sebagai sentra pertanian petani perlu diberdayakan untuk mengurangi ketergantungan kepada alam. “Pada waktu musim hujan di lahan-lahan pertanian airnya jangan dibuang, tetapi usahakan diresapkan di lahan tersebut,” pesannya.

Metode yang bisa digunakan dengan membuat sumur resapan. Sumur resapan tidak hanya dimanfaatkan di pekarangan rumah dan kebun namun juga bisa dibuat di lahan persawahan. Sumur resapan ini menurutnya juga bisa diaplikasikan pada lahan miring/terasiring agar unsur haranya tidak tercuci. Karena kalau tercuci lama kelamaan tanah akan semakin tandus, kualitas air tanah juga tidak akan bagus serta mengakibatkan banjir di bagian bawah.

“Di sini harus ada kekompakan dari petani agar air tidak keluar dari sawahnya. Semisal setiap empat petak ada satu sumur resapan. Kalau ini dilakukan mungkin dipetak itu nantinya akan keluar mata air,” jelasnya.

Ahli air ITN Malang ini juga memiliki konsep sumur resapan yang digabungkan dengan sumur pengambilan. Saat musim penghujan air akan dimasukkan dalam sumur resapan, yang kemudian akan diambil airnya saat musim kemarau untuk irigasi melalui pompa.

Cara ini sekaligus meminimalkan ketergantungan petani pada embung. Petani bisa dengan mandiri menyimpan air di dalam tanah dan memanfaatkannya saat musim kemarau. Agar air bertahan maka sumur resapan harus terkoneksi dengan lapisan aquifer, lapisan tanah yang mengandung air dimana penduduk mendapatkan air.

“Petani hanya perlu membuat filter sehingga air tanahnya tidak tercemar. Nanti pada musim kemarau di titik yang sama kita pasang pipa untuk mengambil air, sehingga ekosistemnya terjaga,” tambahnya.

Dengan adanya sumur resapan di lahan pertanian selain petani bisa mandiri, ketergantungan terhadap embung juga berkurang. Peran pemerintah sangat penting dengan mengajak bermitra petani, agar petani tidak menjadi beban pemerintah.

“Karena selama ini pemerintah masih cenderung fokus pada pembuatan fisik embung. Padahal kalau petani tidak menjaga tutupan lahannya maka embung akan terkena erosi dan akan habis juga,” tutupnya. (mer/humas)