Alumni ITN Malang di Balik Pembangunan Jembatan Simpang Susun Semanggi Jakarta

Jembatan Simpang Susun Semanggi kini menjadi ikon baru yang menjadi landmark Ibu Kota Jakarta. Memiliki panjang 1.622 meter, jembatan ini merupakan jembatan lengkung terpanjang se-Indonesia. Jembatan yang didesain mirip dengan daun semanggi ini mulai dibangun tahun 1961, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

 

Namun, tidak banyak yang tahu dibalik megahnya jembatan yang menghabiskan dana 360 miliar itu ada keterlibatan alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Tergabung dalam pendirian PT. Tensindo Kreasi Nusantara, para alumni Teknik Sipil ITN terlibat langsung dalam suksesnya pembangunan tersebut.

 

“Jembatan Simpang Susun Semanggi merupakan proyek yang sangat berkesan dan membanggakan bagi kami sebagai alumni ITN Malang. Ini menjadi pertaruhan bagi kami,” terang Ugeng Hariadi, President Director PT. Tensindo Kreasi Nusantara, saat ditemui di acara Seminar penerapan Teknologi Konstruksi Metode Erection Jembatan Bentang Panjang di ITN Malang Kampus I, Kamis (1/2).

 

Alumni ITN Malang di Balik Pembangunan Jembatan Simpang Susun Semanggi Jakarta

Alumni ITN Malang di Balik Pembangunan Jembatan Simpang Susun Semanggi Jakarta

 

Kebanggan Ugeng beralasan, karena dirinya berasal dari kampus ITN Malang yang tergolong kampus swasta. Namun tidak kalah kualitas dengan lulusan kampus lain. “Kami satu-satunya perusahaan lokal yang bisa bersaing, apa lagi kami dari ITN Malang,” lanjut pria angkatan tahun 90 ini.

 

Selain Simpang Susun Semanggi, sudah ada ratusan bangunan dan jembatan yang dikerjakan oleh Ugeng bersama tim sesama alumni ITN Malang, diantaranya LRT Kelapa Gading, Bandar Udara Kualanamu Medan, Cipinang Lontar Jakarta, jembatan Mahkota Kalimantan, serta jembatan Batu Rusa Bangka Belitung yang dibangun dengan kontruksi cable stay. Dan saat ini mereka sedang menggarap jembatan Mahakam Aji Tulur Jejangkat (ATJ) Melak, Kalimantan Timur.

 

Kesempatan berkunjung ke ITN Malang menjadi moment nostalgia bagi Ugeng dan dua rekannya dari PT. Tensindo Kreasi Nusantara, yaitu Catur Yudianto (Director) dan Dwi Subijantoro (General Manager) yang juga alumni ITN Malang.

 

Catur menceriterakan pengalamannya semasa kuliah di ITN Malang. Menurut alumni angkatan 89 ini, saat itu kuliah identik dengan mengerjakan tugas, bahkan saat sedang mengerjakan tugas sampai dibawa ke warung.
Hal tersebut dibenarkan oleh Dwi Subijantoro, bahwa waktu itu untuk lulus dari ITN Malang sangat susah karena ketatnya. Menurutnya untuk lulus memang butuh usaha dan tekat yang kuat. “Alumni ITN diperhitungkan di luar (dunia kerja). Adik-adik mahasiswa harus bangga bahwa lulusan ITN punya kualitas setara bahkan dengan kampus negeri sekalipun,” tutur General Manager angkatan 91 ini. (mer/humas)