Sepeda disabilitas berbasis elektrik

Mobilitas kaum difabel yang terbatas karena minimnya alat bantu transportasi menjadi keprihatinan tersendiri bagi Aditya Bagus Setiawan. Harga yang mahal dari modifikasi sepeda bermotor bakar (sepeda motor mesin) memperkuat alasan dia untuk membuat sepeda disabilitas berbasis elektrik. Karyanya ini kemudian dituangkan dalam skripsi yang berjudul “Perancangan Transmisi Sepeda Disabilitas Berbasis Elektrik”.

Lepas dari SMK Santo Yusuf Blitar, awalnya Adit sapaan akrab Aditya Bagus Setiawan enggan untuk kuliah. Ia sudah merasa nyaman bekerja di outsourcing kereta api pada bagian pemeriksan jalan dan jembatan. Namun saran orang tua dan dorongan dari saudara menggerakkan Adit untuk kuliah di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Siapa sangka dari hasil study dan karyanya membawa putra dari pasangan Nipto Juono dan Sriwidajati ini menjadi wisudawan terbaik Teknik Mesin D-3, Fakultas Teknologi Industri, ITN Malang pada Wisuda ke-59 Periode 1 Tahun 2018. Pemilik IPK 3,76 ini merancang dan membuat sepeda disabilitas elektrik dengan berbagai keunggulan.

“Sepeda ini lebih praktis, efisien, dan ramah lingkungan karena menggunakan penggerak motor listrik dan baterai sebagai sumber tenaga. Jadi tidak menghasilkan polusi udara,” jabar pemuda asal Blitar ini.

Memiliki satu roda di bagian depan, dan dua roda di bagian belakang. Sepeda difabel ini dilengkapi kemudi, tempat duduk, dan penggerak yang menunjang kegiatan sehari-hari seorang tunadaksa.

Sepeda disabilitas berbasis elektrik

Sepeda disabilitas berbasis elektrik

Sepeda disabilitas berbasis elektrik buatannya ini memakai motor DC. Motor DC sifatnya motoring, saat mendapatkan arus listrik dinamo akan berputar untuk memutarkan roda. Sekali isi jarak yang bisa ditempuh mencapaai 10-15 km.

Memakai kontruksi dari besi kotak setebal 2×2 cm, dengan ketebalan 2mm, motor elektrik difabel mempunyai berat sekitar 5-7 kg. Lebar kira-kira setengah meter dan panjang satu meter. Berat ini masih memungkinkan untuk dikendarai segala usia dengan bobot maksimal 110kg.

Untuk mempermudah pergerakan maka roda depan dan belakang menggunakan ukuran berbeda. Untuk roda belakang memakai roda sepeda federal, sedangkan yang depan memakai roda sepeda BMQ.

“Roda depan lebih kecil dari belakang. Ini agar daya gerak roda belakang lebih besar. Radius putaran juga lebih besar. Roda belakang dayanya dapat, dan karena roda depan lebih kecil maka handling lebih mudah digunakan. Model ini praktis karena bisa masuk di area-area terbatas, dan mudah digunakan,” paparnya.

Keuletan Adit dalam study tidak hanya terbukti menjadi salah satu lulusan terbaik ITN Malang. Menjelang kelulusannya ia sudah mengikuti beberapa seleksi penerimaan tenaga kerja, diantaranya United Tractors di Jakarta, Astra, General Electric. Bahkan untuk United Tractors sudah melewati tahap wawanacara tinggal menunggu hasil. “Tidak tahu nanti keterima dimana, yang penting sudah mencoba dan berusaha,” katanya. (mer/humas)