Teguh Adi Irawan, Bantu UKM Keripik Pisang Atasi Pemborosan Bahan Baku

Pemborosan bahan baku merupakan salah satu masalah yang dihadapi UKM. Meskipun analisa data sudah dilakukan, namun pemborosan tetap terjadi. Ini dikarenakan UKM masih menggunakan peramalan/perkiraan bahan baku dengan metode manual.

“Perkiraan seperti ini (manual) tidak standar, cenderung kurang tepat dan banyak mengakibatkan pemborosan (bahan baku),” terang Teguh Adi Irawan, wisudawan terbaik Teknik Industri S-1, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Teguh biasa disapa mengatakan, pengusaha masih menggunakan data-data masa lalu yang dianalisis secara random untuk meramalkan produksi masa datang. Perkiraan semacam ini mengakibatkan pemborosan bahan baku dan menjadi masalah yang terkadang tidak disadari oleh pengusaha.

Ia menemukan permasalahan tersebut pada UKM keripik pisang Sumber Rejeki Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Bahkan pemborosan bahan baku juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan suplier, bahan packaging yang kurang tepat, dan penyimpanan berlebihan di gudang. Hal tersebut mengakibatkan pemborosan bahan baku dan kerusakan karena lamanya masa penyimpanan.

Melihat fenomena tersebut mahasiswa kelahiran Bontang Kalimantan ini memberikan solusi dengan metode penghalusan eksponensial dan linier regresi yang diuji menggunakan pengujian moving range. Dari uji ini didapat pemborosan dan penyimpanan berlebih dengan selisih 123 pack produk.

“Metode ini meminimalisir tingkat penyimpangan inventory, agar tidak terjadi pemborosan bahan baku,” katanya.

Karena menurut Teguh, apabila terjadi pemborosan bahan baku maka akan menimbulkan biaya-biaya lain yang merugikan perusahaan. “Biasanya akan muncul biaya perawatan, barang kadaluarsa dan sebagainya. Jadi peramalan ini penting untuk tingkat inventory,” tegasnya.

Solusi dari masalah UKM inilah yang kemudian ia angkat menjadi tugas akhir dengan judul “Penerapan Uji Moving Range dalam Sistem Peramalan Persediaan Kebutuhan Bahan Baku di UKM Sumber Rejeki Malang”.

“Saya lebih memilih UKM karena di UKM permasalahan lebih banyak. Sehingga saya berharap bisa membantu memperbaiki dan meminimalisir permasalahn-permasalahan tersebut. Sedangkan di perusahana besar tingkat kesahannya lebih sedikit,” akunya.

Kegigihan dan semangatnya membantu UKM mengantarkan putra Bapak Sumbang Riady ini menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang dengan IPK 3,75. (mer/humas)