Rifqi Bagus Wicaksono, Buat Alat Pengasap Ikan Higienis dan Ramah Lingkungan (1)

Pecinta kuliner pasti banyak yang sudah pernah merasakan lezatnya masakan dari olahan ikan asap. Rasanya yang khas, gurih dan lezat membuat olahan ikan asap banyak diburu orang. Namun tahukah kalau selama ini dalam menghasilkan ikan asap, pengrajin biasanya hanya melakukan pengasapan secara langsung dan seadanya. Seperti halnya pengrajin ikan asap di daerah Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Pengasapan secara langsung dengan tungku dalam pembuatan ikan asap akan mengakibatkan beberapa masalah. Seperti polusi udara, karena asap tidak bisa dikendalikan sehingga akan menganggu fisik operator/pengrajin. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada produktifitas kinerja. Belum lagi menyangkut kebersihan (higienis) produk dan keefektifan waktu produksi.

Permasalahan itulah yang berusaha dijawab oleh Rifqi Bagus Wicaksono, wisudawan terbaik Teknik industri D-III, pada Wisuda ke-59 Periode I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Dia membuat alat pengasap ikan yang tidak hanya higienis namun juga ramah lingkungan. “Alat ini akan memudahkan pengrajin dalam mengolah ikan, dan menghasilkan produk yang higienis,” katanya.

Pemilik IPK 3.64 ini tidak hanya membuat alat pengasap ikan sembarangan, dia sangat memperhitungkan prinsip ergonomi yang disesuaikan dengan pengukuran antrhopometri (menyesuaikan dengan ukuran tubuh manusia). “Alat ini dibuat berdiri untuk memudahkan pengoperasian, bentuknya seperti lemari yang terdiri dari beberapa rak. Namun untuk memanggang ikan bisa dalam posisi ditidurkan atau digantung,” tambahnya.

Rifqi Bagus Wicaksono, Buat Alat Pengasap Ikan Higienis dan Ramah Lingkungan

Rifqi Bagus Wicaksono, Buat Alat Pengasap Ikan Higienis dan Ramah Lingkungan

Rifki membeberkan, alat pengasap ikan ini terbuat dari stainless steel dengan penambahan komponen corong di atas alat yang berfungsi sebagai tempat keluarnya asap. Di sisi alat juga dipasang kaca penduga dan di depan pintu dipasang termometer. “Stainless steel saya pilih karena bahan ini awet. Sedangkan kaca penduga untuk melihat kematangan ikan, dan tingkat panas bisa diatur dengan melihat termometer. Alat yang tertutup ini akan mempercepat pematangan ikan secara merata dan menjaga udara di luar tetap bersih,” ungkap putra pasangan Rusli Tassan dan Sri Haryati.

Menggunakan bahan bakar batok kelapa dijamin olahan ikan bakar akan semakin nikmat. Untuk penempatan bahan bakar ada dibagian bawah alat. Pengasapan ikan bisa menggunakan suhu 80 derajat, dan suhu panas bisa ditambah sesuai dengan jumlah ikan. Sekali panggang, alat ini bisa memuat sekitar 45-55 kg ikan. “Kalau memakai tungku, pengasapan membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, tapi dengan alat ini hanya satu jam. Jadi sangat menghemat waktu, semakin panas maka tingkat kematangan lebih cepat,” tegasnya.

Untuk membuat alat pemanggang ikan, alumni SMAN 1 Trenggalek ini menghabiskan biaya sekitar 7 juta 750 ribu rupiah. Biaya tersebut sesuai dengan efektifitas waktu dan kualitas dari pengolahan ikan asap. Bahkan karya Rifqi sudah dilirik pengusaha dari Trenggalek untuk bersama-sama dikembangkan. “Sudah ada relasi yang tertarik dan akan mengembangkan alat ini,” kata Rifki yang sekarang dengan orang tuanya tinggal di Trenggalek. (mer/humas)