ITN Malang Kembali Jadi Tuan Rumah, 90 Dosen se-Jatim Daftarkan Paten

Sebanyak 90 dosen se-Jawa Timur mengikuti pelatihan “Pemanfaatan Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang Berpotensi Paten”. Kegiatan ini merupakan follow up dari hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diberikan DRPM (Dikti) yang berpotensi paten. Kali ini Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kembali menjadi tuan rumah kegiatan.

ITN Malang Kembali Jadi Tuan Rumah, 90 Dosen se-Jatim Daftarkan Paten

ITN Malang Kembali Jadi Tuan Rumah, 90 Dosen se-Jatim Daftarkan Paten

Nur Masyitah Syam, Subdit Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual menjelaskan, Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual tahun ini menargetkan 290 judul penelitian dosen yang akan mendapat hak paten. Dari hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terlebih dulu diseleksi, kemudian diberi pemahaman tentang deskripsi paten, penelusuran paten pembanding, sehingga dihasilkan dokumentasi spesifikasi paten sebagai output dari penelitian.

“Kegiatan pelatihan ini merupakan proses seleksi. Yang lolos akan kami bantu dalam pendanaan dan memfasilitasi pendaftaran paten ke Dirjen KI di Kementerian Hukum dan HAM. Tapi dilihat dulu outputnya nanti,” terangnya di Singhasari Resort, Rabu (21/3).

Sedangkan hasil penelitian yang disyaratkan adalah, hasil invensi mempunyai unsur kebaharuan, mempunyai teknologi, dan potensial untuk diindustrikan. Selain itu juga harus berupa penelitian eksak dan bermanfaat serta menjawab permasalahan di masyarakat.

Dana yang diberikan tersebut diperuntukkan untuk pendaftaran paten, pemeriksaan subtantif, dan percepatan publikasi. Dana yang didapatkan untuk pendaftaran paten UMKM dan perguruan tinggi sebesar Rp 450 ribu/judul, pemeriksaan subtantif Rp 2 juta/judul, percepatan publikasi Rp 200 ribu/judul. Sedangkan untuk biaya pemeliharaan ditanggung oleh masing-masing perguruan tinggi.

“Lima tahun pertama dana pemeliharaan free, di tahun ke enam baru dikenakan biaya pemeliharaan. Ini beda dengan pendaftaran perorangan atau swasta, dari tahun pertama mereka sudah terkena biaya pemeliharaan,” pungkas wanita Asal aceh ini. (mer/humas)