Nelly Budiharti Temukan Strategi Penanggulangan Kedelai Impor dengan Swasembada Kedelai

Kedelai merupakan komoditas strategis setelah padi dan jagung. Kebutuhan akan kedelai tiap tahunnya meningkat seiring bertambahnya penduduk dan pola konsumsi masyarakat terhadap bahan baku dari kedelai. Namun produksi kedelai dalam negeri belum bisa memenuhi banyaknya permintaan. Maka solusi tercepat adalah impor. Padahal lahan di Indonesia masih berpotensi besar untuk menghasilkan bahan baku kedelai sendiri. Tantangan inilah yang membuat Dr.Ir. Nelly Budiharti, MSIE, IPM., dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kemudian membuat strategi menanggulangi kedelai impor dengan meningkatkan produksi dalam negeri.

Berjudul “Model Strategi Persediaan Kedelai Produksi dalam Negeri Guna Mencapai Swasembada”, Nelly ditemui di ruang kerjanya menjelaskan ada empat strategi yang bisa dilakukan. Pertama, Harga penjualan petani yang pantas. “Di Indonesia harga komoditas pertanian terutama kedelai di tingkat petani murah. Namun setelah sampai di pasar harga makin mahal. Padahal harga ditingkat petanilah yang bisa mempengaruhi petani mau menanam kedelai atau tidak,” tuturnya.

Kedua, modal yang cukup. Perlu adanya pemberian modal yang cukup ke petani untuk pengolahan lahan sampai panen. “Karena selama ini modal petani masih apa adanya, sedangkan subsidi seperti pupuk dan bibit belum cukup kalaupun ada secil sekali,” tambahnya.

Ketiga, lahan dan intensifikasi. Untuk peningkatan produksi kedelai yang berkualitas salah satunya dengan jalan intensifikasi. Selama ini lahan yang digunakan untuk menanam kedelai sangat terbatas, diharapkan dengan penelitian ini kedelai bisa ditanam di berbagai kondisi tanah. “Petani nantinya bisa menanam kedelai di semua kondisi tanah. Tidak hanya di tanah sawah namun juga bisa di tegal, lahan dekat pantai, dataran tinggi maupun dataran rendah,” ujar dosen yang sekaligus Kaprodi Teknik Industri S1 ini.

Keempat, produksi yang tinggi, ini bisa dilakukan dengan peningkatan jumlah areal tanam kedelai yang didukung dengan alih fungsi lahan. Tanaman yang kurang bermanfaat baik dari segi kebutuhan maupun ekonominya bisa dialih fungsikan. “Kedelai juga bisa ditanam di sela-sela tanaman lain, misalnya kayu putih dan pohon jati yang belum berusia lima tahun,” ujarnya.

Dengan penelitiannya Nelly berusahan merubah mainsed petani, bahwa masa tanamam kedelai tidak hanya satu tahun sekali namun bisa tiga sampai empat kali. Tahun 2018 ini Nelly akan dilanjutkan penelitiannya dengan penanaman kedelai di lima lokasi yakni, Batu, Purwosari, Kalipare, Tumpang dan Karangploso. (mer/humas)