Makna puasa dalam Pandangan Rektor ITN Malang

Ramadhan merupakan momentum untuk meningkatkan keimanan serta ketakwaan. dalam bulan suci Ramadhan di dalamnya banyak ibadah yang bisa dilakukan, seperti halnya kewajiban berpuasa sebulan penuh, memperbanyak sholat sunah, memperbanyak membaca kitab suci Alquran, bersedekah dan sebagainya.

Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT., Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, mengisahkan, berpuasa bukan sekedar menahan lapar dengan tidak makan, dan menahan haus dengan tidak minum. Melainkan ada makna lebih dari itu, jika manusia memahaminya maka akan merasa beruntung karena telah berkesempatan menjalankan ibadah puasa.

Menurut rektor makna puasa ini dapat ditelusuri dialog antara Allah dengan isi manusia. Pada dasarnya, manusia ini kosong dan dalam dirinya berisi akal dan nafsu. Sebelum manusia diciptakan, akal dan nafsu diciptakan terlebih dahulu. “Pada saat Allah menciptakan akal, Allah bertanya: wahai akal siapakah aku dan siapakah kamu?,” terang Lalu biasa disapa, saat ditemui di ruangannya beberapa waktu yang lalu.

Dari pertanyaan itu, akal menjawab dengan tepat bahwa dirinya adalah ciptaan Allah. Lalu Allah kemudian menciptakan nafsu. Allah memberi pertanyaan yang sama padanya: wahai nafsu siapa kamu dan siapa aku. Namun nafsu sangat sombong, dia menjawab: aku adalah aku dan kamu adalah kamu. “Jadi dari awalnya memang nafsu ini angkuh,” tegas dosen arsitektur ini.

Nah, mendengar jawaban itu Allah langsung menghukum nafsu selama seratus tahun di neraka dengan tidak diberikan makan dan minum. Setelah itu ditanyakan lagi pada nafsu, namun dia tetap memberikan jawaban yang sama. Maka Allah menghukumnya lagi dengan lebih berat. “Baru setelah itu, nafsu mengakui bahwa Allah adalah penciptanya dan dia adalah hambanya,” katanya.

Dari kisah ini dapat ditangkap makna, bahwa memang untuk mengendalikan nafsu harus diberikan pelajaran. Dan saat ini nafsu itu sudah ada dalam diri manusia, maka untuk mengendalikannya dilakukanlah puasa. “Jadi begitulah makna puasa ini, agar kita tidak serakah, agar kita selalu menjadi hamba yang taqwa kepada Allah,” paparnya.

Dalam kesempatan peringatan Nuzulul Quran rektor juga menyinggung makna Ramadhan untuk evaluasi diri. Setelah berpuasa sebulan penuh dengan menahan lapar, dahaga juga mengendalikan nafsu, rektor berharap nilai-nilai dalam Ramadhan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalan pekerjaan maupun dalam sosial masyarakat.

“ITN selalu punya slogan, kerja keras, bekerja dengan kejujuran, bekerja dengan ikhlas, dan keberkahan. Semoga dengan adanya Ramadhan bisa membawa kita semua khususnya civitas akademika ITN Malang menjadi lebih baik lagi dalam bekerja dan di sosial masyarakat,” harapnya. (her/mer)