Kurikulum ITN Malang Siap Hadapi Revolusi Industri Generasi Ke-4

Salah satu yang tidak bisa ditolak dalam perkembangan masyarakat saat ini adalah semakin majunya teknologi, jangkaun informasi semakin menglobal melalui internet (internet of things), dan semuanya berbasic big data. Kenyataan yang sering disebut dengan revolusi industri generasi ke-4 ini membuat kerja semakin akurat, dan tidak bisa bergerak pada bagian-bagian saja melainkan semuanya harus terintegrasi. “Jadi kita harus mendidik manusia seperti robot, tetapi tidak boleh jadi robot,” terang Dr.Ir. Kustamar, MT., Wakil Rektor I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (13/7).

Menurut Kustamar, perkembangan revolusi industri 4.0 ini sudah ditanggapi dengan baik oleh ITN Malang melalui mengintegrasikannya ke dalam kurikulum. Salah satunya yang sangat mencolok adalah peningkatan porsi IT (Information Technology) bagi para mahasiswa. Sejak masuk kuliah mahasiswa di semua jurusan mendapat mata kuliah sistem informasi. Ini mata kuliah wajib. Kemudian pada semester tiga mendapat tambahan matrikulasi peningkatan kompetensi dasar. “Dalam hal ini ada tiga kompetensi yang kita perbaiki yaitu, IT, bahasa Inggris, dan muatan prodi,” terang pria asal Blitar tersebut.

IT diberikan berkaitan dengan bagaimana cara mendapat data, mengolah data, dan mempresentasikannya. Kemudian bagaimana melakukan digitalisasi dan komunikasi internet. Adapun bahasa Inggris, agar para mahasiswa dapat mengakses referensi seluas mungkin termasuk yang berbahasa Inggris. Sementara muatan prodi berkaitan dengan pemantapan mahasiswa terhadap jurusan yang dipilihnya. “Kadang ada mahasiswa yang sampai semester akhir belum tahu fokus keahliannya, mereka yang penting lulus saja. Ada yang pindah jurusan. Nah, melalui muatan prodi ini kita arahkan dan yakinkan mereka dengan jurusannya,” tutur alumni magister Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Kemudian pola pengajaran yang diberikan dosen juga lebih kepada problem solving. Mahasiswa tidak hanya mendengar ceramah dosen, mereka akan langsung berpraktik apakah itu di laboratorium atau pengamatan di lapangan. “Jadi mahasiswa akan melakukan penyelesaian masalah melalui pengamatan,” kata dia.

Pola ini disempurnakan dengan model penilaian dan ujian yang diberikan. Di mana penilaian 70 persen berbasis pada proses bukan hasil. Sehingga keaktifan dan sikap dari mahasiswa menjadi penting. Setiap selesai satu materi langsung dilakukan ujian, dan apabila hasilnya kurang baik, mahasiswa dapat langsung memperbaikinya. “Ujian yang diberikanpun bagaimana mahasiswa dapat menampilkan keahliannya. Misalnya, soalnya berupa kasus tertentu, maka mahasiswa diminta membaca apa skenarioanya dan bagaimana strateginya. Dengan ini harapan kita lulusan ITN Malang berkualitas,” tutur pria yang juga ahli pengairan itu. (her/itnmalangnews.com)