Benny Hery Ritanto, Alumni Teknik Kimia Berkarir di Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Uni Emirat Arab

Benny Hery Ritanto, salah satu alumni Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang sukses berkarir di dunia internasional. Pembawaannya supel dan ramah, Benny biasa disapa menceriterakan pengalamannya hingga berhasil masuk ke perusahaan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) milik pemerintah Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sebagai Proses Chemist Supervisor, Technical and Engineering merupakan posisi yang saat ini dia emban.

Selaku trainer safety dan motivasi, kesehariannya Benny harus menghadapi banyak orang dari berbagai latar belakang. Bukan perkara yang mudah memang, selain penguasaan bahasa Inggris yang baik, ia juga harus bisa memahami orang dengan kepentingan yang beragam. Namun, ini dilalui dengan baik oleh Benny dan tidak dipungkiri bahwah aktivitasnya berorganisasi semasa kuliah membentuk karakter dan memberikan pengalaman tersendiri hingga berguna saat dia bekerja. Pada masa kuliah, alumni angkatan tahun 92 ini sempat berkarir di organisasi kemahasiswaan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (dulu ia mengambil konsentrasi Teknik Gula).

“Saya aktif organisasi saat kuliah, bukan kebangan tapi sebuah pengalaman yang cukup berkesan dan bermanfaat hingga terbawa sampai dunia kerja. Dulu saya “ngemong” menjembatani kepentingan institusi dan mahasiswa, mahasiswa dengan mahasiswa. Mahasiswa ada konflik saya menjadi penengah. Ibaratnya menjadi “sesepuh” kalangan mahasiswa di kampus,” ungkapnya, hal tersebut menjadikan ikatan batin yang kuat antara dirinya dengan kampus ITN Malang.

Selepas kuliah kisah pahit Benny dimulai, menurutnya masa kelulusannya diwarnai dengan era reformasi. Saat kondisi ekonomi Indonesia sempat turun dia kesulitan mendapatkan pekerjaan. Yang bisa dia lakukan adalah wirausaha, dan sempat berganti pekerjaan di beberapa perusahaan antara lain , perusahaan pemrosesan makanan, mikro chemical, serta oil and gas nasional. “Semenjak lulus saya fakum tidak punya pekerjaan hampir satu tahun sekitar tahun 1997-1998. Sempat pula memegang tanggungjawab di perusaan dengan bahan kimia di bagian pengolahan,” katanya kepada humas ITN saat berkunjung ke kampus II ITN Malang akhir bulan Juli 2018 yang lalu.

Dari tanggungjawabnya terakhirnya tersebut alhasil Benny memperoleh bekal untuk berangkat ke luar negeri. Apalagi kala itu sedang booming middle east dengan harga minyaknya sampai 150 us dollar perbarrel. Pria asal Nganjuk ini sempat berpindah perusahaan dua kali hingga akhirnya melabuhkan dedikasinya di ADNOC hingga sekarang.

Selaku Proses Chemist Supervisor, Technical and Engineering, Benny tidak lupa kepada ITN Malang dimana dulu dia kuliah. Menurutnya Indonesia saat ini dalam masa transisi antara pembangunan fisik dan pembangunan mentality yang juga merupakan salah satu dari nawa cita presiden Joko Widodo. ITN mempunyai calon-calon pemimpin masa depan yang bisa memimpin dari lingkup perusahaan kecil, nasional bahkan internasional.

“Ini (kunjungan) sebagai pengabdian pribadi dan terimakasih saya kepada almamater, karena saya mempunyai misi membangkitkan rasa nasionalisme, spirit kebangsaan untuk membangun Indonesia ke depan,” katanya bersemangat. Dalam kunjungan ke ITN Malang tersebut ada beberapa agenda yang sudah dan akan dilakukan, sepertu kuliah tamu, kunjungan ke kelas, berdiskusi dengan dosen masalah nasionalisme, iptek dan perkembangannya, serta ilmu pengetahuan.

Ada hal menarik yang disampaikan oleh Benny khususnya untuk mahasiswa ITN Malang. Menurutnya kampus is not task tower, setinggi apapun kampus, dan secangih apapun kampus, kampus tidak bisa memberikan apa yang kita mau. Semuanya kembali kepada inner mentality individu, bagaimana kita memanfaatkan kampus untuk pengembangan dan sarana memotivasi diri, yang semua kembali ke pribadi masing-masing.

“Maka kampus dituntut untuk selalu berkembang agar bisa mengikuti kemajuan jaman dan teknologi. Antara pihak kampus, dosen, orang tua mahasiswa, pemerintah daerah-pusat sampai tingkatan internasional harus bersinergi tidak bisa parsial untuk membangun manusia dan kehidupan,” tegasnya.

Dan diakhir ceritanya Benny mengatakan, saat ini Indonesia mempunyai agenda besar di bidang oil and gas. Proyek gas abadi akan segera dibangun dengan kapasitasnya mengalahkan ‘Middle-East’ (Timur Tengah) di perairan Arafuru, Ambon. “Ini sudah on progress, dan masih banyak lagi proyek-proyek pembangunan. Bidang ilmu dan teknologi sendiri benar-benar membutuhkan tenaga kerja. Saya yakin kampus seperti ITN ini sangat dibutuhkan, dan cerah masa depannya untuk menciptakan generasi-generasi penurus di bidang teknokrat,” pungkasnya dengan yakin. (me/humas)