Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

Segarnya buah nanas tidak hanya disukai oleh manusia, namun ternyata juga disukai oleh hewan. Tetapi jangan salah, nanas yang dimakan hewan ini bukan nanas segar layaknya yang kita konsumsi, namun merupakan fermentasi dari limbah nanas. Limbah nanas yang terdiri dari kulit dan buah nanas yang rusak dari pasar, ampas perasan daging buah dari pabrik, maupun sortiran buah dari petani biasanya hanya dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah limbah ini bisa menjadi pakan ternak bagi hewan ruminansia (hewan pemamah biak).

Dari tangan mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang produk makanan ternak tersebut berhasil diwujudkan. “Kebetulan rumah saya dekat dengan pasar, dan saya melihat buah nanas yang tidak terpakai dibuang begitu saja,” kata Muhammad Syaiku Nada mahasiswa Teknik Mesin S-1 saat ditemui di kampus II ITN Malang awal bulan Agustus 2018 lalu.

Syaiku biasa disapa Bersama empat kawannya yakni, Imam Dwi Handayani Rohman, Muhammad Rizky Pratama, Luthfi Caesar Ardianto, Abdurrohman Eko Saputra, M. Rizky Pratama, berhasil mengolah limbah nanas menjadi makanan ternak. Bahkan produk ini diklaim bisa bersaing dengan rumput gajah serta produk lainnya.

Untuk memproduksi mereka mendekati para petani buah nanas di Desa Sidorejo, Kecamatan Pongkok, Blitar. Di desa ini juga banyak dijumpai peternak sapi maupun kambing. Awalnya memang tidak mudah produk diterima peternak, para mahasiswa ini harus door to door, turun langsung untuk ke Gabungan Kelompok Tani Desa Sidorejo untuk sosialisasi.

“Kandungan serat buah nanas tinggi, jadi memungkinkan menjadi pengganti rumput sebagai makanan pokok ternak seperti kambing, sapi maupun kerbau. Sedangkan di Desa Sidorejo terdapat banyak perkebunan nanas, yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” tambah mahasiswa asal Blitar ini.

Diberinama “Ombun Kamsa”, makanan ternak ini memiliki keunggulan karena mengandung sumber energi, sumber mineral dan seratnya yang relatif tinggi sehingga mampu menggantikan porsi serat dan konsentrat pada konsumsi pakan ternak pedaging.

 

Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

 

Menurut Syaiku, cara membuat Ombun Kamsa yang harus diperhatikan adalah komposisi dari bahan. Awalnya limbah nanas dipilih yang baik kemudian dicacah memakai mesin pencacah rumput, kemudian dicampur dengan dedak dan air. Dengan perbandingan 55% limbah buah nanas, 20% dedak, 3% suplemen cair, garam 7%, 5% gula serta air 10%.

“Saat mencampur suplemen, garam, dan gula tidak boleh mengunakan bahan logam. Ini karena suplemen mengandung bakteri kalau menggunakan bahan logam nanti cepat rusak. Setelah 3-50 menit baru dicampurkan ke campuran nanas,” beber mahasiswa semester 6 ini.

Pencampuran dilakukan dua kali. Pertama campukan dedak dan cacahan nanas baru kemudian dicampur dengan campuran suplemen. Pakan ternak ini belum bisa dikonsumsi langsung. Perlu didiamkan/difermentasi sekitar 4-7 hari baru bisa dikonsumsi oleh ternak.

Ombun Kamsa sendiri dikemas dengan karung plastik. Untuk kemasan besar seberat 50 kg dihargai 90 ribu rupiah, kemasan sedang 25 kg, dihargai 45 ribu rupiah sedangkan 23 ribu rupiah untuk kemasan kecil seberat 210 kg.

Dengan pemanfaatan pembuatan pakam ternak ini diharapkan bisa mengurangi jumlah limbah buah nanas, memajukan perekonomian petani, dan memudahkan peternak dalam kesulitan mendapatkan rumput di musim kemarau. Dan bagi mahasiswa akan menumbuhkan karakter sebagai calon entrepreneur masa depan. (me/humas)