Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

Sebagai negara khatulistiwa, buah-buahan di Indonesia ada yang berbuah sepanjang musim namun juga ada yang berbuah musiman. Kendala buah musiman inilah yang sering dialami khususnya petani buah naga di Kabupaten Banyuwangi. Biasanya buah naga yang dipanen di luar musim akan lebih sedikit dengan kualitas yang buruk, bahkan sering pula petani gagal panen.

Tapi petani buah naga Banyuwangi punya cara sendiri untuk mengatasinya. Di luar musim buah naga, petani akan menerangi kebunnya saat malam hari. “Karena di luar musim buah naga tidak berbuah. Untuk memancing agar buah naga berbunga dan berfotosintesis di malam hari maka perlu penerangan,” ungkap Prasetio Rudiarsono, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, saat ditemui di kampus II awal bulan Agustus 2018 lalu.

Tio biasa disapa bersama dua rekannya Kholifatin Aini Rahman, dan Dini Aprilia Mulyawati, memanfaatkan solar cell untuk membantu para petani buah naga di Banyuwangi. “Kami memberikan solusi ke petani dengan memanfaatkan ‘renewable energy’ dengan menggunakan tenaga surya untuk menghidupkan lampu LAD. Dengan begitu petani akan lebih berhemat,” papar mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Pengamatan Tio kepada lingkungan tempat tinggalnya di Banyuwangi memang jeli. Biasanya petani menerangi kebunnya di malam hari dengan lampu CFL (Lampu fluoresen padat) yang bersumber dari listrik PLN. Hal ini membuat petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi.

“Biayanya lebih tinggi kalau pakai listrik PLN. Sedangkan kalau memakai lampu LAD (Light Emitting Diode / produk diode pancaran cahaya) yang bersumber dari tenaga surya akan lebih hemat energi. Soalnya LAD 10,5 watt setara dengan 17 watt lampu CFL,” bebernya.

Bagaimana tidak, menurut Tio biasanya petani menghabiskan rata-rata empat jam selama dua bulan untuk menerangi kebunnya dimalam hari. Lama penyinaran bergantung lama penyinaran pada siang hari. Proses ini menghabiskan dana sekitar 600 ribu rupiah perbulan dengan memakai listrik dari PLN. Namun dengan pemanfaatan solar cell maka meski mahal di awal manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga jatuhnya lebih hemat.

Sebagai uji coba, ke tiga mahasiswa Teknik Elektro S-1 Konsentrasi Energi Listrik ini telah memasang dua panel solar cell, masing-masing 100 WP, di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Solar Cell ini mampu menerangi 200 pohon buah naga di lahan 1/8 ha dengan menggunakan 16 lampu. Satu lampu bisa menyinari 2-4 pohon.

 

Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

 

Diluar musim panen buah naga, lampu-lampu tersebut akan menerangi pohon buah naga kurang lebih dua bulan mulai pohon buah naga belum berbunga hingga panen. “Penyinaran sampai pohon berbunga kurang lebih 20 hari. Kalau pohon yang belum pernah disinari sama sekali bisa sekitar 50 hari sampai berbunga,” ujar mahasiswa semester akhir ini.

Cara kerjanya solar cell juga cukup mudah. Prosesnya dari panel surya yang dikonfersikan dari cahaya matahari ke DC. “Cara menghidupkan lampu pakai timer digital. Akan dihidupkan dan dimatikan jam berapa pun bisa,” sambung Iva sapaan Kholifatin Aini Rahman. (mer/humas)