Miliki Perda Cagar Budaya, TACB dari ITN Malang Turun Sosialisasi

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Ir. Budi Fathony, MTA., mengatakan, Kota Malang memiliki bangunan sejarah yang bernilai tinggi. Upaya p elestarian terhadap heritage ini harus diimbangi dengan edukasi, baik dengan pendidikan sejarah maupun dengan sosialisasi. Sepanjang bulan Juli-Agustus 2018 kemarin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang sudah mulai melakukan sosialisai ke beberapa kecamatan.

Menurut dosen Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini, sosialisasi tersebut salah satunya menyangkut penetapan Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya menjadi Perda No 1 yang dicatat oleh Pemerintah Daerah Kota Malang Tahun 2018. “Perda ini harus ditindaklanjuti, yakni dengan sosialisasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, komunitas pecinta cagar budaya, komunitas sejarah Malang, dan beberapa komunitas lokal lainnya,” terang anggota TACB Kota Malang ini.

Kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, lanjut Budi, karena melalui kecamatan diharapkan masing-masing warga bisa mengerti dan memahami mengenai kriteria bangunan cagar budaya. Untuk membantu masyarakat maka pemerintah akan melakukan pendampingan, sehingga masyarakat bisa ikut dalam menjaga dan melestarikan cagar budaya.

“Bangunan cagar budaya ada yang kepemilikannya oleh warga. Dengan pelestarian ini, nantinya akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat, seperti kuliner, benda-benda kerajinan khas Malang, wilayahnya bisa dijadikan tempat edukasi dan traveling,” imbuhnya. Kota Malang yang memiliki beragam destinasi wisata heritage sangat diminati wisatawan asing maupun lokal.

Budi melanjutkan, kerja pemerintah tidak sampai berhenti pada sosialisasi saja. Bagi pemilik bangunan yang dikategorikan cagar budaya akan ada semacam penghargaan, bisa berkaitan dengan pajak, perawatan bangunan dan lainnya. Begitupun kalau bangunan tersebut dibongkar maka pemilik bisa dikenakan sangsi.

 

Miliki Perda Cagar Budaya, TACB dari ITN Malang Turun Sosialisasi

Miliki Perda Cagar Budaya, TACB dari ITN Malang Turun Sosialisasi

 

Tidak sembarang bangunan tua dikategorikan bangunan cagar budaya. Ada kriteria khusus yang sudah ditetapkan seperti, bangunan sudah berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

“Yang paling banyak bangunan cagar budaya ada di wilayah Kecamatan Klojen, karena relatif dekat dengan kawasan jalan Ijen, Kayutangan, sampai pasar Klojen, hingga alun-alun kota. Hampir 90 persen cagar budaya Kota Malang ada di wilayah ini,” katanya.

Budi menekankan, pelestarian heritage ini bukan bermaksud melindungi karya penjajah, namun sebagai upaya melindungi warisan bangsa. “Dari situlah kita bisa belajar mengenai arsitektur, tentang karakter Kota Malang lintas sejarah. Semua perlu dilindungi dengan Peraturan Daerah,” pungkasnya. (mer/humas)