Penjual Jilbab dalam Bidikan Kamera Mahasiswa ITN Malang Membawa Prestasi

Foto pedagang dengan latar belakang manekin berjilbab menarik perhatian juri dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2018, tanggal 25-26 Agustus yang lalu. Fotografi kategori hitam putih inilah yang membawa Dhony Ari Setiya, anggota UKM Fotografi Mahasiswa Teknik (Format), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, berhasil membawa pulang trofi juara harapan II. Gelaran ini diselenggarakan oleh Universitas PGRI Ronggolawe Tuban, bekerjasama dengan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Jawa Timur.

Mahasiswa Teknik Industri ini mengambil foto jurnalistik dengan pendekatan street photography. Dhony biasa disapa, berusaha menangkap moment-moment yang terkadang hanya fotografer yang bisa menagkap dan merasakan sendiri emosinya. Street photography sendiri mengabadikan moment sehari-hari yang terlihat apa adanya dan tanpa rekayasa. “Foto yang saya ambil ini menceriterakan seorang pedagang jilbab di kawasan makan Sunan Bonang, di Tuban, Jawa Timur,” terang Dhony saat ditemui, Sabtu (1/09/18).

 

Penjual Jilbab dalam Bidikan Kamera Mahasiswa ITN Malang Membawa Prestasi

Penjual Jilbab dalam Bidikan Kamera Mahasiswa ITN Malang Membawa Prestasi

 

Bidikan kamera Dony secara candid (diam-diam) bersaing dengan 80 foto dari universitas se-Jawa Timur dalam kategori foto berwarna maupun hitam putih. Foto Dhony pun harus bisa mengambil hati tim juri dari Antara foto, Jawa Pos, dan komunitas fotografi Semen Indonesia. “Satu orang ketentuannya hanya boleh mengumpulkan satu foto, dan kebetulan dari ITN hanya saya yang mewakili,” tambah mahasiswa asli Malang ini.

Bukan kali pertama Dhony berprestasi dalam lomba fotografi. Mahasiswa semester lima ini sebelumnya pernah menjadi juara tiga dalam kategori yang sama (street photography) yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya tahun 2017, dan menjadi salah satu foto terbaik kategori foto produk yang diselenggarakan oleh toko online shopping “blanja.com” di tahun yang sama.

“Memang perlu jam terbang yang tinggi untuk menghasilkan foto yang lebih bagus. Itu tantangan bagi saya agar selanjutnya bisa lebih baik dalam menghasilkan foto,” katanya. (mer/humas)