Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

Bisa dibayangkan, ketika petani kunyit sebelum menjual hasil kunyitnya harus merajang kunyit dengan pasrah (sejenis alat perajang), kemudian dikeringkan. Pastinya membutuhkan waktu dan tenaga tidak sedikit, mengingat banyaknya kunyit yang harus dirajang serta lamanya proses pengeringan. Sebenarnya bisa saja petani menjual hasil panen kunyit dalam kondisi basah tanpa pengolahan, namun tentu saja harganya jauh lebih murah dibandingkan melalui proses pengolahan.

Hal inilah yang kemudian mendasari dua dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang membuat mesin perajang kunyit dan oven pengering kunyit. Ir. Basuki Widodo, MT., dan Dr. Eko Yohanes Setyawan, ST.,MT., dosen Teknik Mesin S-1, tergerak untuk membantu para petani Dusun Wates, Kecamatan Slaung, Kabupaten Ponorogo. “Kalau dahulu petani merajang kunyit dengan pasrah, sekarang sudah makin efisien dengan mesin perajang ini. Juga untuk mengeringkan tidak terkendala cuaca dan bisa memangkas waktu pengeringan,” ujar Dr. Eko Yohanes Setyawan, ST.,MT., saat ditemui di ruang humas, Jumat (12/10/18) yang lalu.

Alat perajang kunyit ini sangat efisien digunakan. Menurut Yohane biasa ia disapa, dengan alat perajang kunyit maka akan mempersingkat waktu pemotongan kunyit, sangat aman untuk digunakan, lebih ringkas, memiliki pisau yang dapat diganti dan diasah, bisa diatur ketebalannya dan bisa berpindah tempat dengan mudah. “Biasanya perlu berjam-jam untuk merajang kunyit dengan pasrah, tapi sekarang petani bisa merajang kunyit 2 kg permenit,” lanjutnya.

Keunggulan teknologi tepat guna dari mesin pemotong kunyit ini menggunakan bahan stenlis stell yang keras dan berkualitas, sehingga aman bagi produk bahan makanan. Menggunakan motor penggerak berbahan bakar bensin 2,5 PK, serta mempunyai kapasitas merajang kunyit 2 kg permenit, sehingga perhari petani mampu mencacah 120 kg. Perbedaan mesin ini dibanding yang lain adalah mesin karya dosen ITN memiliki dua tempat untuk memasukkan kunyit. Satu tempat berada di atas, satunya lagi berada di sisi samping bagian bawah. Kelebihannya kedua tempat itu memiliki fungsi yang berbeda.

“Kami sesuaikan dengan kebutuhan petani. Soalnya ada petani yang menginginkan potongan acak, dan ada juga yang menginginkan potongan besar-besar, makanya kami buat dua versi. Kalau menginginkan memotong secara vertikal atau horisontal dan besar-besar bisa memasukkan kunyit dari samping. Sedangkan kunyit yang kecil-kecil bisa dari atas, yang menghasilkan potongan acak,” jelas Yohanes sambil menunjukkan video proses pemotongan kunyit.

Untuk melengkapi proses pengeringan kunyit, maka dosen ITN Malang ini juga membuat terobosan baru, yaitu membuat oven sebagai alat pengering kunyit. Bila selama ini untuk mengeringkan kunyit di bawah sinar matahari membutuhkan waktu yang lama kurang lebih 5 hari, maka dengan oven pengering ini hanya membutuhkan waktu maksimal 2 jam. Oven berdimensi 100 x 100 x 200 cm ini mampu menampung 5-8 kg kunyit basah, sedangkan satu kali pengeringan dengan 7 kg kunyit basah bisa menghasilkan 1 kg kunyit kering.

“Kunyit dalam keadaan kering akan lebih lama waktu simpannya. Selain itu oven ini juga higienis, mempercepat proses pengeringan serta bisa meningkatkan nilai jugal, karena harga kunyit kering lebih tinggi. Harga kunyit basah saat ini sekitar 2.500/kg, tapi kalau kering mencapai 21.000/kg,” ungkap alumni doktoral Universitas Sumatra Utara ini.

Sistem kerja pengering, kunyit terlebih dahulu diletakkan pada tray, dan diatur agar merata. Buka valve aliran bahan bakar yang akan menyalakan api pada kompor dan atur kecepatan blower, solenoid dan valve berfungsi sebagai control suhu yang diinginkan yaitu 500-550C. Ketika start-up solenoid bekerja dengan mengalirkan gas yang berasal dari LPG, dan menyalakan api pada kompor yang sudah dibuka sebelumnya. Gas akan bersinggungan dengan pemantik api pada kompor, sehingga api terus menyala sampai tercapai suhu yang telah di set-up pada control panel.

Material yang digunakan ST 37 untuk rangka konstruksi, sedangkan penutup bagian dalam menggunakan stainless steel, untuk penutup bagian luar cover menggunakan material hot rolled steel sheet. Pengering kunyit ini memiliki kontruksi yang lebih efektif dan efisien dengan hasil maksimal agar tidak terkontaminasi oleh debu dan bakteri lainnya yang menempel pada kunyit yang menjadikan kunyit lebih mudah busuk karena jamuran.

 

Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

 

Blower yang terpasang pada oven pengering kunyit ini merupakan rancangan khusus, gunanya untuk mempercepat pengeringan. “Kalau oven biasa kadar airnya masih di dalam dan tidak bisa ke luar oven, sehingga kalau temperaturnya turun maka kadar airnya bisa kembali ke dalam kunyit. Ini berbeda kalau oven kita pasang blower, maka dengan bantuan blower dapat mengeluarkan kandungan air yang ada di dalam oven sehingga tidak kembali diserap oleh kunyit setelah selesai proses pengeringan,” beber dosen asli Pare Kediri ini.

Oven dan perajang kunyit ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemesristek Dikti pendanaan tahun 2018. Petani kunyit merasa terbantu dan sangat mengapresiasi mesin buatan dosen ITN Malang. “Setelah ada program ini kenaikan keuntungan petani kunyit sebesar 23 persen,” tutupnya. (mer/humas)