Raih IPK Tertinggi pada Wisuda ke-60 Inilah Sosok Mahasiswa Teknik Kimia ITN Malang Asal Gowa

Dinobatkan menjadi wisudawan terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dengan nilai IPK tertinggi tidak disangka sebelumnya oleh Nur Aulia Hamzah. Apalagi saat Bupati Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan datang langsung menghadiri prosesi Wisuda ke-60 Periode II Tahun 2018, di kampus II ITN Malang, pada Sabtu (29/10/18) yang lalu. Pasalnya Aulia biasa disapa merupakan mahasiswa asal Gowa yang kuliah dengan program beasiswa “Investasi Manusia Seperempat Abad” Pemkab. Gowa.

Peraih predikat cum laude, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3.95 ini merupakan anak dari pasangan Hamzah dan Arniati Amir. Meskipun ayahnya bekerja di Departemen Agama Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, namun program beasiswa Pemerintah Gowa tidak membedakan latar belakang. “Tidak ada syarat khusus latar belakang pekerjaan keluarga. Asalkan bisa lolos tes serta memenuhi syarat, maka semua anak Gowa bisa mendapatkan beasiswa ini,” terang Aulia saat ditemui pada September 2018 lalu.

Mahasiswa berparas cantik ini menceriterakan ketertarikannya pada proses produksi suatu pabrik, sehingga ia memutuskan untuk memilih kuliah di Teknik Kimia S-1 ITN. Tidak jauh-jauh dari soal pabrik, pada tugas akhirnya pula ia mengangkat judul ‘Butadiene dari N-Butane dengan Proses Dehydrogenasi Houdry Kapasitas 50.000 Ton/Tahun’. “Saya tertarik melihat proses pabrik dari mentah sampai jadi. Sehingga untuk skripsi, saya juga mengangkat pembuatan Butadiene dari N-Butane, memakai Houdry kapasitan 50.000 ton/tahun,” jelasnya.

 

 

Aulia menuturkan, industri polimer saat ini sedang berkembang, jadi dalam tugas akhirnya ia merancang membuat pabrik Butadiena di kawasan Cilegon, Banten. Dengan pertimbangan dekat dengan bahan baku, SDM memadai, serta infrastruktur dan pelabuhan yang dekat dengan lokasi pabrik. “Selama ini bahan baku pembuatan plastik masih minim dan sebagian besar impor. Oleh karena itu saya memilih skripsi dengan tema ini. Kalau untuk Cilegon, saya pilih karena untuk mendekati bahan baku,” kata anak semata wayang ini.

Mahasiswa yang dulunya aktif dalam organisasi daerah Sumatera Selatan ini ternyata juga aktif menjadi asisten laboratorium. Membagi waktu antara banyaknya tugas dan kesibukannya di laboratorium tidaklah mudah. Menurutnya kekompakan satu angkatanlah yang membuat mahasiswa Teknik Kimia banyak menuai prestasi dalam bidang akademik. “Kami seangkatan kompak, saling membantu. Kalau tugas-tugas biasanya saya kerjakan di lab. saat senggang. Karena memang jadwal di lab. padat. Saya harus membantu mengerjakan banyak riset di situ (lab.),” ujarnya. (me/humas)