ITN Malang Sulap Bakalan Krajan Benar-benar Menjadi Bakalan Kreatif

Masyarakat Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Malang, kini punya produk yang bisa diunggulkan. Industri kreatif ini lahir atas polesan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang lewat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) “Penguatan Kreatifitas Usaha Kecil Menengah (UKM) Seni Pahat Kayu dan Daur Ulang Limbah Kertas Berbasis Pengawet Alami”. Sejak tahun 2017 yang lalu di bawah pendampingan ITN Malang, Bakalan Krajan menjadi Kampung Tematik, sedangkan desainnya sendiri dimulai saat dihelat Lomba Kampung Tematik “Festival Rancang Malang” di tahun 2016.

Gagasan kreatif ini mendapat apresiasi dari Grace Maranatha, tim monitoring dan evaluasi (monev) Kementerian Riset dan Teknologi (Ristekdikti). Menurut Grace biasa disapa, ITN Malang sangat inovatif dalam mendorong warga Bakalan Krajan untuk mengembangkan kreatifitasnya. Apalagi setelah nantinya menjadi kampung wisata tentunya akan semakin meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. “Dari kegiatan ini (Kampung Tematik) warga mendapat banyak manfaat, dan itu yang kami harapkan. Bisa meningkatkan perekonomian tentunya,” kata Grace, tim Ristekdikti dari Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT, yang merasa senang karena disambut dengan tarian kuda lumping pada pertengahan bulan Oktober 2018 yang lalu.

Dihadiri oleh puluhan warga dari RT 04 RW 02 Kelurahan Bakalan Krajan, tim monev Ristekdikti disambut oleh tim khusus dengan pakaian kostum rampak. Hal ini tidak asing lagi, karena Bakalan Krajan mempunyai kesenian khas kuda lumping. Disamping itu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITN Malang juga mendorong warga untuk mengembangkan kerajinan tangan.

 

ITN Malang Sulap Bakalan Krajan Benar-benar Menjadi Bakalan Kreatif

ITN Malang Sulap Bakalan Krajan Benar-benar Menjadi Bakalan Kreatif

 

“LPPM ITN Malang mendorong warga untuk mengembangkan industri kreatif. Mereka dilatih untuk membuat kerajinan tangan seperti tas talikur, layang-layang, lukisan dari bahan dasar koran bekas, seni pahat untuk peralatan kesenian jaran kepang dan beberapa kerajinan tangan lainnya,” ujar Siswi Astuti M.Pd., selaku pendamping mitra PKM dari ITN Malang.

Selain memberikan pendampingan, ITN Malang juga membantu memberikan peralatan berupa oven pengering material kayu yang telah diukir dan dicat. Sebelum ada oven warga untuk mengeringkan material tersebut memakai bantuan sinar matahari selama 4 jam. Oven ini sangat membantu karena proses pengeringan selesai hanya dalam waktu setengah jam.

“Kami dampingi dengan membantu memberikan peralatan seperti peralatan ukir, akar tuba yaitu pengawet alami dari daerah Pujon, untuk mematikan serangga rayap di kayu hasil buatan mereka,” ungkap dosen Teknik Kimia ITN ini.

Dari hasil karya warga seperti rampak barong sekarang bisa dijual dengan harga 4 juta rupiah. Seperti yang diutarakan oleh Muhammad Ikhwanto, Ketua RW 2, Kelurahan Bakalan Krajan. Kedepannya warga akan mengaplikasikan ajaran tim ITN Malang untuk membuat topeng dari limbah kertas. Dengan program ini karya warganya yang dulunya kreatifitasnya monoton sekarang lebih variatif.

Sementara itu Suko Kurniawan, Lurah Bakalan Krajan juga merasa bangga atas kreatifitas warganya. “Skill mereka (warga) sekarang bertambah, selain mengangkat nilai-nilai budaya, dalam bidang ekonomi juga terangkat. Masing-masing RW mempunyai potensi, ini bisa mengangkat nama baik kelurahan,” katanya.

Tim dari ITN Malang sendiri selain Siswi Astuti M.Pd., dan Endah Kusuma S.Si, MKes dari LPPM, juga dibantu oleh Tjitjik Sri Wardhani M.Pd, dari Seni Rupa Universitas Malang (UM). (mer/humas)