Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

Tim U.A.R.T. (Uber Allies Roboplane Team) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang turut terjun ke medan laga pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) Nasional 2018 di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Lampung, selama enam hari mulai Senin (5/11/2018). Tim yang terdiri dari 5 mahasiswa ini berangkat ke Lampung pada Sabtu (3/11/2018) yang lalu dengan mengemban target juara. Selama mengikuti KRTI tiga kali berturut-turut Tim ITN Malang selalu lolos masuk babak lomba.

Manager tim, Dicky Tectona Sidha mengungkapkan perbaikan dan peningkatan performa robot terbang terus dilakukan. Mengacu dari evaluasi dua tahun sebelumnya, maka untuk lomba kali ini lebih mementingkan kestabilan dan keselamatan dari robot. Untuk menyelesaikan robot, butuh satu bulan pengerjaan dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

“Untuk antisipasi kecelakaan kami sudah menyiapkan bahan cadangan dan alat-alat penyelamat kecelakaan. Waktunya memang singkat untuk pengerjaan, karena pengumuman dari Dikti juga mendadak. Saat kami membuat robot harus sesuai dengan regulasi terbaru,” ujar Dicky, kala ditemui di sekertariat Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) S-1, sebelum bertolak ke Lampung.

Ada empat divisi lomba pada KRTI tahun ini, di antaranya adalah Racing Plane (RP), Fixed Wing (FW), Vertical Take-Off and Landing (VTOL), dan Technology Development (TD). Masuk dalam 24 besar dari 56 tim seluruh Indonesia, U.A.R.T. terjun dalam divisi Racing Plane (RP).

“Dari empat kelas tersebut kami selalu optimis dan cocok untuk mengikuti Racing Plane, seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk kali ini tema dari Racing Plane adalah ‘Fast and On Track’ (cepat dan aktif). Dimana yang cepat sampai tujuan dialah yang menjadi juara,” papar alumni SMK Negeri 2 Jiwan Madiun ini.
Untuk menghadapi lomba Tim U.A.R.T. sudah mempersiapkan diri dengan latihan selama sembilan hari di Pantai Rambut Siwi Jembrana Bali. “Kami memerlukan tempat yang luas, dan Pantai Rambut Siwi cocok, karena tempatnya masih sepi pengunjung,” imbuhnya, berharap tim ITN mampu membawa nama baik almamater.

Asroful Anam, ST.,MT., dosen pembimbing robot terbang mengatakan, tim robot terbang berupaya untuk tidak keluar dari regulasi Dikti. “Setiap tahunnya ITN Malang mengikuti divisi yang sama, ini memudahkan evaluasi dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Hal-hal teknik yang tidak dikehendaki bisa diantisipasi, seperti arah angin yang mempengaruhi take off dan sebagainya,” terang dosen asal Malang ini.

 

Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

 

‘Support’ dari institusi dan yayasan P2PUTN menjadi bekal tersendiri bagi tim. Asroful berharap dengan dukungan positif tersebut tim robot terbang ITN Malang lebih semangat dan tidak grogi dalam menghadapi peserta dari kampus besar lainnya. “Kami beserta tim berterimakasih kepada institusi ITN beserta yayasan, karena mereka telah men-‘support’ sehingga kami bisa berpartisipasi dalam lomba ini,” tambahnya.

Robot terbang ITN Malang terbang dalam kendali pilot Ilya Nur hidayat, dan Siti Umami Purnamasari sebagai co-pilot, serta didukung oleh tim mekanik Andreas Kelvin Teyseran, dan Dava Atalarik Muhammad. (mer/humas)