Mahasiswa ITN Malang Ajak Difabel Rayakan HDI di Jantung Kota Malang

Puluhan anak difabel begitu bersemangat saat mengikuti perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di jantung Kota Malang. Rata-rata usia mereka berkisar antara 2 sampai 21 tahun, dan datang dari berbagai wilayah di Kota Malang. Hari Disabilitas Internasional sebelumnya jatuh pada tanggal 3 Desember 2018 lalu, namun menurut panitia dari Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) D-3 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pelaksanaannya baru digelar hari ini, Minggu (16/12/18).

“Sebenarnya ada 248 anak difabel di bawah asuhan paguyuban Lentera Kasih. Hari ini kami hanya mengundang 70 anak saja, khusus anak-anak yang bisa melakukan aktivitas di luar, karena kalau kondisinya parah tidak memungkinkan mereka datang ke sini (alun-alun kota),” terang Alifia Yesi Fanita, ketua pelaksana dari HMTI D-3 ITN Malang.

Ke 70 anak difabel ini tentu saja antusias serta gembira, selain bisa bertemu dengan banyak teman mereka juga mendapat hadiah pin dari HMTI D-3 ITN, serta masing-masing mendapatkan hadiah ‘door prize’ dari panitia. Mengusung tema ‘Share the Happiness’, perayaan Hari Disabilitas Internasional ini diinisiasi bersama oleh HMTI D-3 ITN Malang, Paguyuban Lentera Kasih, dan Komunitas Bakti Luhur. Acara hari ini juga dihadiri oleh Camat Blimbing Kota Malang.

 

Mahasiswa ITN Malang Ajak Difabel Rayakan HDI di Jantung Kota Malang

Mahasiswa ITN Malang Ajak Difabel Rayakan HDI di Jantung Kota Malang

 

Menurut Yesi biasa disapa, jarang-jarang anak-anak difabel bisa mengikuti kegiatan di luar. Selama ini kebanyakan mereka hanya mengadakan acara di sekitar lingkungan rumah masing-masing. Perayaan HDI kali ini juga menampilkan bakat yang luar biasa dari para difabel dalam keterbatasannya. Mereka membaca puisi, menyanyi bersama yang diiringi musik akustik mahasiswa Teknik Industri D-3 ITN.

“Dengan berbagi kebahagiaan ini kami berharap masyarakat luas lebih meningkatkan kepedulian dan tidak memandang sebelah mata kepada anak-anak difabel. Harapannya difabel, mereka (difabel) lebih semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari walaupun memiliki keterbatasan,” tutup Yesi. (mer/humas)