Doa Lintas Agama, Santunan Anak Yatim, dan Pembagian Hadiah Warnai Tasyakuran Dies Natalis ke-50 Tahun ITN Malang

Puncak acara dies natalis Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ke-50 ditandai dengan tasyakuran, doa lintas agama, serta santunan kepada anak yatim, Sabtu (5/1/19). Bertempat di halaman rektorat kampus I ITN Malang, para tokoh agama dari lima agama yakni, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha bergantian memimpin dan memanjatkan doa untuk kejayaan ITN Malang. Sedangkan sebagai rasa syukur, santunan diberikan kepada 73 anak yatim dari Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo, Tasikmadu, Lowokwaru, Kota Malang.

Rektor ITN Malang, Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT., dalam kesempatan yang sama juga menyerahkan hadiah kepada pemenang dari berbagai lomba yang digelar untuk memeriahkan dies natalis ke-50 tahun ITN Malang. Sebagai informasi sebelum acara puncak, sudah digelar terlebih dahulu lomba batik, stand up comedy, serta band competition.

“Rangkaian acara menyambut dies natalis ini memberikan citra dan informasi kepada masyarakat tentang semua kegiatan di ITN Malang. Ada kegiatan kulikuler (akademik) dan kokulikuler (non akademik). Kulikuler seperti seminar untuk pemantapan bagi dosen dan mahasiswa, sedangkan kokulikuler seperti kegiatan lomba yang memberikan refreshing bagi karyawan dan mahasiswa. Seperti lomba band, stand up comedy, lomba batik, nanti juga ada pagelaran wayang kulit,” beber rektor.

 

Doa Lintas Agama, Santunan Anak Yatim, dan Pembagian Hadiah Warnai Tasyakuran Dies Natalis ke-50 Tahun ITN Malang

Doa Lintas Agama, Santunan Anak Yatim, dan Pembagian Hadiah Warnai Tasyakuran Dies Natalis ke-50 Tahun ITN Malang

 

Dari lomba tersebut ITN Malang berupaya mendorong mahasiswanya untuk lebih berkembang, tidak hanya dalam hal akademik namun juga potensi seni. “Walau ITN merupakan kampus teknik, namun alumni ITN tidak harus bekerja di perusahaan, tapi juga bisa merambah ke dunia entertainment menjadi pelaku seni. Seperti halnya Arie Kering yang juga lulusan PWK ITN Malang sekarang sukses menjadi komedian,” imbuh Lalu.

Menyinggung soal lomba motif batik, rektor asal Lombok ini berharap hasil karya pemenang selanjutnya bisa diimplementasikan kepada masyarakat. Batik dengan motif candi ini bisa diindustrikan untuk mendorong enterpreneur baru. “Motif candi tersebut penuh filosofi, karena dilatarbelakangi oleh sejarah. Nantinya semoga bisa diimplementasikan kepada masyarakat dan pengembang,” pungkasnya. (mer/humas)