Kreatif, Wisudawan Terbaik Teknik Informatika ITN Malang Buat Website Jadwal Majelis

Selama ini jamaah sholawat selalu kesulitan dalam mencari event majelis terdekat beserta lokasinya. Kesulitan ini makin dirasakan oleh jamaah yang baru kali pertama datang ke sebuah daerah. Kerepotan ini pula yang dihadapi Wilda Ariffatul Faisalnur, wisudawan terbaik Teknik Informatika S-1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang saat memutuskan kuliah di Malang. Hingga akhirnya Wilda berinisiatif membuat website khusus pencarian majelis sholawat. Website yang diberi nama Info Majelis ini berisi jadwal majelis dilengkap dengan fitur waktu pelaksanaan, penampilan rute terdekat, serta kegiatan majelis dengan jarak paling dekat dengan lokasi user. Website Info Majelis bisa diakses melalui laman https://jadwalmajelis.com/.

“Saya hobinya mengikuti majelis sholawat, dan sering kesulitan mendapatkan jadwal majelis terdekat yang akan digelar, serta alamat dan rute lokasi. Selama ini biasanya jadwal majelis yang akan datang selalu diumumkan diakhir kegiatan, atau di-sahre di media sosial tapi belum lengkap dengan rutenya. Padahal di Jawa Timur data dari Kemenag (Kementerian Agama) ada lebih dari ribuan majelis,” kata salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda ITN Malang ke-61 Periode I Tahun 2019 ini.

Secara detail dalam Info Majelis bisa ditemukan berbagai informasi menarik mulai jadwal acara, pengisi acara/ustad, profil ulama, profil majelis, koleksi kitab sampai dengan rute lokasi acara. “Website ini merekomendasikan kepada kita, majelis yang terdekat dari posisi kita (rumah). Misalnya ada beberapa majelis, maka kita bisa memilih dan setelah di klik akan keluar rute google map lokasi majelis,” beber Wilda, yang rencananya akan mengembangkan ke aplikasi tapi masih terkendala karena sistem di play store berbayar.

Meskipun awalnya Wilda tidak ada niatan untuk kuliah dan lebih tertarik bekerja selepas sekolah. Atas desakan sang ibu akhirnya ia pun kuliah di ITN Malang. Putra dari Ibu Zubaidah ini melewati proses perkuliahannya bukan tanpa kendala. Pernah saat semester 5, Wilda membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk biaya kuliah. Karena terkendala dana maka ia harus merelakan sepeda motor satu-satunya untuk dijual. “Sepeda buat wira-wiri Blitar-Malang, ya akhirnya nge-bus. Saat itu dana yang dibutuhkan 6 juta rupiah, dan alhamdulillah motor saya laku pas 6 juta rupiah,” kenangnya.

 

Kreativ, Wisudawan Terbaik Teknik Informatika ITN Malang Buat Website Jadwal Majelis

Kreativ, Wisudawan Terbaik Teknik Informatika ITN Malang Buat Website Jadwal Majelis

 

Kepiawaiannya membuat website, membuat Wilda sebelum wisuda sudah dilirik oleh salah satu perusahaan di Surabaya. Kesempatan emas ini tidak ia disia-siakan. “Saya mendapat tanggung jawab untuk membuat e-commerce perusahaan (penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau jaringan komputer lainnya),” pungkas pemilik IPK 3,85 ini. (mer/humas)




Karya Mahasiswa ITN Malang Bantu UMKM Dodol Apel

Sebagai kota wisata, Malang terkenal juga akan penghasil buah Apel. Selain bisa dinikmati dalam bentuk buah segar, apel bisa diolah menjadi minuman dan camilan. Salah satu camilan terkenalnya adalah dodol apel. Tidak sedikit UMKM yang membuat camilan dodol apel ini, sepertihalnya UMKM yang berada di Desa Bumiaji, Kota Batu. Umumnya UMKM ini masih menggunakan alat manual dalam pengolahannya, seperti wajan dan pengaduk dengan menggunakan tenaga manusia. Tentunya akan memakan tenaga dan waktu yang tidak sedikit bila masih menggunakan cara-cara manual tersebut.

Melihat problem tersebut, Ajie Pangestu Sukirno, mahasiswa Teknik Industri D-3, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang merancang alat pengaduk dodol semi otomatis. “Tujuannya memang untuk membantu UMKM agar lebih efektif dalam produksi,” terang Ajie. Dari karyanya inilah Pria kelahiran bekasi 21 tahun silam ini akhirnya dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda ITN Malang ke-61 Tahun 2019 yang lalu, dengan IPK 3.65.

Alat pengaduk dodol otomatis ini berbentuk kubus, yang dibuat dengan memperhitungkan segi antropometri. Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh manusia, seperti mengukur tinggi bahu, tinggi siku, saat duduk atau berdiri. “Ketinggian alat disesuaikan dengan tinggi manusia, jadi saat operator mengangkat wajan dan memasukkan adonan tidak merasa cepat lelah,” tutur alumni SMA Negeri 1 Tambun Selatan ini.

Agar wajan tidak bergeser, Ajie juga menambahkan pengaman/pengunci wajan. Selain itu, di bawah wajan diberi ruangan khusus untuk meletakkan kompor sebagai pemanas. Keunggulan alat ini ada pada mixer sebagai pengaduk yang bisa dipasang dan dilepas saat akan dibersihkan.

 

Karya Mahasiswa ITN Malang Bantu UMKM Dodol Apel

Ajie Pangestu Sukirno

 

“Saya juga menambahkan mixer sebagai pengaduk, dimana kecepatan mixer-nya juga bisa diatur sesuai kebutuhan. Dengan menggunakan alat ini mengolah dodol akan lebih efisien, karena hanya membutuhkan waktu produksi 4,5 jam, sedangkan kalau manual bisa sampai 6 jam,” pungkas anak pasangan Sukirno dan Mardiana ini. (me/humas)




Ibra Moch. Isdes, Mantan Asisten Penelitian Dosen jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Kuliah di Teknik Kimia tidak melulu berkutat dengan rumus-rumus kimia. Bagi Ibra Moch. Isdes, belajar di Teknik Kimia Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang merupakan pengalaman luar biasa. Tidak hanya belajar tentang keteknikan kimia saja, tapi juga mengenai wirausaha dengan membuat produk sendiri. Tentunya bekal penelitian yang memadai bisa menghasilkan produk yang unik, bagus, serta bermanfaat.

“Saya membuat minuman mix fruit and vegetable. Minuman ini terbuat dari dari bayam merah, kacang merah, buah bit, dan jambu biji merah,” terang Ibra. Minuman hasil karyanya ini merupakan hasil penelitian sebagai syarat mengajukan tugas akhir.

Pria kelahiran Blitar 22 tahun yang lalu ini menceriterakan cara membuat minuman instan. Awalnya bahan baku seperti bayam merah dan nuah bit setelah dipotong dadu di-blancing agar warnanya tidak hilang. Kacang merah direbus, jambu dipotong dadu, kemudian semua bahan diblender jadi satu dan diambil sarinya. Air sari tersebut ditambahkan filer (sukrosa dan tween 80) kemudian di-mixer sampai berbusa.

Busa ini nantinya yang digunakan sebagai bahan serbuk instan. Caranya, busa diletakkan di atas loyang beralaskan kertas roti, lalu dioven selama 6 jam dengan suhu rendah 65 derajat. Setelah kering kemudian diblender sampai menjadi bubuk halus dan diayak. “Nah, jadilah serbuk instan, yang tinggal diseduh untuk dikonsumsi,” bebernya.

Menurut Ibra, minuman serbuk instan yang kaya zat besi ini banyak manfaatnya. Khususnya bagi penderita anemia dan disminor (delepen) bagi wanita. Karena mengandung zat besi dan kalsium, juga vitamin C tinggi. Selain warnanya menarik, rasanya juga manis dan segar. Produk ini juga sudah diuji cobakan pada 25 wanita penderita disminor dan sangat membantu meredakan sakit.

Sebenarnya bukan hal asing lagi bagi Ibra dalam hal penelitian. Selama kuliah di Teknik Kimia, putra dari ibu Siti Musyafaroh ini sudah sering ikut penelitian dosen. Antara lain penelitian bioetanol dari alga merah dan spirulina, produk makanan dan kosmetik dari spirulina, serta pembudidayaan spirulina. “Ini, saya sebagai asisten penelitian dari almarhumah Prof.Ir. Tri Poespowati, MT,” ujarnya.

 

Ibra Moch. Isdes, Mantan Asisten Penelitian Dosen jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Ibra Moch. Isdes, Mantan Asisten Penelitian Dosen jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

 

Sedangkan skripsinya sendiri, Ibra membuat pra rencana pabrik dengan judul: ‘Pra Rencana Pabrik Etilen Dibromida dari Etilen dan Brom dengan Proses Brominasi’, berlokasi di Cikande, Banten. Lokasi dipilih untuk memudahkan transportasi bahan baku etilen dari PT Chandra Asri dan impor brom dari India. Pabrik ini juga rencananya menghasilkan produksi dengan kapasitas 50 ribu per ton/ tahun. Etilen Dibromida sendiri merupakan bahan kimia untuk campuran pembuatan lilin, pewarna pada cat, resin, dan anti knocking.

Hasil jerih payahnya selama 3,5 tahun pun terbayar sudah dengan Ibra menjadi wisudawan terbaik ITN Malang pada Wisuda ke-61 Periode I Tahun 2019, dengan IPK 3,86. (me/humas)




Kisah Anak Petani yang Lolos Bidikmisi dan Nyambi Driver Ojol Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Dari Malang Selatan, tepatnya Kecamatan Donomulyo, Febri Setiawan dilahirkan. Besar dalam keluarga petani, anak ketiga dari pasangan Kemat dan Sriami ini tak disangka menjadi salah satu wisudawan terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Mengingat, lulusan dari Teknik Sipil S-1 ini awalnya terkendala biaya untuk melanjutkan kuliah. Bagaimana tidak, orang tuanya hanya bekerja sebagai petani, apa lagi sang ibu pernah mengatakan hanya bisa membiayai anak-anaknya sampai tingkat SMA.

Melihat kondisi keluarganya, Febri tidak tinggal diam. Ia bertekat terus kuliah, caranya adalah dengan mencari beasiswa. Perjuangan Febri pun tidak sia-sia, akhirnya ia mendapatkan beasiswa Bidikmisi Kemenristekdikti. Namun, ternyata kedua orang tuanya masih mengkhawatirkan tentang beasiswa tersebut. “Waktu itu orang tua ragu dengan Bidikmisi, mereka khawatir masih harus mengeluarkan uang lagi. Akhirnya saya jelaskan kalau tidak perlu biaya. Di dalam verifikasi Bidikmisi pun juga dijelaskan bahwa tidak mengeluarkan uang, baru mereka percaya,” ujar Febri.

Febri menjadi salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda ITN Malang ke-61 Periode I, Tahun 2019 yang lalu dengan IPK 3,83. Pantas Febri mendapatkan Bidikmisi, karena dalam menempuh pendidikan di ITN Malang selama 3,5 tahun, pria usia 22 tahun ini menorehkan banyak prestasi. Diantaranya, lolos PKM dan didanai Dikti pada tahun 2016, serta dua kali masuk 10 besar finalis lomba kuat tekan beton tingkat nasional kompetisi beton inovasi di Surabaya.

Mendapat beasiswa Bidikmisi tidak menjamin semua keperluan Febri tercukupi. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan uang saku, Febri membantu menjadi asisten laboratorium dan asisten dosen. Beberapa proyek juga dia ikuti salah satunya adalah renovasi GOR di Lombok Barat sebagai asisten perencanaan struktur. Ini bagi Febri sekaligus pengaplikasian ilmu yang didapat ke dalam dunia konstruksi. Bahkan yang terbaru adalah sebagai pengawas pembangunan Transmart Malang. “Untuk GOR di Lombok ada lima orang mahasiswa sipil ITN Malang yang ikut membantu, dan saya di dalamnya. Saya ikut membantu menghitung strukturnya, bagaimana agar aman terhadap gempa,” terang alumni SMK Muhammadiyah 06 Donomulyo ini.

Tidak sampai di situ saja. Hidup di keluarga sederhana membuat Febri tidak malu melakoni pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang keteknikannya. Menjadi drivel ojek online (Ojol) dilakukannya. Pekerjaan ini ia jalani setelah kegiatannya di himpunan mulai jarang, mengingat Febri selama ini juga aktif mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS). Bahkan dia beberapa kali dipercaya sebagai ketua panitia beberapa kegiatan. “Tapi tetap saya prioritaskan kuliah. Kalau menariknya (penumpang) dekat kampus lebih enak, jadi bisa wira wiri ke kampus,” tututnya.

 

Kisah Anak Petani yang Lolos Bidikmisi dan Nyambi Driver Ojol Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

Kisah Anak Petani yang Lolos Bidikmisi dan Nyambi Driver Ojol Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang

 

Akhirnya Febri berhasil lulus dengan karya skripsinya yang berjudul ‘Perencanaan Struktur atas Swiss Bell Hotel Darmo Surabaya dengan sistem Ganda Rangka Pemikul Momen dan Dinding Geser Khusus’. “Saya menggunakan sistem rangka pikul moment dan dinding geser khusus, ini untuk menahan gaya lateral akibat gempa. Surabaya tanahnya tanah lunak, jadi harus perhitungkan juga dalam membuat struktur bangunan yang tahan gempa,” bebernya yang mempunyai cita-cita ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 dengan beasiswa LPDP ini. (mer/humas)




Alumni Arsitektur ITN Malang Masuk dalam 100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings

Karya biro arsitek ‘Onino.co’ (Onino Architect) masuk ke dalam daftar buku “100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings”, yang dirilis oleh Imaji Books Publishing. Buku setebal 560 halaman ini diluncurkan di Jakarta pada Rabu 23 Januari 2019 dan dihadiri ratusan arsitek dari seluruh Indonesia. Publikasi tersebut mendapat respon positif sekaligus membahagiakan bagi para arsitek, pasalnya buku ini mendokumentasikan 143 biro arsitektur yang ada di Indonesia.

Ir. Haris Wibisono pendiri biro arsitek ‘Onino.co’ menyatakan, buku ini menjadi pengakuan dalam proses berkarya bagi biro dan arsitek. “Merasa ada pengakuan terhadap proses berkarya kami selama ini. Apa lagi Onino bisa ikut perpartisipasi di dalam buku tersebut. Ini menunjukkan arsitek dari Malang bisa sejajar dalam satu buku
dengan arsitek dari berbagai kota di Indonesia. Malang tidak ketinggalan dari kota lain (arsitek),” terang Nino akrab ia disapa, saat ditemui di kediamannya sekaligus menjadi sebagai studio Onino, di Perumahan Griya Shanta D 337, Kota Malang, Rabu (30/01/18).

Menurut alumni Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang angkatan 97 ini, pihak IMAJI Publishing dan Imelda Akmal Architectural Writer (IAAW) Studio (pemrakarsa ide) tidak menyebutkan kriteria khusus untuk bisa masuk dalam buku tersebut. Onino terjaring berdasarkan undangan, kemudian diseleksi dan dikurasi oleh penerbit. “Tentunya tetap melalui pencarian dan penjajakan versi Imaji. Imelda (pendiri IAAW Studio) memang konsen dalam kepenulisan buku mengenai arsitektur,” ujar Nino.
Ada empat karya Onino dalam buku “100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings”. Mengisi buku halaman 302 karya tersebut antara lain, Gedung Veteran (LVRI) Kota Batu, Kantor Pabrik Nivea PT Beiersdorf Singosari, Masjid Algifari Kota Malang, dan rumah Alvin di Kota Malang.

 

Alumni Arsitektur ITN Malang Masuk dalam 100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings

Alumni Arsitektur ITN Malang Masuk dalam 100+ Indonesian Architecture Firms & Emergings

 

Nino menbeberkan, dengan hadirnya buku tersebut mampu menjadi benchmark perkembangan arsitektur Indonesia sampai saat ini. Mengutip pengantar dari Imaji, kehadiran buku ini dapat menjadi kesempatan bagi asosiasi profesi arsitek di Indonesia untuk turut mendata dan menjangkau para praktisi guna memiliki lisensi agar profesi arsitek dan arsitektur di Indonesia semakin berkembang.

“Harapkan mampu memunculkan profil tentang arsitek Indonesia (dalam buku), serta menjadi publikasi dan dokumentasi terhadap gambaran perkembangan arsitektur dan profesinya di Indonesia saat ini. Buku ini layak dipublikasikan secara internasional,” pungkasnya. (mer/humas)




Mobil Hemat Energi ITN Malang Mengaspal di KMHE 2018

Uber Alles Racing Team (U.A.R.T.) menambah daftar prestasi mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada penghujung tahun 2018. Berlaga pada Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2018 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Padang (UNP), pada 27 November hingga 01 Desember 2018, Tim Singo Kebo berhasil memposisikan diri pada urutan ke-7 dari 26 tim dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia.

Ada dua kategori yang diperlombakan pada KMHE kali ini, yakni kompetisi kelas Urban Concept dengan jenis bahan bakar gasoline, ethanol, diesel, serta motor listrik, dan kelas Prototype.

Sedangkan U.A.R.T., sendiri mengaspal pada kategori Urban Concept dengan bahan bakar gasoline. “Universitas lain yang lolos ke KMHE ada dari UB, UM, UMM dan Poltek. Tapi untuk kategori Urban Gasoline dari Malang hanya ITN,” ujar Wisnu Aribudiawan Rahman, manajer tim U.A.R.T.

Semua mobil dalam kompetisi tersebut menurut Wisnu harus melintasi sirkuit sepanjang 1 kilometer dengan satu kali race sebanyak delapan putaran. “Yang dinilai jarak tempuh dan konsumsi bahan bakar,” imbuh mahasiswa Teknik Sipil S-1 ini.

U.A.R.T., diciptakan dengan irit bahan bakar. Untuk itu tidak hanya bahan baku dan desain yang sangat diperhatikan, namun juga didukung dengan riset dan latihan rutin. Sedangkan mobilnya sendiri sudah dipersiapkan sejak empat bulan yang lalu, mulai dari desain, pembuatan, hingga mempersiapkan driver dan performa tim.

“Yang berbeda dari tahun sebelumnya ada di body dan chassis (rangka). Kami menggunakan bahan yang ringan, sehingga lebih cepat dan irit. Komponen yang digunakan juga lebih simpel,” lanjut mahasiswa asal Lombok ini.

Prestasi yang diraih tentunya tetap membutuhkan evaluasi agar lebih baik lagi ke depannya. Menurut Wisnu, evaluasi yang bisa diambil dari KMHE 2018 yakni sebelum berangkat lomba tim harus sudah siap. Seleksi tim perlu lebih diperketat, ditambah dosen pembimbing harus lebih banyak dilibatkan selain dosen pendampingan. “Kami juga perlu adanya riset dan regerensi sejak dini. Dan tentunya dukungan institusi sangat kami harapkan, karena prestasi kami membawa nama institusi,” tutur Wisnu.

 

Mobil Hemat Energi ITN Malang Mengaspal di KMHE 2018

Mobil Hemat Energi ITN Malang Mengaspal di KMHE 2018

 

Sementara itu, Dr. Eko Yohanes Setyawan, ST.,MT., Dosen pendamping U.A.R.T., mengatakan U.A.R.T., mengalami kenaikan performa dari tahun-tahun sebelumnya. Yohanes juga berharap tiap tahun terus ada perbaikan prestasi dari tim U.A.R.T., ITN Malang dalam mengikuti KMHE.

Perlu diketahui Tim U.A.R.T., ITN Malang terdiri dari Wisnu Aribudiawan Rahman (manajer tim), Azwarm (driver), Sadam Sahari (cadangan), sedangkan mekanik Gunaryo Suseno, Sarifudin Rifqi, M Novel Rofiqi, serta Orfil Saputra Redehuru. (mer/humas)




Sabet Tujuh Medali, Taekwondo ITN Malang Buktikan Kemampuan di UM Cup IV se-Jawa Timur

Taekwondo ITN Malang kembali menorehkan prestasi. Melalui Universitas Malang / UM Cup IV 2018 se-Jawa, taekwondo ITN memborong tujuh medali, empat medali emas dan tiga perak. Hebatnya kejuaraan yang digelar di GOR Bimasakti 24–25 November 2018 lalu, mahasiswa baru angkatan 2018 berhasil menyumbang tiga medali. Mereka adalah Bernika Natasya Ifada juara satu Poomsae Tunggal Putri Senior Pemula, Suriadi juara satu Kyorugi Senior Pemula, dan Alvin Ahlunnizar juara dua Kyorugi Senior Pemula.

Menurut Tasya sapaan akrab Bernika Natasya Ifada, mereka harus bersaing dengan sekitar 800 peserta, sesuai dengan kelas masing-masing. Di Taekwondo Poomsae ia harus battle dengan anak usia SMA sesuai dengan berat dan warna sabuk. “Di Tunggal Putri Senior Pemula saya satu kali tanding. Sistemnya mengumpulkan poin, siapa tertinggi dia sebagai pemenang,” ujar pemegang medali emas ini.

 

Sabet Tujuh Medali, Taekwondo ITN Malang Buktikan Kemampuan di UM Cup IV se-Jawa Timur

Sabet Tujuh Medali, Taekwondo ITN Malang Buktikan Kemampuan di UM Cup IV se-Jawa Timur

 

Poomsae merupakan gerakan-gerakan kombinasi yang dirancang untuk berlatih tanpa instruktur, dengan menggunakan dasar kinerja yang tetap dari menyerang dan bertahan. Dari teknik Poomsae Tasya mengaku masih kesulitan dalam menerapkan Poomsae ‘Taegeuk’. Taegeuk ini biasanya diperuntukkan bagi para pemula. “Yang sulit menghafal pukulan, tangkisan, tendangan, semua harus bagus dan mempunyai power,” lanjut mahasiswa Teknik Geodesi ini.

Sementara itu pemegang medali emas dalam Kyorugi under 54 kg, Suriadi berhasil menang dari lawannya mahasiswa UMM, dengan mengumpulkan poin 30. Sedangkan Alvin Ahlunnizar harus puas diurutan kedua setelah kalah melawan mahasiswa UMM. Kekalahan Alvin seperti sudah bisa diprediksi, karena saat berlatih sebelum pertandingan ia sempat cedera kaki kiri. “Beberapa hari sebelumnya saat berlatih saya sempat cedera kaki kiri, jadi saat bertanding tidak maksimal. Hanya mampu mengumpulkan 7 poin, sedangkan lawan saya 28 poin,” ujarnya. (me/humas)




Masuk Lima Besar, Robot Terbang ITN Malang Satu-satunya Tim PTS di KRTI 2018

Tim U.A.R.T. (Uber Alles Roboplane Team) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menduduki urutan ke 5 divisi Racing Plane pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) Nasional 2018 di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Lampung, awal November 2018 yang lalu. ITN Malang Menjadi satu-satunya kampus swasta yang masuk ke lima besar setelah UGM, ITS, UB, dan UI.

Dicky Tektona Sidha manajer tim menceritakan perjuangan Tim U.A.R.T., selama kontes di Lampung. “Di race pertama kami langsung berhadapan dengan PENS dan Polinema,” tutur Dicky waktu ditemui di kampus II ITN Malang, Jumat (16/11/18).

Dari kontes race pertama ini tim besutan Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM S-1) berhasil mengalahkan Tim Earo PENS Surabaya dan Aruma Polinema. Lolos ke 16 besar, U.A.R.T. ITN kembali berhasil memetik perestasi dengan mengalahkan Tim Gonjong dari Universitas Andalas Padang (UNAND). Namun Tim U.A.R.T., harus puas berhenti pada perempat final saat berhadapan dengan Tim Aero Kreasi Univesitas Brawijaya (UB).

Menurut mahasiswa semester 7 ini ITN tidak kalah dalam hal SDM, namun lebih pada spesifikasi pesawat. Hal ini menjadi evaluasi tersendiri bagi Tim U.A.R.T. Kedepannya perlu ada evaluasi yang mendalam khususnya pada riset pesawat agar lebih efisien. Seiring berjalannya waktu sparepart yang digunakan tentu akan lebih canggih.

 

“Pertandingan cukup sengit karena Tim U.A.R.T. bisa bertanding dengan PTN dan tim besar se-Indonesia. Namun itu kami buat motivasi untuk mengalahkan. Kedepannya semoga prestasi dan skill dari tim robot terbang semakin berkembang,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Asroful Anam, ST.MT., dosen pendamping Tim U.A.R.T. Evaluasi akan terus dilakukan terhadap robot terbang, seperti desain pesawat, (aerodinamis), sistem electrical mechanical pesawat, dan kelengkapan sistem penangkal petir. “Tim juga harus memperbanyak pengetahuan yang berhubungan dengan sistem aeromodeiling, dengan begitu diharapkan tahun depan performa tim dan pesawat lebih mumpuni dan lebih siap bertanding,” tegasnya. (mer/humas)




Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

Tim U.A.R.T. (Uber Allies Roboplane Team) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang turut terjun ke medan laga pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) Nasional 2018 di Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Lampung, selama enam hari mulai Senin (5/11/2018). Tim yang terdiri dari 5 mahasiswa ini berangkat ke Lampung pada Sabtu (3/11/2018) yang lalu dengan mengemban target juara. Selama mengikuti KRTI tiga kali berturut-turut Tim ITN Malang selalu lolos masuk babak lomba.

Manager tim, Dicky Tectona Sidha mengungkapkan perbaikan dan peningkatan performa robot terbang terus dilakukan. Mengacu dari evaluasi dua tahun sebelumnya, maka untuk lomba kali ini lebih mementingkan kestabilan dan keselamatan dari robot. Untuk menyelesaikan robot, butuh satu bulan pengerjaan dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

“Untuk antisipasi kecelakaan kami sudah menyiapkan bahan cadangan dan alat-alat penyelamat kecelakaan. Waktunya memang singkat untuk pengerjaan, karena pengumuman dari Dikti juga mendadak. Saat kami membuat robot harus sesuai dengan regulasi terbaru,” ujar Dicky, kala ditemui di sekertariat Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) S-1, sebelum bertolak ke Lampung.

Ada empat divisi lomba pada KRTI tahun ini, di antaranya adalah Racing Plane (RP), Fixed Wing (FW), Vertical Take-Off and Landing (VTOL), dan Technology Development (TD). Masuk dalam 24 besar dari 56 tim seluruh Indonesia, U.A.R.T. terjun dalam divisi Racing Plane (RP).

“Dari empat kelas tersebut kami selalu optimis dan cocok untuk mengikuti Racing Plane, seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk kali ini tema dari Racing Plane adalah ‘Fast and On Track’ (cepat dan aktif). Dimana yang cepat sampai tujuan dialah yang menjadi juara,” papar alumni SMK Negeri 2 Jiwan Madiun ini.
Untuk menghadapi lomba Tim U.A.R.T. sudah mempersiapkan diri dengan latihan selama sembilan hari di Pantai Rambut Siwi Jembrana Bali. “Kami memerlukan tempat yang luas, dan Pantai Rambut Siwi cocok, karena tempatnya masih sepi pengunjung,” imbuhnya, berharap tim ITN mampu membawa nama baik almamater.

Asroful Anam, ST.,MT., dosen pembimbing robot terbang mengatakan, tim robot terbang berupaya untuk tidak keluar dari regulasi Dikti. “Setiap tahunnya ITN Malang mengikuti divisi yang sama, ini memudahkan evaluasi dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Hal-hal teknik yang tidak dikehendaki bisa diantisipasi, seperti arah angin yang mempengaruhi take off dan sebagainya,” terang dosen asal Malang ini.

 

Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

Robot Terbang ITN Malang Mengudara di Langit Lampung dalam KRTI 2018

 

‘Support’ dari institusi dan yayasan P2PUTN menjadi bekal tersendiri bagi tim. Asroful berharap dengan dukungan positif tersebut tim robot terbang ITN Malang lebih semangat dan tidak grogi dalam menghadapi peserta dari kampus besar lainnya. “Kami beserta tim berterimakasih kepada institusi ITN beserta yayasan, karena mereka telah men-‘support’ sehingga kami bisa berpartisipasi dalam lomba ini,” tambahnya.

Robot terbang ITN Malang terbang dalam kendali pilot Ilya Nur hidayat, dan Siti Umami Purnamasari sebagai co-pilot, serta didukung oleh tim mekanik Andreas Kelvin Teyseran, dan Dava Atalarik Muhammad. (mer/humas)




Raih Dua Silver Motivasi Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Tingkatkan Performa

Paduan Suara Mahasiswa “Vox Coeleistis Choir” (VCC), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang bersaing dengan 22 tim nasional di ajang Festival Paduan Suara Gita Buana Soedirman III (FPS GBS III) 2018, yang diselenggarakan di Universitas Sudirman, Purwokerto, pada 6-9 Oktober 2018 yang lalu. Mereka berhasil meraih dua medali silver dalam dua kategori yang diikuti.

VCC ITN mengikuti kategori Paduan Suara Dewasa dan Lagu Rakyat dari empat kategori yang dilombakan. ‘My delisht and thy delight’ menjadi lagu pilihan untuk kategori dewasa, sedangkan kategori rakyat mereka menyanyikan lagu Bubui Bulan dan lagu Pasigin dari Pilipina.

Baiq Husnul Khotimah ketua VCC mengatakan, kategori lagu dewasa kali ini VCC meraih nilai 7.67 sedangkan lagu rakyat mencapai 79.925. Padahal menurutnya untuk mendapatkan medali emas perlu nilai minimal 8. “Tim VCC disebut terakhir yang mendapatkan medali silver, setelah itu baru disebut untuk yang mendapatkan medali emas. Benar-benar menegangkan saat-saat itu,” ujarnya saat ditemui humas ITN beberapa waktu yang lalu.

Lebih jauh Baiq biasa disapa mengungkapkan, VCC memang menargetkan medali emas untuk kompetisi ini, namun selisih nilai tipis antara medali silver dan gold menjadi penyemangat bagi tim VCC untuk lebih baik lagi di tahun-tahun selanjutnya. “Nilai dan performa tim lebih baik dari bulan kemarin saat kompetisi di Kota Malang. Selanjutnya kami harus lebih fokus pada proyeksi suara, karena sebelumnya masih terfokus pada organisai internal,” ungkapnya.

Persiapan 6-7 bulan berlatih untuk menuju kompetisi ini bukanlah waktu yang singkat. Menurut mahasiswi asal Kalimantan Timur ini inst0ensitas untuk mendatangkan pelatih dari luar perlu ditingkatkan. Upaya ini dilakukan agar anggota tim mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman. “Sebenarnya sudah kami lakukan mendatangkan pelatih dari Surabaya yang terbiasa menjadi juri kompetisi paduan suara. Nanti bisa lebih diseringkan lagi, karena kemarin hanya tiga kali dibantu pelatih dari luar dan perubahannya sangat bagus pada tim. Meski konduktornya berbeda dalam proses berlatihnya, tapi intinya sama, sama-sama memperbaiki kualitas suara,” kata mahasiswi Teknik Sipil ini.

 

Raih Dua Silver Motivasi Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Tingkatkan Performa

Raih Dua Silver Motivasi Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Tingkatkan Performa

 

Hal ini disetujui oleh Ir. Eding Iskak Imananto, MT., dosen pendamping VCC ITN. Ia berharap tim VCC ITN Malang selalu meningkatkan prestasinya, karenanya itu porsi latihan juga perlu lebih ditingkatkan lagi. Bahkan tidak hanya saat menghadapi even lomba saja mendatangkan pelatih tamu. “Saya berharap dari paduan suara bisa menghasilkan prestasi terbaiknya. Untuk itu tidak hanya latihan rutin saja namun juga harus punya rasa memiliki kepada VCC, dengan begitu anggota akan bekerjasama memajukan paduan suatu ITN. Selama inipun institusi selalu men-support untuk kemajuan UKM,” kata dosen asli Lumajang ini. (mer/humas)