IF-Dorota Anggota Baru Tim Robot ITN Malang Merumput Perdana

Sebanyak tiga buah robot sepak bola Humanoid resmi melengkapi tim robot Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Bahkan sebagai perdana ketiga robot tersebut sudah merumput di Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 di Polinem, pada divisi KRSBI Humanoid (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Humanoid).

Sesuai namanya robot humanoid yang diberi nama “IF-Dorota” Informatika merupakan satu hadiah dari Tuhan. “Hadiah” inilah yang semakin mengeratkan komitmen mahasiswa Teknik Informatika S-1 ITN Malang untuk memberikan yang terbaik bagi institusi.

“Kata Dorota diambil dari bahasa Yunani kuno yang artinya satu hadiah dari Tuhan,” ujar Miko Andrianto sang empunya ide beserta tim IF Dorota saat ditemui di lab Robotika Teknik Industri, Sabtu (12/5).

Robot yang memiliki berat tiga kg dan tinggi 50 cm ini dikawal oleh tim yang solid. Terbagi dalam empat divisi yakni, mekanik, kamera, gerak dan hardware.

Seperti layaknya tim sepak bola, ketiga robot humanoid mempunyai fungsi masing-masing. Satu sebagai kiper, satu sebagai penyerang, kalau tidak berhasil bisa diganti dengan robot cadangan.

Menurut Andi Yan Rizaldi, ketua tim, dalam kompetisi bisa menerjunkan dengan dua robot dan maksimal lima robot. “Untuk cadangan minimal dua robot,” terang dia.

Kompetisi KRSB Humanoid Memakai lapangan beralas rumput sintetis dengan luas 6m × 9m. Luas lapangan ini mengacu kepada aturan kontes robot internasional dengan waktu bertanding 10 menit.

Teknis bertandingnya, robot akan mencari posisi bola. Kemudian mendekat ke bola dan mendeteksi gawang lawan. “Untuk mendeteksi gawang menggunakan sensor kompas yang dipasang pada robot. Akan dinyatakan menang berdasarkan banyaknya cetak gol,” tambah Andi.

Selama ini ITN Malang sudah memiliki empat tim robot yang selalu diikutkan dalam Kontes yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek dan Dikti. Robot-robot tersebut antara lain, Robot e-Sadewa V-6 pada Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), e-Krisna V-4 pada Kontes Robot Abu Robocon Indonesia (KRAI), Robor e-Pretiwi V-6 pada Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), dan Robot e-Bima V-2 pada Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Beroda (KRSBI Beroda).

Adi Suryo Sekretaris Program Studi Teknik Informatika S-1 mengatakan ITN Malang sebenarnya sudah mempunyai robot sepak bola humanoid sejak tahun kemarin. Namun karena masih dalam tahap persiapan maka baru bisa diikutkan kompetisi tahun 2018.

“Sudah dari tahun kemarin memiliki (robot himanoid), tapi baru tahun ini ikut kontes. Banyak yang harus dipersiapkan,” katanya saat mendampingi tim IF Dorota.

Menurut dosen asli Malang ini banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar tim robot ITN Malang bisa mendulang prestasi. “Prodi Teknik Informatika sangat mendukung kegiatan mahasiswa. Tentunya dengan Prodi-Prodi lain yang menaungi masing-masing tim robot ITN. Maka kedepannya perlu ada kolaborasi antar mahasiswa dan Prodi untuk membuat tim robot lebih baik lagi,” pungkasnya. (mer/humas)




Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Tim “The Engineer” Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menyabet juara tiga dalam Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB) di UK Petra Surabaya pada tanggal 4-6 Mei 2018. Bersaing dengan sekitar 60 tim se-Indonesia “The Engineer” juga mendapatkan penghargaan “Best University” di bidang yang sama. Ini dikarenakan dari enam tim yang dikirim, dua tim lolos final dan satu tim mendapat juara tiga.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim tersebut adalah Jandsem Madi, Reynhard Ghunu, dan Bagus Dwi Wibowo. Kompetisi LKTB se-Indonesia ini juga diikuti oleh perguruan tinggi dari Malang yaitu, UMM, Polinema, UM, dll.

“Best University juga didapat dari cabang LKTB, karena dari enam tim yang ikut lomba, dua tim masuk final, dan satu tim mendapat juara. Di Petra ini merupakan lomba terbesar nasional jadi saingannya ketat,” ujar Jandsem Madi saat ditemui di ruang humas ITN Malang, Selasa (8/5).

Pada babak penyisihan dua benda di uji setelah 28 hari dilakukan pengujian slump atau kekuatan beton. Benda uji tersebut berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. “Penilaiannya selain dari uji slump atau kuat tekan beton, juga dilihat dari biaya pembuatan, serta presentasi,” tambah mahasiswa asal NTT ini.

Meskipun Jandsem biasa disapa sudah kali kedua mengikuti ajang LKTB di UK Petra tetap saja tiap tahun ada tantangan yang berbeda. Melalui tema “Smarter, greener, optimize your green concrete” tim ITN ditantang untuk membuat beton ramah lingkungan yang mampu menjadi solusi bagi berbagai permasalahan lingkungan.

Menurut mahasiswa yang sedang menempuh skripsi tentang beton ini, sesuai tema mereka harus bisa membuat campuran beton dengan mengurangi campuran semen agar lebih ramah lingkungan. “Jadi semen dikurangi dan diganti dengan fly ash (abu terbang). Semua bahan sudah disiapkan oleh panitia,” katanya.

Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Bagus Dwi Wibowo menambahkan, fly ash merupakan limbah buang dari pembakaran batu bara yang biasanya digunakan di PLTU. “Limbah dari pembakaran batu bara ini mempunyai sifat seperti semen. Jadi pemakaian fly ash bisa mengurangi penggunaan semen dalam campuran beton,” paparnya.

Penggunaan fly ash selain harganya murah juga meminimkan paparan karbon dioksida saat mengaduk semen, dan menghindarkan banyaknya penghancuran batu kapur sebagai bahan baku semen. “Karena bahannya (fly ash) tidak bisa dibuat apa-apa selain untuk bahan bangunan,” kata Bagus.

Sekarang menurut mahasiswa asal Malang ini, untuk pembangunan kontruksi sudah mengarah menggunakan limbah batu bara meskipun masih terbatas. (mer/humas)




Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Fitra Rani Klida Afiani, pembawaannya yang ramah membuat siapa saja akan tertarik padanya. Tidak hanya cantik namun juga punya prestasi akademik yang istimewa. Sehingga tidak salah lagi kalau pemilik IPK 3.96 ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda ke-59 Periode I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Tahun 2018.

Lahir dari keluarga biasa dari pasangan Sukari dan Wakidah, Fitra biasa disapa merupakan sosok wanita yang tangguh. Untuk membantu orang tuanya, sejak sekolah di SMKN 5 Malang dia sudah bekerja dengan jualan online. “Bapak saya bekerja sebagai buruh pengrajin rotan, sedangkan ibu hanya ibu rumah tangga. Jadi saya bekerja untuk meringankan beban mereka,” ungkapnya.

Selama kuliah di Teknik Informatika S-1 ITN Malang, Fitra tidak hanya meneruskan jualan onlinenya namun juga bekerja di berbagai tempat. Diantaranya sebagai staf administrasi di Dinas Pendidikan Kota Malang, SPG HP, karyawan loundry, customer service di Ayam Bebek Goreng Nelongso, SPG sampai IT Support DNR Bazaar. Mengaku sudah merasakan manis getirnya bekerja, Fitra kadang mulai kerja dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi sedangkan keesokannya harus kuliah. “Sebenarnya 8 jam (kerja) tapi loyalitasnya saya menunggu teman-teman sampai selesai. Akhirnya sering mendapat teguran dari bapak,” imbuhnya yang hanya bekerja 2-3 bulan di pekerjaan ini.

Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Kuliah sambil bekerja mengharuskan Fitra untuk pandai-pandai membagi dan mengatur waktu. Belum lagi dia masih harus menjalankan kewajibannya sebagai instruktur Lab Data Base Sistem Informasi. “Saya seperti tidak ada waktu untuk belajar. Kuncinya sih yang penting fokus saat kuliah,” akunya.

Meskipun sibuk bekerja dan kuliah dara kelahiran Malang ini tidak lupa menorehkan penghargaan seperti ikut partisipan tim lolos tahap II Gemastik IX tahun 2016 dengan tema “LULU Smart Talking Pot”, dan partisipan tim PKM 5 lolos didanai Kemenristek Dikti tahun 2016.

Melengkapi prestasinya, dalam tugas akhir Fitra membuat aplikasi “Penerapan K-Means Clustering Untuk Mengetahui Varietas Padi Unggul Produksi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur”. Melalui aplikasinya ini Fitra berhasil membantu BPTP dalam mendukung pengambilan keputusan mengenai varietas unggul padi yang dapat didistribusikan ke petani.

“Selama ini data hanya berbentuk nota-nota, maka saya buatkan aplikasi agar bisa terkomputerisasi,” terangnya.

Aplikasi tersebut dilengkapi dengan menu antara lain, data padi, hasil pengelompokan, data distribusi, laporan,data user, dan menu riwayat. Terdapat pula informasi tanggal dan waktu saat ini yang tertera di bawah header menu. Semua menu memberikan informasi yang detail mengenai jenis padi.

“Meskipun sudah digunakan aplikasi ini masih perlu pengembangan lebih jauh. Nanti yang mengembangkan adalah adik-adik mahasiswa dari ITN Malang juga yang sekarang sedang magang di sana (BPTP),” pungkas dara yang sangat mengagumi sosok ayahnya ini. (mer/humas)




Teguh Adi Irawan, Bantu UKM Keripik Pisang Atasi Pemborosan Bahan Baku

Pemborosan bahan baku merupakan salah satu masalah yang dihadapi UKM. Meskipun analisa data sudah dilakukan, namun pemborosan tetap terjadi. Ini dikarenakan UKM masih menggunakan peramalan/perkiraan bahan baku dengan metode manual.

“Perkiraan seperti ini (manual) tidak standar, cenderung kurang tepat dan banyak mengakibatkan pemborosan (bahan baku),” terang Teguh Adi Irawan, wisudawan terbaik Teknik Industri S-1, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Teguh biasa disapa mengatakan, pengusaha masih menggunakan data-data masa lalu yang dianalisis secara random untuk meramalkan produksi masa datang. Perkiraan semacam ini mengakibatkan pemborosan bahan baku dan menjadi masalah yang terkadang tidak disadari oleh pengusaha.

Ia menemukan permasalahan tersebut pada UKM keripik pisang Sumber Rejeki Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Bahkan pemborosan bahan baku juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan suplier, bahan packaging yang kurang tepat, dan penyimpanan berlebihan di gudang. Hal tersebut mengakibatkan pemborosan bahan baku dan kerusakan karena lamanya masa penyimpanan.

Melihat fenomena tersebut mahasiswa kelahiran Bontang Kalimantan ini memberikan solusi dengan metode penghalusan eksponensial dan linier regresi yang diuji menggunakan pengujian moving range. Dari uji ini didapat pemborosan dan penyimpanan berlebih dengan selisih 123 pack produk.

“Metode ini meminimalisir tingkat penyimpangan inventory, agar tidak terjadi pemborosan bahan baku,” katanya.

Karena menurut Teguh, apabila terjadi pemborosan bahan baku maka akan menimbulkan biaya-biaya lain yang merugikan perusahaan. “Biasanya akan muncul biaya perawatan, barang kadaluarsa dan sebagainya. Jadi peramalan ini penting untuk tingkat inventory,” tegasnya.

Solusi dari masalah UKM inilah yang kemudian ia angkat menjadi tugas akhir dengan judul “Penerapan Uji Moving Range dalam Sistem Peramalan Persediaan Kebutuhan Bahan Baku di UKM Sumber Rejeki Malang”.

“Saya lebih memilih UKM karena di UKM permasalahan lebih banyak. Sehingga saya berharap bisa membantu memperbaiki dan meminimalisir permasalahn-permasalahan tersebut. Sedangkan di perusahana besar tingkat kesahannya lebih sedikit,” akunya.

Kegigihan dan semangatnya membantu UKM mengantarkan putra Bapak Sumbang Riady ini menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang dengan IPK 3,75. (mer/humas)




Wisudawan Terbaik Teknik Elektro, Tenangkan Bayi dengan Robot

Bagaimana robot bisa menenangkan bayi ? Jawabannya bisa ditanyakan pada wisudawan terbaik Teknik Elektro S-1, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, pada wisuda ke-59 periode 1.

Adalah Robi Maeza yang menciptakan robot ayunan bayi. Ide ini berawal dari kebutuhan para orang tua dalam menenangkan dan meninabobok buah hati. Apalagi bagi para orang tua khususnya ibu yang sibuk bekerja namun harus menggendong anaknya. Belum lagi adanya tangis bayi saat malam hari yang merisaukan orang tua. “Alat ini untuk membantu meringankan pekerjaan orang tua dalam menenangkan dan mengasuh bayi mereka,” katanya.

Cara menenangkan bayi dengan robot ayunan bayi sangat mudah. Ayunan akan maju mundur dengan sendirinya saat bayi menangis atau bergerak. “Gerakan mengayun tersebut akan aktif secara otomatis ketika bayi menangis atau bergerak,” lanjut pria kelahiran Pasuruan ini.

Gerakan bayi akan terintegrasi dengan sensor suara, sensor suhu dan sensor gerak MPU 6050. Robi Maeza meletakkan sensor suara dibagian atas ayunan dan sensor gerak di bagian bawah ayunan.

Robot ayunan untuk bayi

Robot ayunan untuk bayi

Lebih lanjut ia menjelaskan, sensor suara akan bekerja saat bayi menangis sehingga ayunan bergerak. “Ketika bayi bergerak inilah maka ayunan akan berayun,” tambah pemilik IPK 3.64 ini.

Sedangkan sensor suhu akan menggerakkan kipas angin yang terpasang di sisi samping atas ayunan. Ketika ruangan mencapai suhu 28 derajat celsius maka sensor akan aktif dan memutar kipas angin untuk mendinginkan bayi. Sehingga bayi berasa nyaman dan orang tua tidak perlu kerepotan mendinginkan bayi. “Semakin panan suhu ruangan maka kipas angin akan terus bergerak,” lanjutnya.

Anak dari pasangan Rusli Tassan dan Sri haryati ini mendesain ayunan yang disesuaikan dengan bobot bayi. Untuk menstabilkan ayunan maka dia menggunakan metode fuzzy logic. Robot ayunan bayi ini sudah mengalami beberapa perbaikan, karena sebelumnya pernah diikutkan Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) hingga mencapai tahap monev.

Bukan hal pertama bagi alumni SMKN 1 Grati ini berkutat dengan robot. Karena Robi juga aktif mengikuti komunitas robotik ITN Malang. Bahkan ia pernah menjadi ketua tim dan lolos Kontes Robot Indonesia Regional IV di UB tahun 2017 lalu. (mer/humas)




Awalnya Tidak Niat Kuliah Malah Menjadi Wisudawan Terbaik Teknik Mesin D-3

Mobilitas kaum difabel yang terbatas karena minimnya alat bantu transportasi menjadi keprihatinan tersendiri bagi Aditya Bagus Setiawan. Harga yang mahal dari modifikasi sepeda bermotor bakar (sepeda motor mesin) memperkuat alasan dia untuk membuat sepeda disabilitas berbasis elektrik. Karyanya ini kemudian dituangkan dalam skripsi yang berjudul “Perancangan Transmisi Sepeda Disabilitas Berbasis Elektrik”.

Lepas dari SMK Santo Yusuf Blitar, awalnya Adit sapaan akrab Aditya Bagus Setiawan enggan untuk kuliah. Ia sudah merasa nyaman bekerja di outsourcing kereta api pada bagian pemeriksan jalan dan jembatan. Namun saran orang tua dan dorongan dari saudara menggerakkan Adit untuk kuliah di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Siapa sangka dari hasil study dan karyanya membawa putra dari pasangan Nipto Juono dan Sriwidajati ini menjadi wisudawan terbaik Teknik Mesin D-3, Fakultas Teknologi Industri, ITN Malang pada Wisuda ke-59 Periode 1 Tahun 2018. Pemilik IPK 3,76 ini merancang dan membuat sepeda disabilitas elektrik dengan berbagai keunggulan.

“Sepeda ini lebih praktis, efisien, dan ramah lingkungan karena menggunakan penggerak motor listrik dan baterai sebagai sumber tenaga. Jadi tidak menghasilkan polusi udara,” jabar pemuda asal Blitar ini.

Memiliki satu roda di bagian depan, dan dua roda di bagian belakang. Sepeda difabel ini dilengkapi kemudi, tempat duduk, dan penggerak yang menunjang kegiatan sehari-hari seorang tunadaksa.

Sepeda disabilitas berbasis elektrik

Sepeda disabilitas berbasis elektrik

Sepeda disabilitas berbasis elektrik buatannya ini memakai motor DC. Motor DC sifatnya motoring, saat mendapatkan arus listrik dinamo akan berputar untuk memutarkan roda. Sekali isi jarak yang bisa ditempuh mencapaai 10-15 km.

Memakai kontruksi dari besi kotak setebal 2×2 cm, dengan ketebalan 2mm, motor elektrik difabel mempunyai berat sekitar 5-7 kg. Lebar kira-kira setengah meter dan panjang satu meter. Berat ini masih memungkinkan untuk dikendarai segala usia dengan bobot maksimal 110kg.

Untuk mempermudah pergerakan maka roda depan dan belakang menggunakan ukuran berbeda. Untuk roda belakang memakai roda sepeda federal, sedangkan yang depan memakai roda sepeda BMQ.

“Roda depan lebih kecil dari belakang. Ini agar daya gerak roda belakang lebih besar. Radius putaran juga lebih besar. Roda belakang dayanya dapat, dan karena roda depan lebih kecil maka handling lebih mudah digunakan. Model ini praktis karena bisa masuk di area-area terbatas, dan mudah digunakan,” paparnya.

Keuletan Adit dalam study tidak hanya terbukti menjadi salah satu lulusan terbaik ITN Malang. Menjelang kelulusannya ia sudah mengikuti beberapa seleksi penerimaan tenaga kerja, diantaranya United Tractors di Jakarta, Astra, General Electric. Bahkan untuk United Tractors sudah melewati tahap wawanacara tinggal menunggu hasil. “Tidak tahu nanti keterima dimana, yang penting sudah mencoba dan berusaha,” katanya. (mer/humas)




Tim Robot Terbang ITN Malang Berlaga di Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017

Pesawat Uber Alles Roboplane Team (U.A.R.T.) ITN Malang melayang di atas Lapangan Terbang Aeromodelling, Detasemen TNI AU Raci, Pasuruan, Jawa Timur. Ini merupakan kali kedua U.A.R.T. ITN Malang mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017 yang diselenggarakan oleh Belmawa Ristekdikti pada tanggal 16 s.d 21 Oktober 2017 di ITS Surabaya.

Tim U.A.R.T. harus merancang, membuat, dan menerbangkan pesawat tanpa awak untuk beradu dengan tim dari berbagai universitas di Indonesia dalam Divisi Racing Plane. Ada empat divisi yang diperlombakan di KRTI 2017 yaitu, Divisi Racing Plane (Fast and On Track), Divisi Fixed Wing (Monitoring dan Mapping Area Konstruksi), Divisi Vtol (Pick and Drop Survival Kits), dan Divisi Technology Development (Innovate UAV Technology).

“Kontes kali ini yang lolos seleksi tingkat nasional ada 74 tim untuk semua kelas, sedangkan Divisi Racing Plane lolos 24 tim termasuk dari Malang ada ITN Malang, Universitas Brawijaya, dan Politeknik Negeri Malang,” terang Kiki Darmawan ketua tim U.A.R.T. ITN Malang, Jumat (27/10).

Pesawat tanpa awak jenis Fixed Wing tipe Racer yang dikendalikan oleh Pilot Egie Hendra Jaya dan Kopilot Siti Umami Pernamasari memiliki jangkauan mesin kendali dan pesawat 2 km lebih. Berkecepatan 100km/jam U.A.R.T. buatan mahasiswa Teknik Mesin S-1 ini sempat mendapat best time di hari pertama kontes, dengan total waktu 55 detik untuk jarak tempuh 1km.

“Penilaian balapan ditentukan berdasarkan siapa yang lebih cepat mencapai finish. Menggunakan pengendali mandiri atau secara autonomous dan semi autonomous. Pas posisi di atas pesawat mengoptimalkan terbang secara autonomous,” ujar pilot yang juga mahasiswa semester lima tersebut.

Egie biasa disapa menceriterakan betapa sulitnya waktu lomba karena faktor cuaca. Ketidakpastian tekanan angin menyulitkan pilot dalam mendaratkan pesawat, bahkan baterai sampai habis karena harus berputar lagi sebelum landing. “Di race pertama saat pesawat akan landing tiba-tiba ada angin bertiup kencang, maka saya putar lagi sampai kehabisan baterai dan pesawat jatuh. Sempat hancur sih, syukurnya tetap dapat nilai dan dinyatakan lolos. Total dalam lomba ini pesawat kami empat kali jatuh,” imbuhnya.

Dengan berbagai kendala akhirnya U.A.R.T. lolos KRTI 201. Kesulitan dalam proses pembuatan sempat dialami oleh tim, seperti pemotongan gambar harus menggunakan mesin laser di Surabaya, servo motor harus inden karena didatangkan dari Taiwan. Bahkan oleh juri pesawat U.A.R.T. dikira membeli, karena pesawat paling rapi diantara yang lain.

“Kami covering pesawat memakai MonoKote jadi kelihatan halus menempel di badan pesawat. Untuk seterikanya juga seterika khusus yang kami pinjam dari alumni,” ungkap ketua tim.

Perjuangan Tim Robot Terbang ITN Malang belum usai. Di bawah dukungan pembimbing Arif Kurniawan ST.MT., Tim U.A.R.T. yang terdiri dari Kiki Darmawan (Ketua Tim),  Egie Hendra Jaya (Pilot), Siti Umami Pernamasari (kopilot),  Aswar Hakim, Ananda Putra, dan Andreas Kelfin T. (Tim Mekanik), berharap menjadi terbaik dan meraih prestasi dikontes selanjutnya. (mer/humas)




ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang

10 medali sekaligus dipersembahkan oleh UKM Taekwondo kepada ITN Malang dari kejuaraan Taekwondo antar pelajar dan mahasiswa Kota Malang. Bertempat di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 1 Oktober lalu, Taekwondo ITN Malang membawa pulang dua emas, dua perak dan enam perunggu.

Yang menarik dari tim Taekwondo ITN Malang dalam kejuaraan ini adalah keikutsertaan Nicolas Alnando. Ia merupakan mahasiswa baru Teknik Geodesi semester satu. Baru satu bulan ia dinobatkan sebagai mahasiswa ITN Malang dan bergabung di UKM Taekwondo namun berhasil memyabet emas dari kejuaraan tersebut.

Hebatnya mahasiswa asli Kalimantan Timur ini baru kali pertama menggikuti pertandingan. Meskipun awalnya takut karena belum pernah punya pengalaman bertanding. “Ini merupakan kejuaraan pertama saya, meskipun awalnya ragu dan takut bertanding,” ungkapnya polos.

Kepiawaiannya bertanding sebenarnya sudah terasah sejak sekolah. Sebelum masuk ITN selama dua tahun ia menekuni Muay Thai, seni beladiri yang berorientasi olahraga dengan teknik sarat pukulan, tendangan, siku dan serangan lutut. “Saya juga pernah satu tahun belajar Taekwondo,” katanya saat bertemu di kantor humas ITN Malang, Sabtu (14/10).

ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang 1

ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang 

Perpindahan dari awalnya menekuni Muay Thai kemudian mempelajari Taekwondo turut mempengaruhi gerakan-gerakan Nicolas. Ia mengungkapkan kesulitannya saat harus mengontrol gerakan tangan, padahal beladiri asal Korea ini lebih mengandalkan tendangan/kaki. “Kalau di Muay Thai semua badan harus digerakkan, sedangkan di Taekwondo fokusnya di kaki. Jadi sering kontrol tangan lepas begitu saja,” ungkapnya.

Kontrol tangan yang sesing lepas ini ternyata terbawa juga pada kejuaraan Taekwondo mahasiswa se-Malang. Saat bertanding melawan UIN ia sempat memukul lawan, padahal 20 poin sudah terkumpul dan sedikit lagi menuju kemenagan. “Khawatir juga sih, tapi sukurnya hanya diberi peringatan saja dari wasit,” aku mahasiswa yang mengikuti kejuaraan kelas U-58 Senior Putra ini sambil tersenyum.

Peraih medali emas lainnya adalah Imam Dharma Aji di kelas U-61 Senior Putra. Medali perak dipersembahkan oleh Fernando Juniantar Saputra N.T, dan Piter Budi Raharjo. Sedangkan medari perunggu masing-masih diperoleh oleh, Mario Alves Pereira, Andana H Lempow, M Alfan A Darmawan, Ahmad Ridwan, Fitransah Ibrahim dan Reza Gulam Zulfikar. (mer/humas)




Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri

Menghadapi Asian Games 2018 berbagai daerah mempersiapkan diri merekrut dan melatih atlit-atlitnya dalam berbagai kejuaraan. Tak terkecuali Kota Malang turut ambil bagian, salah satunya dalam cabang beladiri Taekwondo dengan mengikutsertakan atlitnya dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) 2017, di GOR Joyoboyo Kediri, 5-6 Oktober lalu.

Dari 30 atlit Kota Malang yang ikut bertanding terdapat Amri Mahardika Pujana mahasiswa ITN Malang yang berhasil menyabet medali perunggu di kelas U-54 Senior Putra. Berlaga dengan atlet Taekwondo dari 20 kabupaten dan kota se-Jatim membuat mahasiswa asli Kalimantan Tengah ini harus berhadapan dengan atlit pelatnas asal Lumajang. “Kejuaraan ini untuk merekrut atlit yang akan dikirim ke Asean Games nanti, makanya di sana kami bertemu dengan atlit-atlit nasional,” jelasnya saat berkunjung ke humas, Sabtu (14/10). 

Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri 2

Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri 

Saat berhadapan dengan atlit pelatnas tersebut ia akhirnya tumbang dan memperoleh medali perunggu. Akhirnya atlit pelatnas itu mendapat medali emas dan berhak menuju Asian Games, sedangkan perak diraih oleh atlit asal Kediri. Prestasi mahasiswa Geodesi ini sudah terasah sejak kecil. Berawal dari hobinya yang suka berkelahi maka oleh sang ayah Amri kecil dimasukkan dalam ekstra Taekwondo. Dari hobinya beladiri tersebut ia pernah meraih emas dan perak. “Medali emas saya waktu ikut kejuaraan tingkat provinsi tahun 2009,” katanya.

Ia mengaku, hanya sebulan untuk mempersiapkan diri di kejuaraan provinsi. Selain persiapan fisik seperti latihan beban, lari, dan sparring, ia juga ketat menjaga asupan makanan. “Makanan pedas dan es dikurangi, apalagi merokok harus dihindari. Kalau melanggar pantangan biasanya kekuatan fisik akan menurun,” ungkapnya.

Meskipun masih semester lima tapi Amri sudah dipercaya teman-temanya di UKM Taekwondo untuk menjadi pelatih. Saat ini ia bersama teman-temannya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan mahasiswa tingkat nasional di Jakarta Desember mendatang.

Kami akan menurunkan semua personil. Persiapannya seperti biasa hanya latihan perlu ditambah. Biasanya seminggu sekali menjadi lima kali semingguKami juga sesekali latihan bersama di kampus lain. Biasanya di Brawijaya,” tutupnya. (mer/humas)




ITN Malang Sabet Tiga Medali dalam Taekwondo International Invitation 2017

Prestasi membanggakan diukir oleh mahasiswa ITN Malang dalam cabang olahraga beladiri  Taekwondo tingkat internasional. Dalam ajang Taekwondo International Invitation 2017 yang dihelat 23 – 24 September lalu di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, ITN Malang menurunkan empat pemain. Dari empat pemain tersebut ITN berhasil meraih 3 medali, dua perak dan satu perunggu. Mereka adalah Mariano Alves Pereira dan Cristian Darwanto meraih medali perak sedangkan Imam Darma Aji meraih medali perunggu.

Mariano Alves Pereira menceriterakan perjuangannya selama mengikuti kejuaraan yang diikuti hampir 2000 peserta dari empat negara yaitu, Malaysia, Kamboja, Timor Leste, dan Indonesia sendiri sebagai tuan rumah. Dalam kejuaraan tersebut Mariano mengaku sempat kurang fokus sehingga membuatnya kalah. “Saya memang sempat kurang fokus sehingga sulit mengontrol emosi. Kalau di Taekwondo kurang bisa kontrol emosi maka permainanya bisa dipastikan akan berantakan,” ungkapnya saat bermain dalam kelas U-54 Senior Putra.

Mahasiswa asli Timor Leste ini semasa sekolah merupakan atlit kungfu. Bergabung dengan Taekwondo di ITN Malang merupakan kesenangan tersendiri baginya karena bisa menyalurkan hobi olah raga beladiri.

Beda dengan temannya sesama peraih medali perak Cristian Darwanto, mahasiswa Teknik Geodesi semester 3 ini memang sedari sekolah merupakan atlit Taekwondo. Sering mengikuti kejuaraan tingkat propinsi kemudian mencoba kejuaraan tingkat internasional membuatnya semakin tertantang. “Ternyata semakin tinggi kompetisi, kita akan banyak bertemu dengan atlit-atlit yang bagus,” tuturnya pada humas ITN Malang, Sabtu (14/10).

Pernah menendang kepala lawan saat kompetisi di Bandung membuatnya semakin berhati-hati dalam bertanding. “Di even ini Alhamdulillah saya belum sempat kena tendangan kepala. Harus pintar-pintar saja untuk mengelak,” tukasnya.

Mahasiswa asli Lombok ini merasa senang berhasil menyabet medali perak dalam kelas U-54 Senior Putra serta membawa nama baik ITN Malang ke kancah internasional. “Senang bisa membawa nama almamater. Tapi masih terlalu cepat kalau harus merasa bangga, karena masih ada keinginan untuk mendapat prestasi yang lebih baik,” katanya.

Sedangkan peraih medali perunggu didapat dalam kelas U-58 Senior Putera atas nama Imam Darma Aji. (mer/humas)