Sabet Silver di Malang Raya, Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Siap Ikuti Kompetisi Nasional

“Vox Coeleistis Choir” (VCC), Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menyabet medali silver dalam kompetisi paduan suara se-Kota Malang, yang diselenggarakan oleh UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Negeri Malang pada Rabu, 29 Agustus 2018 yang lalu.

Bersaing dengan beberapa PSM yang sudah berpengalaman tidak menyurutkan semangat VCC ITN Malang untuk memberikan penampilan terbaik. “Semua lawannya berat-berat, mereka disiapkan untuk ikut kompetisi di luar negeri, sedangkan tim VCC kebanyakan terdiri dari mahasiswa baru yang belum banyak pengalaman,” ujar Baiq Kusuma Khotimah, ketua VCC ITN Malang saat ditemui di ruang humas, Jumat (30/8/18).

Meski begitu perjalanan VCC belum berakhir. Baiq biasa disapa menyatakan, kompetisi ini sebagai pemanasan tim VCC ITN untuk melaju ke kompetisi tingkat nasional di ajang Festival Paduan Suara Gita Buana Soedirman III (FPS GBS III) 2018 bulan Oktober mendatang. Medali emas menjadi target tim yang memiliki nama arti ‘Suara dari Surga’. “Lomba kali ini sebagai pemanasan bagi kami untuk lebih baik di lomba yang berlevel lebih tinggi di Universitas Sudirman, Purwokerto nanti,” ungkapnya.

Tim yang beranggotakan 25 mahasiswa ITN Malang harus berhadapan dengan tim lain yang beranggotakan 40 orang. Minimnya personel diakui oleh mahasiswi asal Kalimantan ini. Menurutnya, sebuah paduan suara membutuhkan tidak hanya kualitas suara namun jumlah personil juga akan mempengarui suara yang dihasilkan.

“Kualitas suara sudah bagus, tapi tetap perlu menambah jumlah personil untuk menghasilkan power suara. Ini menjadi salah satu penilaian selain notasi dan pelafalan, dan tak kalah penting bagaimana pesan lagu bisa tersampaikan dengan baik kepada pendengar,” beber mahasiswi Teknik Pengairan semester tujuh ini.

Dari ajang kompetisi di Malang inilah Baiq dan tim bisa mengevaluasi kekurangan. Perlu mempersiapkan mental dan fokus agar VCC yang pernah meraih medali emas di kompetisi Internasional Choral Festival, Bangkok, Thailand ini kembali berjaya. Persiapan keluar negeri diakui Baiq memang tidak gampang, maka untuk itu tim VCC memfokuskan diri dan lebih sering mengikuti kompetisi di dalam negeri. “Oleh pembina, kami diminta fokus di dalam negeri dulu. Setelah dapat emas baru boleh berkompetisi di luar negeri. Target tetap ada, insyaallah semoga dua tahun lagi bisa ikut kompetisi di Singapura,” imbuhnya.

 

Sabet Silver di Malang Raya, Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Siap Ikuti Kompetisi Nasional

Sabet Silver di Malang Raya, Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang Siap Ikuti Kompetisi Nasional

 

Pernah kurang 0.03 poin dan nyaris mendapatkan medali emas pada ajang Penabur International Choir Festival 2017 dan pernah pula hampir mendapatkan medali emas pada Bali Internasional Choir Festival 2016, memacu semangat tim VCC di bawah asuhan pelatih Amril Huda ini. “Kalau emas memang nilainya harus 80, sedangkan di kompetisi kemarin (di UM) baru merah 77 poin. Tapi memang yang penting fokus. Seperti kata pelatih kami, kami tidak boleh merasa beda dengan yang lain, karena semua mempunyai peluang yang sama untuk menjadi juara,” pungkasnya. (mer/humas)




Surat Al Alaq Hantarkan Mahasiswa ITN Malang Raih Juara II Lomba Kaligrafi MTQ Mahasiswa Regional

Surat Al Alaq ayat 1-5 mengantarkan Muhammad Alawiy Alqaws, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang meraih juara II dalam Musabaqah Khaththil Qur’an MTQ Mahasiswa Regional Jatim V (MTQM-R Jatim) Tahun 2018 yang diselenggarakan di Universitas Jember, Sabtu-Senin, 11-13 Agustus 2018 yang lalu. Keindahan seni lukis kaligrafi mahasiswa arsitektur ini bersaing dengan sekitar 20 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. “Lomba kaligrafi dipisah antara putra dan putri. Khusus kaligrafi putra saya bersaing dengan sekitar 20 peserta, kalau total dengan putri semua ada 47 peserta,” kata Alawiy akrab disapa.

Terbagi dalam dua babak, penyisihan dan final, Alawiy dan peserta lainnya harus menyelesaikan kaligrafi dalam waktu 8 jam. Pada babak penyisihan harus menulis surat Al Hashr ayat 10, sedangkan finalnya harus menyelesaikan ayat 1-5 surat Al Alaq. Waktu 8 jam menjadi berat tatkala mahasiswa semester 5 ini harus mengkombinasikan antara tulisan, dekorasi, dan kebersihan.

“Yang paling berat di tulisan, karena menulis arab, bentuk dan jumlahnya harus benar. Padahal perlu mengkombinasikan gaya tulisan khath seperti yang tertuang di kaligrafi, yakni nashi, rik’ah, diwani, diwani jali, dan tsuluts yang paling sulit, karena aturannya lebih kompleks dan ribet,” jabarnya saat ditemui di ruang humas, Rabu (15/8/18).

Beralas triplek ukuran 120 x 80 cm dan menggunakan cat warna, kaligrafi Alawiy begitu rapi dan indah. Ketertarikan dan ketekunannya melukis kaligrafi telah terasah sejak dibangku SMA di Pondok Gontor. Selepas dari pondok ia kemudian belajar kaligrafi kepada Bapak Samsul guru SMAN Tempeh Lumajang. “Kalau latihan ya perlu bimbingan, sudah kurang lebih tiga tahun saya belajar kaligrafi,” katanya yang juga asli Lumajang.

 

Surat Al Alaq Hantarkan Mahasiswa ITN Malang Raih Juara II Lomba Kaligrafi MTQ Mahasiswa Regional

Surat Al Alaq Hantarkan Mahasiswa ITN Malang Raih Juara II Lomba Kaligrafi MTQ Mahasiswa Regional

 

Mahasiswa Teknik Arsitektur pernah juara II lomba mural Malang City Ekspo 2017 ini mengaku lawan-lawannya sangat berat. “Lawan-lawannya cukup berat, ada dari Unisma, UM, UB, dan banyak lagi yang mayoritas sudah mempunyai tim khusus untuk MTQ,” katanya.

Namun rasa berat dan capeknya terbayar sudah setelah berhasil menjadi juara II lomba kaligrafi MTQM-R. Sedangkan untuk juara I diraih oleh Universitas Islam Malang (Unisma) dan juara III dari Universitas Brawijaya (UB). “Capeknya hilang kalau karya kita mendapat apresiasi. Ini juga bermanfaat bagi orang lain, kita saja membaca Al Qur’an berpahala apa lagi orang lain juga ikut membaca,” jelas anak kedua dari tiga bersaudara ini, sebab membuat karya seni membutuhkan waktu dan ide. (me/humas)




Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

Sebagai negara khatulistiwa, buah-buahan di Indonesia ada yang berbuah sepanjang musim namun juga ada yang berbuah musiman. Kendala buah musiman inilah yang sering dialami khususnya petani buah naga di Kabupaten Banyuwangi. Biasanya buah naga yang dipanen di luar musim akan lebih sedikit dengan kualitas yang buruk, bahkan sering pula petani gagal panen.

Tapi petani buah naga Banyuwangi punya cara sendiri untuk mengatasinya. Di luar musim buah naga, petani akan menerangi kebunnya saat malam hari. “Karena di luar musim buah naga tidak berbuah. Untuk memancing agar buah naga berbunga dan berfotosintesis di malam hari maka perlu penerangan,” ungkap Prasetio Rudiarsono, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, saat ditemui di kampus II awal bulan Agustus 2018 lalu.

Tio biasa disapa bersama dua rekannya Kholifatin Aini Rahman, dan Dini Aprilia Mulyawati, memanfaatkan solar cell untuk membantu para petani buah naga di Banyuwangi. “Kami memberikan solusi ke petani dengan memanfaatkan ‘renewable energy’ dengan menggunakan tenaga surya untuk menghidupkan lampu LAD. Dengan begitu petani akan lebih berhemat,” papar mahasiswa asal Banyuwangi ini.

Pengamatan Tio kepada lingkungan tempat tinggalnya di Banyuwangi memang jeli. Biasanya petani menerangi kebunnya di malam hari dengan lampu CFL (Lampu fluoresen padat) yang bersumber dari listrik PLN. Hal ini membuat petani harus mengeluarkan biaya lebih tinggi.

“Biayanya lebih tinggi kalau pakai listrik PLN. Sedangkan kalau memakai lampu LAD (Light Emitting Diode / produk diode pancaran cahaya) yang bersumber dari tenaga surya akan lebih hemat energi. Soalnya LAD 10,5 watt setara dengan 17 watt lampu CFL,” bebernya.

Bagaimana tidak, menurut Tio biasanya petani menghabiskan rata-rata empat jam selama dua bulan untuk menerangi kebunnya dimalam hari. Lama penyinaran bergantung lama penyinaran pada siang hari. Proses ini menghabiskan dana sekitar 600 ribu rupiah perbulan dengan memakai listrik dari PLN. Namun dengan pemanfaatan solar cell maka meski mahal di awal manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, sehingga jatuhnya lebih hemat.

Sebagai uji coba, ke tiga mahasiswa Teknik Elektro S-1 Konsentrasi Energi Listrik ini telah memasang dua panel solar cell, masing-masing 100 WP, di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Solar Cell ini mampu menerangi 200 pohon buah naga di lahan 1/8 ha dengan menggunakan 16 lampu. Satu lampu bisa menyinari 2-4 pohon.

 

Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

Mahasiswa ITN Malang Manfaatkan Solar Cell Agar Pohon Buah Naga Lekas Berbunga

 

Diluar musim panen buah naga, lampu-lampu tersebut akan menerangi pohon buah naga kurang lebih dua bulan mulai pohon buah naga belum berbunga hingga panen. “Penyinaran sampai pohon berbunga kurang lebih 20 hari. Kalau pohon yang belum pernah disinari sama sekali bisa sekitar 50 hari sampai berbunga,” ujar mahasiswa semester akhir ini.

Cara kerjanya solar cell juga cukup mudah. Prosesnya dari panel surya yang dikonfersikan dari cahaya matahari ke DC. “Cara menghidupkan lampu pakai timer digital. Akan dihidupkan dan dimatikan jam berapa pun bisa,” sambung Iva sapaan Kholifatin Aini Rahman. (mer/humas)




Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

Segarnya buah nanas tidak hanya disukai oleh manusia, namun ternyata juga disukai oleh hewan. Tetapi jangan salah, nanas yang dimakan hewan ini bukan nanas segar layaknya yang kita konsumsi, namun merupakan fermentasi dari limbah nanas. Limbah nanas yang terdiri dari kulit dan buah nanas yang rusak dari pasar, ampas perasan daging buah dari pabrik, maupun sortiran buah dari petani biasanya hanya dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah limbah ini bisa menjadi pakan ternak bagi hewan ruminansia (hewan pemamah biak).

Dari tangan mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang produk makanan ternak tersebut berhasil diwujudkan. “Kebetulan rumah saya dekat dengan pasar, dan saya melihat buah nanas yang tidak terpakai dibuang begitu saja,” kata Muhammad Syaiku Nada mahasiswa Teknik Mesin S-1 saat ditemui di kampus II ITN Malang awal bulan Agustus 2018 lalu.

Syaiku biasa disapa Bersama empat kawannya yakni, Imam Dwi Handayani Rohman, Muhammad Rizky Pratama, Luthfi Caesar Ardianto, Abdurrohman Eko Saputra, M. Rizky Pratama, berhasil mengolah limbah nanas menjadi makanan ternak. Bahkan produk ini diklaim bisa bersaing dengan rumput gajah serta produk lainnya.

Untuk memproduksi mereka mendekati para petani buah nanas di Desa Sidorejo, Kecamatan Pongkok, Blitar. Di desa ini juga banyak dijumpai peternak sapi maupun kambing. Awalnya memang tidak mudah produk diterima peternak, para mahasiswa ini harus door to door, turun langsung untuk ke Gabungan Kelompok Tani Desa Sidorejo untuk sosialisasi.

“Kandungan serat buah nanas tinggi, jadi memungkinkan menjadi pengganti rumput sebagai makanan pokok ternak seperti kambing, sapi maupun kerbau. Sedangkan di Desa Sidorejo terdapat banyak perkebunan nanas, yang memiliki potensi untuk dikembangkan,” tambah mahasiswa asal Blitar ini.

Diberinama “Ombun Kamsa”, makanan ternak ini memiliki keunggulan karena mengandung sumber energi, sumber mineral dan seratnya yang relatif tinggi sehingga mampu menggantikan porsi serat dan konsentrat pada konsumsi pakan ternak pedaging.

 

Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

Mahasiswa ITN Malang, Ubah Limbah Nanas jadi Pakan Ternak

 

Menurut Syaiku, cara membuat Ombun Kamsa yang harus diperhatikan adalah komposisi dari bahan. Awalnya limbah nanas dipilih yang baik kemudian dicacah memakai mesin pencacah rumput, kemudian dicampur dengan dedak dan air. Dengan perbandingan 55% limbah buah nanas, 20% dedak, 3% suplemen cair, garam 7%, 5% gula serta air 10%.

“Saat mencampur suplemen, garam, dan gula tidak boleh mengunakan bahan logam. Ini karena suplemen mengandung bakteri kalau menggunakan bahan logam nanti cepat rusak. Setelah 3-50 menit baru dicampurkan ke campuran nanas,” beber mahasiswa semester 6 ini.

Pencampuran dilakukan dua kali. Pertama campukan dedak dan cacahan nanas baru kemudian dicampur dengan campuran suplemen. Pakan ternak ini belum bisa dikonsumsi langsung. Perlu didiamkan/difermentasi sekitar 4-7 hari baru bisa dikonsumsi oleh ternak.

Ombun Kamsa sendiri dikemas dengan karung plastik. Untuk kemasan besar seberat 50 kg dihargai 90 ribu rupiah, kemasan sedang 25 kg, dihargai 45 ribu rupiah sedangkan 23 ribu rupiah untuk kemasan kecil seberat 210 kg.

Dengan pemanfaatan pembuatan pakam ternak ini diharapkan bisa mengurangi jumlah limbah buah nanas, memajukan perekonomian petani, dan memudahkan peternak dalam kesulitan mendapatkan rumput di musim kemarau. Dan bagi mahasiswa akan menumbuhkan karakter sebagai calon entrepreneur masa depan. (me/humas)




Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan listrik saat ini sangat penting untuk aktivitas sehari-hari mulai dari urusan rumah tangga, pendidikan, kehidupan sosial, budaya dan teknologi. Keberadaan listrik ini juga sekaligus mendorong peningkatan ekonomi, kesehatan dan menambah lapangan kerja baru. Namun faktanya beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang belum mendapatkan aliran listrik. Salah satunya adalah Kampung Seng dan Kampung Genteng, di Desa Gelang, Kecamatan Sumberbaru, Jember.

Kondisi tersebut kemudian direspon oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dengan melakukan pemberdayaan masyarakat secara mandiri lewat penerapan pembangkit listrik tenaga air skala pikohidro. Pemasangan pikohidro sendiri dipasang pada bulan Juli 2018 dengan melibatkan 15 mahasiswa Teknik Elektro.

“Kami ingin berbagi langsung dengan masyarakat yang belum merasakan terangnya listrik. Respon masyarakat sangat senang sekali karena baru pertama kalinya mereka mendapat aliran listrik,” tutur Ir. Yusuf Ismail Nakhoda, MT., yang turut serta ke rumah-rumah warga untuk sosialisasi.

Dosen Teknik Elektro S-1 ini menambahkan, Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro (PLTP) merupakan salah satu alternatif pembangkit listrik skala mikro. Bedanya dengan mikrohidro adalah pikohidro didesainnya lebih kecil. Penggunaan pikohidro sebagai alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga diesel yang selama ini membutuhkan biaya operasional tinggi dan tidak ramah lingkungan.

Pikohidro yang sifatnya ramah lingkungan dapat diterapkan di daerah pedesaan yang memiliki potensi aliran air sungai. Ketersediaan aliran sungai di Dusun Gelang memiliki debit yang kontinyu sepanjang tahun. Selain itu sungai tersebut sangat cocok untuk pemasangan pikohidro karena masih terjaga dan bersih.

“Setelah kami survey, debit air yang mengalir di desa tersebut ternyata memiliki potensi energi terbarukan. Kami sudah melakukan ujicoba, dan sampai saat ini PLTP yang kami pasang terus menyala di kampung tersebut,” kata Yusuf.

Alat pikohidro ITN Malang ini didesain portable sehigga mudah untuk dipindahkan. Meskipun secara mikro, namun pembangkit listrik ini setidaknya bisa menghasilkan daya sampai 200 watt. Sehingga bisa menerangi masyarakat yang rumahnya belum ada aliran listrik. “Setidaknya pikohidro ini mampu menerangi rumah masyarakat sekitar,” lanjutnya.

Pikohidro sendiri merupakan pembangkit listrik tenaga air yang mempunyai daya di bawah 5000 watt (5 Kw). Secara teknis pikohidro terdiri dari tiga komponen utama, yakni air sebagai sumber energi, generator dan turbin. Untuk merampungkan PLTP, tim ITN Malang sudah melakukan beberapa tahapan mulai bulan Maret – Agustus 2018.

Pertama, memilih generator pikohidro dengan pengolahan generator magnet permanen. Mereka mendapatkannya dari komponen bekas sepeda motor yang dirakit menjadi rotor berjumlah 6 buah kutub magnet permanen. Selanjutnya membuat stator generator dari pipa besi berukuran 5 diameter. Stator tersebut dijadikan sebagai tempat meletakkan lilitan kumparan kawat yang terdiri dari 6 buah kumparan yang disesuaikan dengan besar diameter pipa besi.

 

Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

 

Tahapan kedua adalah pengujian laboratorium menyangkut kinerja dari generator magnet permanen sebelum diterapkan di sungai. Tujuannya untuk mengetahui besaran tegangan, dari yang tertinggi sampai terendah menggunakan motor yang diputar dengan kecepatan (rpm) bervariasi tanpa dibebani apapun.

Kemudian tahapan ketiga pembuatan turbin/kincir air pikohidro. Turbin ini berfungsi mengubah energi air menjadi energi gerak putar yang dihubungkan pada generator sehingga menghasilkan energi listrik. Sementara tahapan keempat dan kelima adalah bagian terakhir, yaitu perakitan turbin air dan pemasangan PLTP.

“Kami berharap pikohidro bisa dikembangkan di daerah-daerah yang belum ada aliran listrik. Kami akan daftarkan hak patennya dan membuat proyeksi lebih lanjut,” pungkas Yusuf, yang merampungkan pikohidro sebagai Program Kemitraan Masyarakat bersama Dr. Irrine Budi Sulistiawati, St.MT., dan Dr. Eng. Aryuanto Soetedjo, ST.MT. (mer/humas)




Cara Ampuh Mengusir Burung Hama Tanaman Padi Ala Mahasiswa ITN Malang

Serangan burung pipit atau juga biasa disebut burung emprit saat padi memasuki masa panen sering menyulitkan petani. Jumlahnya yang banyak membuat burung pipit menyerang tanaman padi secara berkoloni atau berkelompok. Tidak terkendalinya hama burung ini bisa mengakibatkan petani gagal panen karena banyaknya biji yang hilang. Puncak aktifitas harian burung hama padi bisa dijumpai pada pagi dan sore hari.

Berbagai cara dilakukan petani untuk menghalau/menanggulangi hama burung pipit, mulai dari cara mekanis, biologis maupun kimia. Kebanyakan petani lebih memilih cara mekanis karena lebih mudah dengan biaya ringan, yakni dengan memasang orang-rangan sawah, jaring, plastik, dan lain sebagainya. Namun terkadang hasilnya kurang efektif karena petani bisa seharian berada di sawah, sehingga memakan waktu dan tenaga.

Melihat kendala tersebut tiga mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Romadhoni Muhammad, Agung Laksono Andi, Cornelius Morenzo Wadan Tellamakin, mengagas membuat alat pengusir hama burung. Alat ini bekerja secara mekanik dengan menggantikan peran petani dalam menggerakkan alat-alat pengusir burung di sawah. Dengan begitu petani akan mempunyai waktu luang untuk mengerjakan keperluan yang lain. “Kami lihat petani begitu kerepotan saat mengusir burung di sawah dengan tali temali. Mereka juga membuang waktu seharian apalagi saat menghadapi musim panen,” kata Dhoni, sapaan akrab Romadhoni Muhammad, saat ditemui di kampus II.

Istimewanya, alat berbentuk segi empat berukuran 100 x 60 sentimeter ini cukup dikendalikan dengan SMS (Short Message Service). Jadi petani tidak perlu susah-susah pergi ke sawah, karena alat ini bisa dihidupkan dari rumah maupun dari tempat lain di mana petani berada selagi dia membawa telepon genggam. Caranya tinggal ketik “on” di telepon genggam dan kirim ke nomor di alat tersebut. Maka secara otomatis alat akan hidup, sebagai buktinya alat akan mengirim notifikasi dengan tulisan “alat nyala” kepada pemilik.

“Setelah SMS diterima oleh alat, maka alat akan menyala otomatis dan menggerakkan tali temali yang sudah terpasang pada alat tersebut. Begitu pula kalau ingin mematikan, pemilik tinggal tulis SMS “off” kirim ke nomor alat. Kemudian pengirim akan mendapat balasan “alat mati”, maka alat akan mati dengan sendirinya,” lanjut Dhoni.

Alat hasil rancangan mahasiswa Teknik Listrik D-3 ini dilengkapi dengan cell surya untuk mengisi aki yang digunakan untuk menggerakkan motor di dalam alat. Energi yang ramah lingkungan dan terbarukan ini sekaligus menggantikan peran listrik untuk menggerakkan alat. “Selama matahari bersinar maka alat bisa terus bergerak sesuai kemauan pemilik, jadi tidak perlu menggunakan listrik dari PLN,” terang mahasiswa asli Nganjuk ini.

 

Cara Ampuh Mengusir Burung Hama Tanaman Padi Ala Mahasiswa ITN Malang

Cara Ampuh Mengusir Burung Hama Tanaman Padi Ala Mahasiswa ITN Malang

 

Alat yang diberi nama “PANTAS” (Pengusir Hama Burung Pipit Via SMS di Sawah Berbasis Arduino Dari Sumber Cell Surya) ini sudah diujicobakan di persawahan di area Desa Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Ke depannya mahasiswa semester lima ini mengaku masih banyak yang perlu dikembangkan agar alat lebih efektif, misalnya dengan penambahan sensor. “Kami sudah berencana mengembangkan dengan menambah sensor,” katanya yang berencana pula untuk mematenkan hasil karyanya tersebut. (mer/humas)




IF-Dorota Anggota Baru Tim Robot ITN Malang Merumput Perdana

Sebanyak tiga buah robot sepak bola Humanoid resmi melengkapi tim robot Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Bahkan sebagai perdana ketiga robot tersebut sudah merumput di Kontes Robot Indonesia (KRI) 2018 di Polinem, pada divisi KRSBI Humanoid (Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Humanoid).

Sesuai namanya robot humanoid yang diberi nama “IF-Dorota” Informatika merupakan satu hadiah dari Tuhan. “Hadiah” inilah yang semakin mengeratkan komitmen mahasiswa Teknik Informatika S-1 ITN Malang untuk memberikan yang terbaik bagi institusi.

“Kata Dorota diambil dari bahasa Yunani kuno yang artinya satu hadiah dari Tuhan,” ujar Miko Andrianto sang empunya ide beserta tim IF Dorota saat ditemui di lab Robotika Teknik Industri, Sabtu (12/5).

Robot yang memiliki berat tiga kg dan tinggi 50 cm ini dikawal oleh tim yang solid. Terbagi dalam empat divisi yakni, mekanik, kamera, gerak dan hardware.

Seperti layaknya tim sepak bola, ketiga robot humanoid mempunyai fungsi masing-masing. Satu sebagai kiper, satu sebagai penyerang, kalau tidak berhasil bisa diganti dengan robot cadangan.

Menurut Andi Yan Rizaldi, ketua tim, dalam kompetisi bisa menerjunkan dengan dua robot dan maksimal lima robot. “Untuk cadangan minimal dua robot,” terang dia.

Kompetisi KRSB Humanoid Memakai lapangan beralas rumput sintetis dengan luas 6m × 9m. Luas lapangan ini mengacu kepada aturan kontes robot internasional dengan waktu bertanding 10 menit.

Teknis bertandingnya, robot akan mencari posisi bola. Kemudian mendekat ke bola dan mendeteksi gawang lawan. “Untuk mendeteksi gawang menggunakan sensor kompas yang dipasang pada robot. Akan dinyatakan menang berdasarkan banyaknya cetak gol,” tambah Andi.

Selama ini ITN Malang sudah memiliki empat tim robot yang selalu diikutkan dalam Kontes yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek dan Dikti. Robot-robot tersebut antara lain, Robot e-Sadewa V-6 pada Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), e-Krisna V-4 pada Kontes Robot Abu Robocon Indonesia (KRAI), Robor e-Pretiwi V-6 pada Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI), dan Robot e-Bima V-2 pada Kontes Robot Sepak Bola Indonesia Beroda (KRSBI Beroda).

Adi Suryo Sekretaris Program Studi Teknik Informatika S-1 mengatakan ITN Malang sebenarnya sudah mempunyai robot sepak bola humanoid sejak tahun kemarin. Namun karena masih dalam tahap persiapan maka baru bisa diikutkan kompetisi tahun 2018.

“Sudah dari tahun kemarin memiliki (robot himanoid), tapi baru tahun ini ikut kontes. Banyak yang harus dipersiapkan,” katanya saat mendampingi tim IF Dorota.

Menurut dosen asli Malang ini banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar tim robot ITN Malang bisa mendulang prestasi. “Prodi Teknik Informatika sangat mendukung kegiatan mahasiswa. Tentunya dengan Prodi-Prodi lain yang menaungi masing-masing tim robot ITN. Maka kedepannya perlu ada kolaborasi antar mahasiswa dan Prodi untuk membuat tim robot lebih baik lagi,” pungkasnya. (mer/humas)




Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Tim “The Engineer” Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menyabet juara tiga dalam Lomba Kuat Tekan Beton (LKTB) di UK Petra Surabaya pada tanggal 4-6 Mei 2018. Bersaing dengan sekitar 60 tim se-Indonesia “The Engineer” juga mendapatkan penghargaan “Best University” di bidang yang sama. Ini dikarenakan dari enam tim yang dikirim, dua tim lolos final dan satu tim mendapat juara tiga.

Mahasiswa yang tergabung dalam tim tersebut adalah Jandsem Madi, Reynhard Ghunu, dan Bagus Dwi Wibowo. Kompetisi LKTB se-Indonesia ini juga diikuti oleh perguruan tinggi dari Malang yaitu, UMM, Polinema, UM, dll.

“Best University juga didapat dari cabang LKTB, karena dari enam tim yang ikut lomba, dua tim masuk final, dan satu tim mendapat juara. Di Petra ini merupakan lomba terbesar nasional jadi saingannya ketat,” ujar Jandsem Madi saat ditemui di ruang humas ITN Malang, Selasa (8/5).

Pada babak penyisihan dua benda di uji setelah 28 hari dilakukan pengujian slump atau kekuatan beton. Benda uji tersebut berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. “Penilaiannya selain dari uji slump atau kuat tekan beton, juga dilihat dari biaya pembuatan, serta presentasi,” tambah mahasiswa asal NTT ini.

Meskipun Jandsem biasa disapa sudah kali kedua mengikuti ajang LKTB di UK Petra tetap saja tiap tahun ada tantangan yang berbeda. Melalui tema “Smarter, greener, optimize your green concrete” tim ITN ditantang untuk membuat beton ramah lingkungan yang mampu menjadi solusi bagi berbagai permasalahan lingkungan.

Menurut mahasiswa yang sedang menempuh skripsi tentang beton ini, sesuai tema mereka harus bisa membuat campuran beton dengan mengurangi campuran semen agar lebih ramah lingkungan. “Jadi semen dikurangi dan diganti dengan fly ash (abu terbang). Semua bahan sudah disiapkan oleh panitia,” katanya.

Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang Sabet Juara Lomba Kuat Tekan Beton

Bagus Dwi Wibowo menambahkan, fly ash merupakan limbah buang dari pembakaran batu bara yang biasanya digunakan di PLTU. “Limbah dari pembakaran batu bara ini mempunyai sifat seperti semen. Jadi pemakaian fly ash bisa mengurangi penggunaan semen dalam campuran beton,” paparnya.

Penggunaan fly ash selain harganya murah juga meminimkan paparan karbon dioksida saat mengaduk semen, dan menghindarkan banyaknya penghancuran batu kapur sebagai bahan baku semen. “Karena bahannya (fly ash) tidak bisa dibuat apa-apa selain untuk bahan bangunan,” kata Bagus.

Sekarang menurut mahasiswa asal Malang ini, untuk pembangunan kontruksi sudah mengarah menggunakan limbah batu bara meskipun masih terbatas. (mer/humas)




Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Fitra Rani Klida Afiani, pembawaannya yang ramah membuat siapa saja akan tertarik padanya. Tidak hanya cantik namun juga punya prestasi akademik yang istimewa. Sehingga tidak salah lagi kalau pemilik IPK 3.96 ini dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda ke-59 Periode I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Tahun 2018.

Lahir dari keluarga biasa dari pasangan Sukari dan Wakidah, Fitra biasa disapa merupakan sosok wanita yang tangguh. Untuk membantu orang tuanya, sejak sekolah di SMKN 5 Malang dia sudah bekerja dengan jualan online. “Bapak saya bekerja sebagai buruh pengrajin rotan, sedangkan ibu hanya ibu rumah tangga. Jadi saya bekerja untuk meringankan beban mereka,” ungkapnya.

Selama kuliah di Teknik Informatika S-1 ITN Malang, Fitra tidak hanya meneruskan jualan onlinenya namun juga bekerja di berbagai tempat. Diantaranya sebagai staf administrasi di Dinas Pendidikan Kota Malang, SPG HP, karyawan loundry, customer service di Ayam Bebek Goreng Nelongso, SPG sampai IT Support DNR Bazaar. Mengaku sudah merasakan manis getirnya bekerja, Fitra kadang mulai kerja dari jam 3 sore sampai jam 3 pagi sedangkan keesokannya harus kuliah. “Sebenarnya 8 jam (kerja) tapi loyalitasnya saya menunggu teman-teman sampai selesai. Akhirnya sering mendapat teguran dari bapak,” imbuhnya yang hanya bekerja 2-3 bulan di pekerjaan ini.

Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Fitra Rani Klida Afiani, Wisudawan Terbaik ITN Malang Rancang Aplikasi untuk BPTP Jatim

Kuliah sambil bekerja mengharuskan Fitra untuk pandai-pandai membagi dan mengatur waktu. Belum lagi dia masih harus menjalankan kewajibannya sebagai instruktur Lab Data Base Sistem Informasi. “Saya seperti tidak ada waktu untuk belajar. Kuncinya sih yang penting fokus saat kuliah,” akunya.

Meskipun sibuk bekerja dan kuliah dara kelahiran Malang ini tidak lupa menorehkan penghargaan seperti ikut partisipan tim lolos tahap II Gemastik IX tahun 2016 dengan tema “LULU Smart Talking Pot”, dan partisipan tim PKM 5 lolos didanai Kemenristek Dikti tahun 2016.

Melengkapi prestasinya, dalam tugas akhir Fitra membuat aplikasi “Penerapan K-Means Clustering Untuk Mengetahui Varietas Padi Unggul Produksi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur”. Melalui aplikasinya ini Fitra berhasil membantu BPTP dalam mendukung pengambilan keputusan mengenai varietas unggul padi yang dapat didistribusikan ke petani.

“Selama ini data hanya berbentuk nota-nota, maka saya buatkan aplikasi agar bisa terkomputerisasi,” terangnya.

Aplikasi tersebut dilengkapi dengan menu antara lain, data padi, hasil pengelompokan, data distribusi, laporan,data user, dan menu riwayat. Terdapat pula informasi tanggal dan waktu saat ini yang tertera di bawah header menu. Semua menu memberikan informasi yang detail mengenai jenis padi.

“Meskipun sudah digunakan aplikasi ini masih perlu pengembangan lebih jauh. Nanti yang mengembangkan adalah adik-adik mahasiswa dari ITN Malang juga yang sekarang sedang magang di sana (BPTP),” pungkas dara yang sangat mengagumi sosok ayahnya ini. (mer/humas)




Teguh Adi Irawan, Bantu UKM Keripik Pisang Atasi Pemborosan Bahan Baku

Pemborosan bahan baku merupakan salah satu masalah yang dihadapi UKM. Meskipun analisa data sudah dilakukan, namun pemborosan tetap terjadi. Ini dikarenakan UKM masih menggunakan peramalan/perkiraan bahan baku dengan metode manual.

“Perkiraan seperti ini (manual) tidak standar, cenderung kurang tepat dan banyak mengakibatkan pemborosan (bahan baku),” terang Teguh Adi Irawan, wisudawan terbaik Teknik Industri S-1, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Teguh biasa disapa mengatakan, pengusaha masih menggunakan data-data masa lalu yang dianalisis secara random untuk meramalkan produksi masa datang. Perkiraan semacam ini mengakibatkan pemborosan bahan baku dan menjadi masalah yang terkadang tidak disadari oleh pengusaha.

Ia menemukan permasalahan tersebut pada UKM keripik pisang Sumber Rejeki Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Bahkan pemborosan bahan baku juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan suplier, bahan packaging yang kurang tepat, dan penyimpanan berlebihan di gudang. Hal tersebut mengakibatkan pemborosan bahan baku dan kerusakan karena lamanya masa penyimpanan.

Melihat fenomena tersebut mahasiswa kelahiran Bontang Kalimantan ini memberikan solusi dengan metode penghalusan eksponensial dan linier regresi yang diuji menggunakan pengujian moving range. Dari uji ini didapat pemborosan dan penyimpanan berlebih dengan selisih 123 pack produk.

“Metode ini meminimalisir tingkat penyimpangan inventory, agar tidak terjadi pemborosan bahan baku,” katanya.

Karena menurut Teguh, apabila terjadi pemborosan bahan baku maka akan menimbulkan biaya-biaya lain yang merugikan perusahaan. “Biasanya akan muncul biaya perawatan, barang kadaluarsa dan sebagainya. Jadi peramalan ini penting untuk tingkat inventory,” tegasnya.

Solusi dari masalah UKM inilah yang kemudian ia angkat menjadi tugas akhir dengan judul “Penerapan Uji Moving Range dalam Sistem Peramalan Persediaan Kebutuhan Bahan Baku di UKM Sumber Rejeki Malang”.

“Saya lebih memilih UKM karena di UKM permasalahan lebih banyak. Sehingga saya berharap bisa membantu memperbaiki dan meminimalisir permasalahn-permasalahan tersebut. Sedangkan di perusahana besar tingkat kesahannya lebih sedikit,” akunya.

Kegigihan dan semangatnya membantu UKM mengantarkan putra Bapak Sumbang Riady ini menjadi salah satu wisudawan terbaik ITN Malang dengan IPK 3,75. (mer/humas)