Tim Robot Terbang ITN Malang Berlaga di Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017

Pesawat Uber Alles Roboplane Team (U.A.R.T.) ITN Malang melayang di atas Lapangan Terbang Aeromodelling, Detasemen TNI AU Raci, Pasuruan, Jawa Timur. Ini merupakan kali kedua U.A.R.T. ITN Malang mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2017 yang diselenggarakan oleh Belmawa Ristekdikti pada tanggal 16 s.d 21 Oktober 2017 di ITS Surabaya.

Tim U.A.R.T. harus merancang, membuat, dan menerbangkan pesawat tanpa awak untuk beradu dengan tim dari berbagai universitas di Indonesia dalam Divisi Racing Plane. Ada empat divisi yang diperlombakan di KRTI 2017 yaitu, Divisi Racing Plane (Fast and On Track), Divisi Fixed Wing (Monitoring dan Mapping Area Konstruksi), Divisi Vtol (Pick and Drop Survival Kits), dan Divisi Technology Development (Innovate UAV Technology).

“Kontes kali ini yang lolos seleksi tingkat nasional ada 74 tim untuk semua kelas, sedangkan Divisi Racing Plane lolos 24 tim termasuk dari Malang ada ITN Malang, Universitas Brawijaya, dan Politeknik Negeri Malang,” terang Kiki Darmawan ketua tim U.A.R.T. ITN Malang, Jumat (27/10).

Pesawat tanpa awak jenis Fixed Wing tipe Racer yang dikendalikan oleh Pilot Egie Hendra Jaya dan Kopilot Siti Umami Pernamasari memiliki jangkauan mesin kendali dan pesawat 2 km lebih. Berkecepatan 100km/jam U.A.R.T. buatan mahasiswa Teknik Mesin S-1 ini sempat mendapat best time di hari pertama kontes, dengan total waktu 55 detik untuk jarak tempuh 1km.

“Penilaian balapan ditentukan berdasarkan siapa yang lebih cepat mencapai finish. Menggunakan pengendali mandiri atau secara autonomous dan semi autonomous. Pas posisi di atas pesawat mengoptimalkan terbang secara autonomous,” ujar pilot yang juga mahasiswa semester lima tersebut.

Egie biasa disapa menceriterakan betapa sulitnya waktu lomba karena faktor cuaca. Ketidakpastian tekanan angin menyulitkan pilot dalam mendaratkan pesawat, bahkan baterai sampai habis karena harus berputar lagi sebelum landing. “Di race pertama saat pesawat akan landing tiba-tiba ada angin bertiup kencang, maka saya putar lagi sampai kehabisan baterai dan pesawat jatuh. Sempat hancur sih, syukurnya tetap dapat nilai dan dinyatakan lolos. Total dalam lomba ini pesawat kami empat kali jatuh,” imbuhnya.

Dengan berbagai kendala akhirnya U.A.R.T. lolos KRTI 201. Kesulitan dalam proses pembuatan sempat dialami oleh tim, seperti pemotongan gambar harus menggunakan mesin laser di Surabaya, servo motor harus inden karena didatangkan dari Taiwan. Bahkan oleh juri pesawat U.A.R.T. dikira membeli, karena pesawat paling rapi diantara yang lain.

“Kami covering pesawat memakai MonoKote jadi kelihatan halus menempel di badan pesawat. Untuk seterikanya juga seterika khusus yang kami pinjam dari alumni,” ungkap ketua tim.

Perjuangan Tim Robot Terbang ITN Malang belum usai. Di bawah dukungan pembimbing Arif Kurniawan ST.MT., Tim U.A.R.T. yang terdiri dari Kiki Darmawan (Ketua Tim),  Egie Hendra Jaya (Pilot), Siti Umami Pernamasari (kopilot),  Aswar Hakim, Ananda Putra, dan Andreas Kelfin T. (Tim Mekanik), berharap menjadi terbaik dan meraih prestasi dikontes selanjutnya. (mer/humas)




ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang

10 medali sekaligus dipersembahkan oleh UKM Taekwondo kepada ITN Malang dari kejuaraan Taekwondo antar pelajar dan mahasiswa Kota Malang. Bertempat di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 1 Oktober lalu, Taekwondo ITN Malang membawa pulang dua emas, dua perak dan enam perunggu.

Yang menarik dari tim Taekwondo ITN Malang dalam kejuaraan ini adalah keikutsertaan Nicolas Alnando. Ia merupakan mahasiswa baru Teknik Geodesi semester satu. Baru satu bulan ia dinobatkan sebagai mahasiswa ITN Malang dan bergabung di UKM Taekwondo namun berhasil memyabet emas dari kejuaraan tersebut.

Hebatnya mahasiswa asli Kalimantan Timur ini baru kali pertama menggikuti pertandingan. Meskipun awalnya takut karena belum pernah punya pengalaman bertanding. “Ini merupakan kejuaraan pertama saya, meskipun awalnya ragu dan takut bertanding,” ungkapnya polos.

Kepiawaiannya bertanding sebenarnya sudah terasah sejak sekolah. Sebelum masuk ITN selama dua tahun ia menekuni Muay Thai, seni beladiri yang berorientasi olahraga dengan teknik sarat pukulan, tendangan, siku dan serangan lutut. “Saya juga pernah satu tahun belajar Taekwondo,” katanya saat bertemu di kantor humas ITN Malang, Sabtu (14/10).

ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang 1

ITN Malang Boyong 10 Medali dalam Kejuaraan Taekwondo Mahasiswa se-Kota Malang 

Perpindahan dari awalnya menekuni Muay Thai kemudian mempelajari Taekwondo turut mempengaruhi gerakan-gerakan Nicolas. Ia mengungkapkan kesulitannya saat harus mengontrol gerakan tangan, padahal beladiri asal Korea ini lebih mengandalkan tendangan/kaki. “Kalau di Muay Thai semua badan harus digerakkan, sedangkan di Taekwondo fokusnya di kaki. Jadi sering kontrol tangan lepas begitu saja,” ungkapnya.

Kontrol tangan yang sesing lepas ini ternyata terbawa juga pada kejuaraan Taekwondo mahasiswa se-Malang. Saat bertanding melawan UIN ia sempat memukul lawan, padahal 20 poin sudah terkumpul dan sedikit lagi menuju kemenagan. “Khawatir juga sih, tapi sukurnya hanya diberi peringatan saja dari wasit,” aku mahasiswa yang mengikuti kejuaraan kelas U-58 Senior Putra ini sambil tersenyum.

Peraih medali emas lainnya adalah Imam Dharma Aji di kelas U-61 Senior Putra. Medali perak dipersembahkan oleh Fernando Juniantar Saputra N.T, dan Piter Budi Raharjo. Sedangkan medari perunggu masing-masih diperoleh oleh, Mario Alves Pereira, Andana H Lempow, M Alfan A Darmawan, Ahmad Ridwan, Fitransah Ibrahim dan Reza Gulam Zulfikar. (mer/humas)




Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri

Menghadapi Asian Games 2018 berbagai daerah mempersiapkan diri merekrut dan melatih atlit-atlitnya dalam berbagai kejuaraan. Tak terkecuali Kota Malang turut ambil bagian, salah satunya dalam cabang beladiri Taekwondo dengan mengikutsertakan atlitnya dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) 2017, di GOR Joyoboyo Kediri, 5-6 Oktober lalu.

Dari 30 atlit Kota Malang yang ikut bertanding terdapat Amri Mahardika Pujana mahasiswa ITN Malang yang berhasil menyabet medali perunggu di kelas U-54 Senior Putra. Berlaga dengan atlet Taekwondo dari 20 kabupaten dan kota se-Jatim membuat mahasiswa asli Kalimantan Tengah ini harus berhadapan dengan atlit pelatnas asal Lumajang. “Kejuaraan ini untuk merekrut atlit yang akan dikirim ke Asean Games nanti, makanya di sana kami bertemu dengan atlit-atlit nasional,” jelasnya saat berkunjung ke humas, Sabtu (14/10). 

Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri 2

Amri Mahardika Pujana Raih Perunggu dalam Kejuaraan Provinsi 2017 di Kediri 

Saat berhadapan dengan atlit pelatnas tersebut ia akhirnya tumbang dan memperoleh medali perunggu. Akhirnya atlit pelatnas itu mendapat medali emas dan berhak menuju Asian Games, sedangkan perak diraih oleh atlit asal Kediri. Prestasi mahasiswa Geodesi ini sudah terasah sejak kecil. Berawal dari hobinya yang suka berkelahi maka oleh sang ayah Amri kecil dimasukkan dalam ekstra Taekwondo. Dari hobinya beladiri tersebut ia pernah meraih emas dan perak. “Medali emas saya waktu ikut kejuaraan tingkat provinsi tahun 2009,” katanya.

Ia mengaku, hanya sebulan untuk mempersiapkan diri di kejuaraan provinsi. Selain persiapan fisik seperti latihan beban, lari, dan sparring, ia juga ketat menjaga asupan makanan. “Makanan pedas dan es dikurangi, apalagi merokok harus dihindari. Kalau melanggar pantangan biasanya kekuatan fisik akan menurun,” ungkapnya.

Meskipun masih semester lima tapi Amri sudah dipercaya teman-temanya di UKM Taekwondo untuk menjadi pelatih. Saat ini ia bersama teman-temannya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan mahasiswa tingkat nasional di Jakarta Desember mendatang.

Kami akan menurunkan semua personil. Persiapannya seperti biasa hanya latihan perlu ditambah. Biasanya seminggu sekali menjadi lima kali semingguKami juga sesekali latihan bersama di kampus lain. Biasanya di Brawijaya,” tutupnya. (mer/humas)




ITN Malang Sabet Tiga Medali dalam Taekwondo International Invitation 2017

Prestasi membanggakan diukir oleh mahasiswa ITN Malang dalam cabang olahraga beladiri  Taekwondo tingkat internasional. Dalam ajang Taekwondo International Invitation 2017 yang dihelat 23 – 24 September lalu di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, ITN Malang menurunkan empat pemain. Dari empat pemain tersebut ITN berhasil meraih 3 medali, dua perak dan satu perunggu. Mereka adalah Mariano Alves Pereira dan Cristian Darwanto meraih medali perak sedangkan Imam Darma Aji meraih medali perunggu.

Mariano Alves Pereira menceriterakan perjuangannya selama mengikuti kejuaraan yang diikuti hampir 2000 peserta dari empat negara yaitu, Malaysia, Kamboja, Timor Leste, dan Indonesia sendiri sebagai tuan rumah. Dalam kejuaraan tersebut Mariano mengaku sempat kurang fokus sehingga membuatnya kalah. “Saya memang sempat kurang fokus sehingga sulit mengontrol emosi. Kalau di Taekwondo kurang bisa kontrol emosi maka permainanya bisa dipastikan akan berantakan,” ungkapnya saat bermain dalam kelas U-54 Senior Putra.

Mahasiswa asli Timor Leste ini semasa sekolah merupakan atlit kungfu. Bergabung dengan Taekwondo di ITN Malang merupakan kesenangan tersendiri baginya karena bisa menyalurkan hobi olah raga beladiri.

Beda dengan temannya sesama peraih medali perak Cristian Darwanto, mahasiswa Teknik Geodesi semester 3 ini memang sedari sekolah merupakan atlit Taekwondo. Sering mengikuti kejuaraan tingkat propinsi kemudian mencoba kejuaraan tingkat internasional membuatnya semakin tertantang. “Ternyata semakin tinggi kompetisi, kita akan banyak bertemu dengan atlit-atlit yang bagus,” tuturnya pada humas ITN Malang, Sabtu (14/10).

Pernah menendang kepala lawan saat kompetisi di Bandung membuatnya semakin berhati-hati dalam bertanding. “Di even ini Alhamdulillah saya belum sempat kena tendangan kepala. Harus pintar-pintar saja untuk mengelak,” tukasnya.

Mahasiswa asli Lombok ini merasa senang berhasil menyabet medali perak dalam kelas U-54 Senior Putra serta membawa nama baik ITN Malang ke kancah internasional. “Senang bisa membawa nama almamater. Tapi masih terlalu cepat kalau harus merasa bangga, karena masih ada keinginan untuk mendapat prestasi yang lebih baik,” katanya.

Sedangkan peraih medali perunggu didapat dalam kelas U-58 Senior Putera atas nama Imam Darma Aji. (mer/humas)




VCC ITN Malang Sabet Medali Silver di Ajang Penabur International Choir Festival 2017

Vox Coeleistis Choir” Paduan Suara Mahasiswa ITN Malang berhasil menyabet medali silver dalam ajang Penabur International Choir Festival (PICF) 2017, yang diadakan oleh BPK Penabur Jakarta, September lalu. Prestasi ini didapat dari dua kategori, mixed youth choir dan folklore.

Vox Coeleistis Choir (VCC) ITN Malang nyaris menyabet emas dalam kategori folklore, sedangkan kategori mixed youth choir harus puas di angka 70.5. “Kategori folklore kami mendapat nilai 79.73, kurang sedikit saja sebenarnya kami bisa merah emas. Karena untuk mendapatkan gold kami harus mengumpulkan nilainya 80 sampai 100. Sedangkan medali silver nilai antara 60 – 79.99 dan di bawah 60 mendapat medali bronze,” ungkap Cirilus Yulian Gati Kurniawan, Ketua Pelaksana pemberangkatan lomba.

Bersaing dengan puluhan tim dari berbagai negara seperti Filipina, Malaysia dan 16 provinsi di Indonesia. VCC membawakan lagu Ave Maria dan Kidung Rumekso ing Wengi dalam kategori mixed youth choir. Suara merdu mengalun senada dengan indahnya gaun warna toska yang dikenakan wanita dan setelan jas putih bagi laki-laki. Dalam kategori folklore, VCC membawakan lagu Luk Luk Lumbu (dari daerah Banyuwangi) dan lagu Tarek Pukat (dari daerah Aceh). Memboyong busana daerah Aceh dengan memadukan warna merah dan hijau membuat lagu makin rancak.

Untuk meraih prestasi ini tidak mudah bagi VCC ITN Malang. Kendala latihan sesampainya di Jakarta sempat mereka hadapi. “Di sana tempat latihan tidak ada, jadi kami harus mencari sendiri. Untungnya di dekat penginapan di Rawamangun ada GOR yang bisa kita pinjam,” kata mahasiswa elektro semester tujuh ini.

VCC ITN Malang Sabet Medali Silver di Ajang Penabur International Choir Festival 2017

VCC ITN Malang Sabet Medali Silver di Ajang Penabur International Choir Festival 2017

Sebelumnya VCC sudah menyiapkan tim sejak tujuh bulan yang lalu. Meski dari bulan Maret latihan, namun untuk mengumpulkan anggota sampai lengkap sempat mengalami kesulitan. “Kami harus menyiapkan fisik, mental dan latihan rutin di sela-sela perkuliahan,” ungkap Reynaldi Senolinggi Ketua UKM Vox Coeleistis Choir.

Bahkan sebelumnya jumlah tim ada 27 orang, namun menurutnya dua orang mengundurkan diri karena kepentingan keluarga. Menumbuhkan rasa saling memiliki, kekeluargaan, dan komitmen tidaklah mudah. “Mau berapapun yang datang kalau komitmennya kuat pasti apa yang kita cita-citakan akan terlaksana. Caranya ya bagi-bagi tugas agar mereka merasa dibutuhkan,” kata mahasiswa asli Toraja ini.

Maka dari itu sebelum menuju PICF 2017 Jakarta, Vox Coeleistis Choir mengadakan karantina selama dua malam di rumah Amril Huda alumni ITN Malang sekaligus ex conductor VCC. Meski mayoritas mahasiswa baru dari angkatan 2016 namun keberhasilan tim dengan conductor Herdi Guntur Satria, ST., ini merasa senang meskipun baru dapat medali silver. Potensi mahasiswa baru inilah yang akan terus digali dan dikembangkan oleh VCC untuk mengharumkan nama almamater. (mer/humas)




Frisai Wicaksono, Kreator Virtual Lab dan BUDI KEREN

Tidak semua laboratorium memiliki ruangan yang luas, jumlah modul praktikum yang banyak, dan jumlah instruktur sebanding dengan jumlah praktikan. Seiring perkembangan teknologi maka Frisai Wicaksono wisudawan terbaik Prodi Teknik Elektro S.1 Konsentrasi Teknik Elektronika ITN Malang merancang sistem remote laboratory.

Pemilik IPK: 3,80 ini merancang dan membuat modul praktikum menggunakan raspberry pie berbasis remote laboratory yang diaplikasikan pada modul sistem bilangan biner dan fungsi logika. Dengan begitu mahasiswa dapat melakukan praktikum di luar laboratorium. Rancangan ini sekaligus ia gunakan sebagai tugas akhir.

Frisai Wicaksono, Kreator Virtual Lab dan BUDI KEREN

Frisai Wicaksono, Kreator Virtual Lab dan BUDI KEREN

“Mahasiswa dapat melakukan praktikum dimana saja tidak harus berada di laboratorium. Tetapi bisa melakukan praktikum di luar, bisa di kantin, di lobi selama masih dalam satu jaringan yang sama, ini juga bisa disebut virtual lab (laboratorium maya, Red),” paparnya.

Menurut Frisai sapaan akrabnya, keunggulan metode ini praktikan dipaksa melakukan praktikum secara individu. Mereka secara tidak langsung harus mengerti, memahami dan dapat mengoperasikan setiap percobaan secara detail dari praktikum yang mereka lakukan.

“Berbeda dengan cara konvensional dimana praktikum dilakukan secara kelompok. Biasanya hanya satu atau dua orang yang bekerja, sedang yang lain hanya mengandalkan temannya,” jelasnya.

Tidak hanya dalam hal praktikum saja, menurutnya karya ini bisa dikembangkan untuk aktivitas administrasi praktikum seperti pembayaran dan penjadwalan praktikum. “Semua bisa dilakukan secara otomatis, bahkan bisa digunakan untuk pre test, melihat sejauh mana praktikan memahami praktikum yang sudah dilaksanakan,” bebernya.

Teknologi memang bukan hal yang asing bagi pemuda kelahiran Malang 7 Oktober 1994 ini. Sebelumnya Frisai beberapa kali mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dari sekian PKM-nya yang menarik adalah “BUDI KEREN” (Pembuatan Kecambah Modern) berbasis mikrokontroller ATMEGA 16.

“Melihat petani kecambah di Singosari yang masih memakai sistem manual, maka tercetuslah ide ini,” ujarnya.

Frisai mengilustrasikan, biasanya petani tiga jam sekali melakukan penyiraman dalam mengecambahkan kedelai, selama tiga hari. Maka dibuatlah alat budidaya kecambah otomatis. Sebagai pembaca suhu dan kelembaban alat digunakan sensor SHT11, dan dilengkapi pemanas serta kipas sebagai pembantu menstabilkan suhu yang telah di tetapkan. “Dengan penggunaan alat ini dihasilkan kecambah berkualitas bagus dari segi ukuran, dibandingkan secara manual lebih pendek,” katanya.

Keuletan Frisai dalam mengembangkan kemampuannya tidak hanya tercermin lewat PKM saja. Selama ia kuliah bersama kakak tingkat ia pernah membuat conveyor penyortir dan pengecekan kematangan buah. Saat itu ia dimintai tolong orang untuk membuatkan alat pemilah buah sesuai ukuran dan kematangan.

Dengan menggunakan sensor maka alat akan mendeteksi apakah buah sudah matang atau belum. Dilengkapi dengan sistem sortir otomatis alat juga bisa memilah buah sesuai ukuran yang seragam. “Kematangan dan ukuran disesuaikan dengan keinginan konsumen,” pungkasnya. (mer/humas).




Wisudawan Terbaik Arsitektur Bermimpi Membangun Sekolah Islam Terpadu

Supel, mudah bergaul dan ramah, itulah Moh Syahru Romadhon Sholeh. Wisudawan terbaik Program Studi Arsitektur S-1 ITN Malang ini mempunyai pengalaman dalam mengerjakan banyak proyek di bidang arsitektur baik tim maupun sendiri (freelance). Total ada 13 proyek yang ia terjuni selama menempuh kuliah di ITN Malang. Salah satunya masuk dalam tim Perencanaan DED (Detail Engineering Design) Taman Tepian Kayan Tanjung Selor Kalimantan Utara 2016 dan perencanaan pasar senggol di Kota Malang.

 

“Saya waktu itu ikut dan bertemu pejabat serta kepala dinas saat presentasi di Kalimantan Utara. Sedangkan untuk perencanaan pasar senggol saya sempat bertemu langsung dengan Wali Kota Malang,” ungkapnya saat konferensi pers di Kampus I ITN Malang, Kamis (28/9).

Wisudawan Terbaik Arsitektur Bermimpi Membangun Sekolah Islam Terpadu

Wisudawan Terbaik Arsitektur Bermimpi Membangun Sekolah Islam Terpadu

Selain ulet mengembangkan kemampuannya dalam arsitektur, pemuda kelahiran Mojokerto 4 Februari 1995 ini konsen mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Keinginan berkontribusi memajukan pendidikan ia tuliskan dalam tugas akhir yang berjudul : Sekolah Islam Terpadu di Kota Batu dengan Tema Green Architecture.

 
Ia membuat desain bangunan Sekolah Islam Terpadu dengan menggabungkan tiap jenjang sekolah yaitu SD, SMP dan SMA. “Perilaku usia anak didik sangat berbeda antara SD, SMP dan SMA. Dengan mengangkat konsep Green Architecture (pada poin Respect for user) aktivitas dari semua jenjang dapat terpenuhi dengan fasilitas yang disesuaikan dengan tingkatannya, baik kepada kaum disabilitas, anak normal dan kepada lingkungan,” paparnya.

 
Dimana respon bangunan terhadap aktifitas siswa yang memiliki jenjang berbeda-beda. Maka dengan gambaran penggunaan lahan 5 Ha, Romadhon biasa disapa membaginya dalam tiga zona SD, SMP, SMA yang diintegrasikan dengan zona fasilitas umum yang dapat digunakan bersama. Namun tiap jenjang juga memiliki fasilitas khusus dimana tiap jenjang tidak bisa digabung. Ada pemisahan lokasi yang jelas pada tiap jenjang.

 
“Untuk kaum disabilitas bisa terfasilitasi dengan akses menuju ruang dengan menggunakan fasilitas khusus yang salah satunya ram. Sedangkan dari segi psikologi desain, tempat bermain seperti ayunan didesain full color. Untuk penggunaan warna tiap kelas juga beragam, bangunan SD paling beda karena akan menggunakan banyak warna,” jabarnya.

 
Wisudawan yang bercita-cita sejak kecil ingin menjadi arsitek ini mempunyai mimpi suatu saat bisa mewujudkan pembangunan Sekolah Islam Terpadu. Ia bercita-cita mengkolaborasikan model pembelajaran dengan melihat potensi peserta didik. Penerapan model pembelajaran yang tidak hanya pendidikan umum, namun menyeimbangkan dengan pendidikan karakter dan agama.

 
Tidak hanya teruji dalam bidang arsitektur, pemuda yang pernah menyabet Juara 2 Esai (National Conference Inovator Nusantara Karya Nyata Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045 tahun 2017) ini aktif dalam kegiatan organisasi baik di dalam maupun luar kampus. Saat ini selepas wisuda Romadhon sedang mempersiapkan diri untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri sembari mengerjakan beberapa proyek yang sedang dikerjakan. (mer/humas)




Irwan Anggara, Wisudawan Terbaik Jago Membuat Aplikasi

Berbekal pengalaman selama kuliah di ITN Malang, dengan yakin Irwan Anggara selepas wisuda akan kembali ke daerahnya untuk ikut memajukan Kalimantan. Pernyataan tersebut diungkapkan saat konferensi pres wisudawan terbaik, di Kampus I ITN Malang, Kamis (28/9).

Tugas akhir berjudul “Analisa Perbandingan Quality Of Service Jaringan Voice Over Internet Protocol dengan Sistem Enkripsi Virtual Private Network (Vpn), Transport Layer Security (Tls), Dan Secure Real-Time Transport Protocol (SRTP)” melengkapi prestasinya menjadi wisudawan terbaik dari Prodi Teknik Elektro Konsentrasi Teknik Komputer S-1 dengan IPK 3.77.

“Selama saya menjadi asisten laboratorium jaringan di Teknik Elektro masih sedikit mahasiswa yang membahas masalah VoIP (Voice over Internet Protocol),” ucapnya.

Dewasa ini layanan teknologi komunikasi internet sudah menjadi trend di semua kalangan. Pemanfaatan internet sangat tinggi dalam sarana kebutuhan sehari-hari, baik itu kebutuhan hiburan, edukasi bahkan komunikasi.

Dengan penelitiannya ia berharap sistem komunikasi VoIP bisa menjadi alternatif komunikasi yang ekonomis dan mudah digunakan. “VoIP ini dapat menjadi terobosan pengganti telepon rumah yang lama. Karena lebih mudah mengistalnya, kalau telepon yang lama harus mengubungi teknisi dulu untuk memasang,” ungkapnya.

Menurut pemuda kelahiran Buntok, 3 April 1995, kelebihan lain dari VoIP selain hemat dibiaya juga memiliki aplikasi yang bebas download bahkan bisa sampai free. Caranya tinggal diinstal pada komputer atau laptop dan dipasang headset. Begitupun kalau berpindah komputer tinggal menginstal ulang.

“Sekarang tiap kantor sudah memiliki jaringan internet maupun wifi. Maka dalam satu gedung itu bisa menjadi satu jaringan, karena syaratnya pengguna harus pada jaringan yang sama,” katanya.

VoIP merupakan teknologi yang menggabungkan antara paket suara dengan data melalui teknik codec (encoder-decoder) sehingga memungkinkan pengguna yang terkoneksi pada jaringan internet dapat melakukan panggilan suara atau video.

Selama ini sudah ada beberapa produk komunikasi VoIP yang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan seperti Skype, Google Talk, Whatsapp, BBM, Line dan Windows live messenger.

Tapi menariknya penelitian Irwan dibandingkan yang lain adalah penggunaan sistem keamanan. Dari hasil penelitiaannya dihasilkan performa VoIP menggunakan security VPN lebih baik dari pada VoIP yang tidak menggunakan security. Selain dari segi keamanan security tersebut juga dapat mengurangi adanya delay, packet loss dan jitter.

Irwan Anggara, Wisudawan Terbaik Jago Membuat Aplikasi

Irwan Anggara, Wisudawan Terbaik Jago Membuat Aplikasi

“ VoIP kebanyakan memiliki kelemahan ketika pengiriman berlangsung seperti delay, jitter, dan packet loss atau gangguan keamanan. Karena semakin maraknya pembajakan atau hacking, dengan menerapkan security pada VoIP, dapat meminimalisir kelemahan pada VoIP,” paparnya.

Di semester lima pemuda asal Kalimantan Tengah ini juga sempat mengikuti proyek dosen dalam pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya adalah membuat aplikasi ensiklopedia tanaman obat keluarga (TOGA) berbasis android untuk masyarakat Kelurahan Tasikmasuk, Lowok Waru, Kota Malang.

“Aplikasi ini mempermudah ibu-ibu Tasikmadu untuk melihat khasiat obat-obatan dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah. Jadi mereka tidak perlu membaca di poster lagi,” jabarnya.

Yang paling menantang adalah saat ia harus menjelaskan aplikasi tersebut kepada ibu-ibu. “Ternyata ibu-ibu tersebut malah konsultasi penyakit kepada saya. Kalau ada penyakit disuatu tanaman obatnya apa ?” katanya.

Ada sekitar 30 tanaman obat keluarga yang dimasukkan dalam aplikasi, kebanyakan tanaman tersebut tumbuh di sekitar lingkungan tempat tinggal. Kali pertama membuat aplikasi merupakan pengalaman tersendiri baginya, meskipun awalnya kesulitan dalam pemrograman data base dan desan.

Selain itu, Irwan juga pernah membuat aplikasi inventaris keluar masuk barang berbasis visual basic 6 dan Mc. Access. Aplikasi ini dibuat saat ia praktek kerja di BNI 45 Kota Malang. Aplikasi ini untuk mempermudah mencatat barang masuk dan keluar tanpa harus menulis lagi. “Di akhir bulan data ini bisa diprint sebagai laporan,” paparnya.

Pemuda berkacamata ini agak kesulitan saat pembuatan aplikasi. Pasalnya ia harus menyamakan spesifikasi aplikasi dengan komputer di bank. Ini merupakan aplikasi komputer pertama buatannya. (mer/humas)




Keluar Masuk Hutan Kalimantan demi Pembuatan 3D Animasi Perencanaan Jalur Pipa

Kadek Sukma Apryandika, pria yang ramah dan memiliki banyak pengalaman selama kuliah ini merupakan wisudawan terbaik Teknik Geodesi S1 ITN Malang. Salah satu pengalamannya yang luar biasa adalah saat praktek kerja dalam proyek Pengembangan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) di Tarakan, Kalimantan Utara, Tahun 2016.

Bersama dua rekannya Kadek keluar masuk hutan dengan berjalan kaki untuk melakukan kegiatan pengambilan data. “Survei yang kami ambil semua yang berkaitan dengan geodesi, seperti GPS, peta topografi darat-laut-udara. Totalnya ada enam survei dan yang paling berat disaat kami harus masuk hutan,” ungkapnya.

Menurut Kadek pengukuran ini diperuntukkan sebagai dasar dibangunnya jalur pipa air minum. Tidak hanya gambar dua dimensi (2D) saja yang dihasilkan, dengan pengukuran tersebut sebagai bahan untuk pembuatan animasi tiga dimensi (3D). Dengan model 3D maka gambar dalam peta terlihat hidup.

“Kelebihan lain animasi 3D, adalah membantu menjelaskan prosedur sehingga alur dari jalur perencanaan pipa lebih mudah dipahami dan dianalisa,” tukasnya.

Tantangan mengambil data dan melakukan pengukuran di hutan tidaklah mudah. Bersama dua rekan dalam satu tim dan hanya berbekal parang mereka harus berhadapan dengan banyak rintangan. “Kami keluar masuk hutan Kecamatan Sekatak dengan banyak rintangan, mulai disengat lebah, bertemu buaya muara, kecemplung di laut, sampai tidur di hutan. Bahkan penduduk lokal yang diajak masuk ke hutan sebagai pemandu tidak ada yang berani, karena hutan Sekatak masih dianggap angker,” kenangnya.

Keluar Masuk Hutan Kalimantan demi Pembuatan 3D Animasi Perencanaan Jalur Pipa

Keluar Masuk Hutan Kalimantan demi Pembuatan 3D Animasi Perencanaan Jalur Pipa

Beratnya medan tidak membuat pria kelahiran Gianyar, 20 April 1995 ini patah semangat. Lebih jauh Kadek memaparkan dalam sehari hanya bisa sekitar 300-400 meter mengukur lahan di hutan. Padahal untuk menuju lokasi dari mess membutuhkan waktu satu jam perjalanan speed boat dan tiga jam jalan kaki.

Dari praktek kerja inilah kemudian ia jadikan tugas akhir dengan judul : “Pembuatan 3D Animasi Perencanaan Jalur Pipa Menggunakan Software Terramodel Visualizer” yang berstudi kasus di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Pemilik IPK 3.54 ini tidak hanya suka tantangan dalam perkuliahan, namun juka suka mencoba hal baru. Bersama dua temannya yang lain, Kadek pernah mengeluti wirausaha makanan dengan nama Depot Ape Aden. Bahkan kala itu dalam satu hari pernah menerima orderan 600 porsi ayam betutu. Namun karena kesibukan masing-masing, depot vakum untuk sementara waktu.

Tidak hanya akademik bagus, dan paham kuliner, ternyata Kadek juga menguasai seni. Aktif bergabung dalam Komunitas Genjek Punk Kenten, yaitu suatu komunitas kesenian dari Bali yang berada di Malang. Di dalam komunitas inilah yang ikut mengasah rasa percaya dirinya ketika tampil di depan umum. (mer/humas)

 




Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Smarthome, Cara Efektif Melindungi Rumah

Mobilitas manusia yang cenderung tinggi terkadang menimbulkan kekhawatiran saat harus meninggalkan rumah apalagi dalam waktu yang lama. Karena kebutuhan terjaminnya keamanan rumah inilah yang mencetuskan ide cerdas Riko Cahyo Prabowo, salah satu wisudawan terbaik program studi Teknik Listrik D III ITN Malang, dengan IPK 3,66.

 

Riko biasa disapa berhasil membuat sistem pengontrolan rumah terpadu yang dapat dioperasikan dalam jarak jauh atau biasa disebut smarthome. Dengan smarthome pemilik rumah dapat mengetahui kondisi rumah sekaligus dapat menyalakan dan mematikan alat penerangan dari jarak jauh sesuai kebutuhan.

 
Uniknya sebagai media komunikasi dalam rancang bangun smarthome ini Riko melengkapinya dengan sistem keamanan menggunakan ardunino-uni berbasis SMS (short message service).
Menggunakan miniatur rumah pintar smarthome mengendalikan 13 titik lampu yang terbagi tiga grup, dan sistem keamanan menggunakan limit switch/saklar pembatas yang dipasang pada pintu dan jendela serta buzzer sebagai alarm. Kartu SIM yang digunakan disesuaikan dengan kekuatan sinyal yang bagus di wilayah smarthome digunakan.

 

Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Smarthome, Cara Efektif Melindungi Rumah

Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Smarthome, Cara Efektif Melindungi Rumah

Lebih jauh Riko memaparkan, apa bila limit switch pada pintu tertekan, secara otomatis buzzer akan berbunyi terus sampai tombol reset ditekan. Saat itu juga ardunino akan memerintahkan SIM 800L untuk mengirim sms “pintu terbuka” kepada nomor telepon yang digunakan sebagai remot, agar pemilik rumah mengetahui bahwa pintu telah dibuka.

 
“Pengontrolan dan pengendalian dapat dilakukan dari jarak jauh melalui sms. Smarthome ini juga dapat mendeteksi apabila rumah dalam keadaan kosong dan pintu dibuka maka alarm akan berbunyi dan mengirimkan sms pada si pemilih rumah,” tuturnya saat konferensi pers, Kamis (28/9).

 
“Kelebihan alat ini lebih ekonomis dan efisien, karena SMS bisa menggunakan koneksi 3G maupun 2G,” katanya.
Untuk menghemat biaya SMS maka ia menggunakan grup komunitas. Dalam percobaannya saat SMS dikirim maka ada beberapa lampu yang menyala bersamaan. Misalnya grup 1 terdiri dari lampu teras, ruang tengah dan ruang belakang, maka sekali perintah SMS dikirim “1 on” maka ketiga lampu tersebut akan menyala. Setelah lampu menyala maka arduino akan mengirim SMS balasan yang berisi “grup 1 hidup”.
Bagaimana kalau handphone hilang ? Menurutnya pemilik rumah tidak perlu khawatir, karena tinggal menyerel ulang di arduino. Ini juga berlaku saat ganti nomor handphone maupun rumah berganti pemilik tentunya.

 
Ke depan, bagi Riko masih terbuka peluang untuk pengembangan smarthome miliknya. Misalnya pada sistem keamanan bisa ditambah dengan menggunakan sensor api, dan sensor gas. Penambahan sensor untuk memberitahukan apabila terdapat lampu yang putus, atau terjadi kebakaran rumah.

 
Hasil karyanya mendapat apresiasi tersendiri dari dosen pembimbing. Terbukti selain lolos uji skripsi dengan berjudul : “Rancang Bangun Smarthome dengan Security System Menggunakan Arduino-Uno Berbasis Sms” dosen pembimbingnya juga meminta smartphone diaplikasikan di rumahnya. (mer/humas)