Sentra KI ITN Malang Dorong Dosen dan Mahasiswa Patenkan Hasil Penelitiannya

Sentra-KI-ITN-Malang-Jadi-Jembatan-Dosen-Lindungi-Karyanya-Secara-Hukum

Perlindungan secara hukum terhadap Kekayaan Intelektual (KI) civitas akademik menjadi perhatian serius Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Hal ini tidak hanya untuk meningkatkan prestis sang peneliti tetapi memang sudah selayaknya invensi-invensi orang-orang kampus biru diapresiasi melalui perlindungan kekayaan intelektual. “Kita yang sudah meneliti, tapi ternyata hasilnya malah dipatenkan oleh orang lain rasanya itu sakit,” terang Dr. Nanik Astuti Rahman ST, MT, ketua bidang ahli teknologi sentra KI ITN Malang saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (29/5)

Karena itu, lanjut perempuan asli Banyuwangi tersebut, pihaknya berupaya mendorong para dosen dan mahasiswa untuk melindungi hasil penelitiannya secara hukum. Saat ini, para peneliti di dunia berlomba-lomba mematenkan temuan-temuannya. Karena pemilik patenlah yang berhak atas suatu invensi sekalipun ada orang lain yang lebih dulu menelitinya. “Kemarin ada kejadian, antara orang Jogjakarta dan Surabaya. Invensinya sama, saat didaftarkan ke kemenkumham ternyata lebih dulu yang Jogjakarta satu menit. Ya akhirnya yang dapat paten yang Jogjakarta, padahal penelitiannya pengembangan dari yang Surabaya,” terang perempuan yang akrab disapa Nani itu.

Masih banyak lagi kasus dimana peneliti utama dikalahkan oleh peneliti pengembang hanya karena soal paten yang lebih dulu. Karena itu, kalau di luar negeri paten dulu baru melakukan penelitian, sementara di Indonesia masih sebaliknya.

Dalam kesempatan itu, Nanik juga menjelaskan beberapa jenis kekayaan intelektual yang sejauh ini masih kerap kali disalah pahami. Di antaranya: paten sederhana, paten (biasa), hak cipta, merek dagang, rahasia dagang, desain produk, indikasi geografis, desain tata letak sirkuit terpadu, dan perlindungan varietas tanaman. Menurutnya, masing-masing jenis KI ini berbeda satu sama lain. “Nama produk tertentu, itu perlindungannya bukan perlindungan paten tapi merek dagang. Atau menyangkut komposisi jenis makanan tertentu, maka perlindungannya bukan hak cipta tapi rahasia dagang,” tutur alumni ITN Malang tersebut.

Dengan pengklasifikasian tersebut, suatu invensi dapat memiliki lebih dari satu perlindungan KI. Katakanlah produk samrt phone A. Ia bisa mematenkan mereknya, desain produknya, rahasia dagangnya, dst. “Jadi tidak sesederhana yang dibayangkan bahwa produk tertentu sudah dipatenkan,” kata dia. (her)

 373 total views,  1 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC