Ramadhan 2

Supel, mudah bergaul dan ramah, itulah Moh Syahru Romadhon Sholeh. Wisudawan terbaik Program Studi Arsitektur S-1 ITN Malang ini mempunyai pengalaman dalam mengerjakan banyak proyek di bidang arsitektur baik tim maupun sendiri (freelance). Total ada 13 proyek yang ia terjuni selama menempuh kuliah di ITN Malang. Salah satunya masuk dalam tim Perencanaan DED (Detail Engineering Design) Taman Tepian Kayan Tanjung Selor Kalimantan Utara 2016 dan perencanaan pasar senggol di Kota Malang.

 

“Saya waktu itu ikut dan bertemu pejabat serta kepala dinas saat presentasi di Kalimantan Utara. Sedangkan untuk perencanaan pasar senggol saya sempat bertemu langsung dengan Wali Kota Malang,” ungkapnya saat konferensi pers di Kampus I ITN Malang, Kamis (28/9).

Wisudawan Terbaik Arsitektur Bermimpi Membangun Sekolah Islam Terpadu

Wisudawan Terbaik Arsitektur Bermimpi Membangun Sekolah Islam Terpadu

Selain ulet mengembangkan kemampuannya dalam arsitektur, pemuda kelahiran Mojokerto 4 Februari 1995 ini konsen mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Keinginan berkontribusi memajukan pendidikan ia tuliskan dalam tugas akhir yang berjudul : Sekolah Islam Terpadu di Kota Batu dengan Tema Green Architecture.

 
Ia membuat desain bangunan Sekolah Islam Terpadu dengan menggabungkan tiap jenjang sekolah yaitu SD, SMP dan SMA. “Perilaku usia anak didik sangat berbeda antara SD, SMP dan SMA. Dengan mengangkat konsep Green Architecture (pada poin Respect for user) aktivitas dari semua jenjang dapat terpenuhi dengan fasilitas yang disesuaikan dengan tingkatannya, baik kepada kaum disabilitas, anak normal dan kepada lingkungan,” paparnya.

 
Dimana respon bangunan terhadap aktifitas siswa yang memiliki jenjang berbeda-beda. Maka dengan gambaran penggunaan lahan 5 Ha, Romadhon biasa disapa membaginya dalam tiga zona SD, SMP, SMA yang diintegrasikan dengan zona fasilitas umum yang dapat digunakan bersama. Namun tiap jenjang juga memiliki fasilitas khusus dimana tiap jenjang tidak bisa digabung. Ada pemisahan lokasi yang jelas pada tiap jenjang.

 
“Untuk kaum disabilitas bisa terfasilitasi dengan akses menuju ruang dengan menggunakan fasilitas khusus yang salah satunya ram. Sedangkan dari segi psikologi desain, tempat bermain seperti ayunan didesain full color. Untuk penggunaan warna tiap kelas juga beragam, bangunan SD paling beda karena akan menggunakan banyak warna,” jabarnya.

 
Wisudawan yang bercita-cita sejak kecil ingin menjadi arsitek ini mempunyai mimpi suatu saat bisa mewujudkan pembangunan Sekolah Islam Terpadu. Ia bercita-cita mengkolaborasikan model pembelajaran dengan melihat potensi peserta didik. Penerapan model pembelajaran yang tidak hanya pendidikan umum, namun menyeimbangkan dengan pendidikan karakter dan agama.

 
Tidak hanya teruji dalam bidang arsitektur, pemuda yang pernah menyabet Juara 2 Esai (National Conference Inovator Nusantara Karya Nyata Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045 tahun 2017) ini aktif dalam kegiatan organisasi baik di dalam maupun luar kampus. Saat ini selepas wisuda Romadhon sedang mempersiapkan diri untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri sembari mengerjakan beberapa proyek yang sedang dikerjakan. (mer/humas)