Prof Wardana: Mengembangkan Green Technology Harus Menguasai Sains

Berinovasi dalam mengembangkan green technology harus disertai dengan penguasaan sains. Ini menjadi suatu poin yang tidak bisa diabaikan. Inilah yang ditekankan oleh Prof. Ir. I.N.G. Wardana, M.Eng, PhD., salah satu keynote speakers dalam Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri (SENIATI) 2018, di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Sabtu (3/2).

 
Indonesia mempunyai potensi besar terhadap green technology berbasis alam yang ramah lingkungan. Namun potensi tersebut terabaikan karena kurangnya pemahaman terhadap sains.

 
“Kita banyak mempunyai bahan tapi kita tidak kenal (potensinya) seperti alga, kunyit, sekam pati, atau batok kelapa yang hanya dipakai untuk membakar sate misalnya,” katanya.

 

Prof Wardana: Mengembangkan Green Technology Harus Menguasai Sains

Prof Wardana: Mengembangkan Green Technology Harus Menguasai Sains

Prof Wardana memberikan contoh bahwa sains bisa dikuasai dengan potensi dari bahan sangat sederhana. Misalnya batok kelapa, dengan sentuhan sains bisa diubah menjadi partikel nano. Dari partikel nano akan keluar menjadi karbon nano cube, yang bisa merubah air menjadi hidrogen. Atau bisa juga dibuat menjadi super kapasitor, bila di-charge bisa menyala.

 
“Sebenarnya kita kaya, tetapi kalau kita tidak menguasai sains maka kita tidak tahu bahwa kita itu kaya,” lanjut peneliti bidang advance technology material maju berbahan dari batok kelapa ini.

 
Menurut dosen Teknik Mesin UB ini, sains dan teknologi harus dikuasi agar Indonesia tidak tertinggal dari bangsa lain. “Kalau kita tidak mengikuti teknologi kita akan ketinggalan. Fakta telah membuktikan bahwa IT berkembang begitu cepat. Dengan adanya Go-Jek dan Grab, sebagian orang telah meninggalkan ojek dan taxi,” contohnya. Ia berpesan untuk menguasai sains dan teknologi maka pola fikir harus diubah. Sistem pendidikan tidak lagi menerima hafalan begitu saja namun harus berfikir sebab akibat.

 
“Yang bisa menjadikan kita berbuat apapun adalah ilmu pengetahuan. Dengan cara menggunakan olah pikir sains dan teknologi,” tegasnya. (mer/humas)