Alumni ITN Malang Beberkan Konsep Green Arsirektur

Diskusi “Patembayan Citrakara 2.0, Unclench Discussion” digelar di studio Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Kegiatan ini sebagai wujud sumbangsih alumni arsitektur angkatan 94 kepada almamaternya. “Alumni angkatan 94 mempunyai konsen yang tinggi untuk ikut serta membantu program studi dan memajukan adik-adiknya dengan ‘sharing’ pengalaman yang tidak bisa didapat di bangku kuliah,” ujar Ir. Suryo Tri Harjanto, MT., Kepala Program Studi Teknik Arsitektur, Sabtu (27/10/18).

Ada dua pemateri dari Patembayan Citrakara, yakni Purwantoro, ST., dari Greenship of GBCI (Green Building Council Indonesia), membahas GBCI dan penerapannya dalam arsitektur hijau dan konsep pembangunan berkelanjutan, serta Azwar Effendi, ST., sebagai ahli arsitek berbahan bambu.

“Alumni berdua ini berpengalaman langsung di lapangan. Agar tidak hanya diangan-angan saja dalam merancang sesuatu, maka mahasiswa perlu bersentuhan dengan praktisi yang berpengalaman di bidangnya,” imbuh Suryo.

Pemateri pertama, Purwantoro, ST., menjelaskan mengenai ‘green architecture’ sebagian metode pendekatan desain yang relatif baru, muncul pada tahun 2009. Konsep ‘green architecture’ berusaha meminimalkan pembangunan yang berdampak buruk kepada manusia dan lingkungan. “’Green architecture’ berupaya mendekatkan diri pada lingkungan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih baik. Mencegah degradasi lingkungan seperti makin sempitnya RTH (Ruang Terbuka Hijau),” jelasnya.

Purwanto juga mengingatkan akan efek buruknya rumah kaca dan pemanasan global sebagai salah satu penyumbang rusaknya lingkungan. Bagaimanapun dalam membuat desain bangunan menjadi tanggung jawab arsitek. “Penerapan ‘geen architecture’ Indonesia menyajikan pengembangan strategi desain sesuai iklim tropis di Indonesia. Karena apa yang kita buat, apa yang kita desain, akan kita pertanggungjawabkan,” tandasnya. (me/humas)