Membangun Candi Sapto Argo, Filosofi Pewayangan untuk 50 Tahun ITN Malang

Membangun Candi Sapto Argo, Filosofi Pewayangan untuk 50 Tahun ITN Malang

Pagelaran wayang dengan lakon ‘Candi Sapto Argo’ memberi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat Sumbersari sekitar kampus I ITN Malang, Sabtu (5/1/19). Dalang Ki Sabdo Anom Raharjo, memainkan anak wayang dengan apik. Melalui cerita pewayangan ini sang dalang menghibur dan memberikan pesan yang sarat akan filosofi. Khususnya bagi ITN Malang yang genap berusia 50 tahun, dimana visi misi dalam sebuah negara (institusi) begitu sangat penting. Untuk itu semua lini harus bersinergi memaksimalkan potensi.

“Cerita wayang tadi malam memang penuh filosofi, yang seharusnya menjadi cermin bagi kita sebagai civitas academica. Seyogyanya kita semakin merapatkan barisan, menguatkan visi dan misi menjadikan ITN Malang lebih baik lagi,” tutur Ir. Kustamar, MT., saat ditemui keesokan harinya di kampus II ITN Malang, Minggu (6/1/19).

Wakil Rektor I ITN Malang ini memang mempunyai perhatian tersendiri terhadap budaya khususnya pewayangan. Dengan setia Kustamar beserta rektor serta jajaran pimpinan mengikuti jalannya cerita. “Dengan begitu (merapatkan barisan) hasutan apapun dari orang yang tidak suka akan terminimalisir. Begitupun kalau kita merasa bersalah, harus segera menyadari dan intropeksi diri memperbaiki kesalahan yang ada,” pesan dosen asli Blitar ini. Menurutnya gelaran wayang kali ini memiliki kemasan bagus, kompak dan sangat menghibur.

Pakar pengairan ini kemudian menceriterakan sekilas lakon wayang kulit. Adalah sebuah tempat dimana merupakan pusat perguruan, yang mempunyai guru besar bernama Abiyasa. Abiyasa ini sekaligus merupakan kakek Pandawa dan Kurawa. Beliau (sang kakek) melihat kehidupan cucu-cucunya semakin hari semakin tidak baik, ini berbeda dari sebelumnya. Banyak pelanggaran terhadap norma-norma yang ada.

 

Membangun Candi Sapto Argo, Filosofi Pewayangan untuk 50 Tahun ITN Malang
Membangun Candi Sapto Argo, Filosofi Pewayangan untuk 50 Tahun ITN Malang

Sebagai guru besar sebuah perguruan sekaligus seorang kakek, beliau mempunyai ide untuk memberikan pembelajaran bagi cucu-cucunya. Tujuannya tak lain agar menyatu kembali antara Pandawa dan Kurawa. Maka akhirnya digulirkanlah isu bahwa Abiyasa akan membangun sebuah candi.

Mendengar hal tersebut Pandawa dan Kurawa kemudian saling berebut mendekatkan diri kepada kakeknya. Mereka berharap bisa ikut terlibat dalam pembangunan candi, namun mereka tidak paham apa yang harus diperbuat karena tidak ada informasi detail dari sang kakek.

Maka kemudian semua saling berkompetisi memperebutkan perhatian Abiyasa, sehingga diantara mereka terjadi gesekan-gesekan. Kesempatan ini ternyata dimanfaatkan oleh pihak ketiga dengan menghasut. Kondisi Pandawa dan Kurawa yang tidak sevisi lagi mengakibatkan mereka termakan hasutan tersebut dan terjadilah peperangan.

Singkat cerita melihat kondisi tersebut Abiyasa akhirnya turun tangan. Ia kemudian menjelaskan yang dimaksud dengan membangun candi adalah membangun pribadinya masing-masing, karena mengingat sekarang kondisi cucu-cucunya sudah tidak satu visi dan misi lagi. Pandawa dan Kurawa kemudian disarankan untuk intropeksi dan mulai membangun moralnya masing-masing.

Setelah semuanya sadar dan menjadi lebih baik lagi, Tuhan yang di dalam pewayangan di diperlambangkan jadi Sang Hyang Wenang turun ke bumi dan memberi anugerah kepada Abiyasa. Abiyasa yang dulunya masih mempunyai keinginan menjadi kesatria diminta melepaskan kesatriannya kemudian diberi gelar Begawan Abiyasa. Di akhir cerita kehidupan kedua negara dari pandawa dan Kurawa menjadi normal guyup rukun kembali. (me/humas)

 1,906 total views,  1 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC