Dokumenter Sexy Killers Bahan Diskusi dan Literasi Mahasiswa Geodesi

Dokumenter Sexy Killers Bahan Diskusi dan Literasi Mahasiswa Geodesi

Mahasiswa geodesi ITN Malang nobar dan diskusi film dokumenter Sexy Killers. (Foto: Mita/Humas)


Film dokumenter Eksepedisi Indonesia Biru “Sexy Killers” ini menceriterakan bencana akibat eksplorasi batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Berdurasi 88 menit film dokumenter karya WatchDoc tersebut diputar di ruang 41 gedung Geodesi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Jumat, (19/4/19) malam. Nonton bareng (nobar) ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG) dan terbuka untuk seluruh mahasiswa Teknik Geodesi ITN.

Ni Made Novita Rizki Arthayani, Sekretaris Umum HMG mengatakan, mahasiswa tidak hanya sekedar nobar saja, namun selesai pemutaran film akan diadakan diskusi bersama. Diharapkan dengan melihat film dan berdiskusi akan melatih budaya literasi mahasiswa geodesi. “Mahasiswa geodesi tidak hanya bisa menonton, namun juga bisa menanggapi. Film ini cocok untuk bahan diskusi, sehingga kami (HMG) berupaya memberikan ruang berkumpul dan berdiskusi,” ujar Novita akran disapa.

Menurut Novita, setelah melihat “Sexy Killers” pasti ada pro dan kontra. “Bagi orang awam pengaruh negatif pertambangan sangat buruk, karena bisa merusak alam dan berdampak pada manusia. Namun, disisi lain hasil dari tambang tersebut sangat bermanfaat bagi manusia. Misalnya, dari batu bara bisa menghasilkan listrik, kabel, dan lainnya,” Terang Novita akrab disapa. Menurutnya di dalam film ini yang ditayangkan hanya dampak negatifnya saja, sedangkan dampak positifnya tidak diekspos.

 

Geodet ITN Malang serius menyimak film dokumenter Eksepedisi Indonesia Biru. (Foto: Mita/Humas)
Geodet ITN Malang serius menyimak film dokumenter Eksepedisi Indonesia Biru. (Foto: Mita/Humas)

 

Hal tersebut dibenarkan oleh Dysvan Meru Gawa Alfitra, Ketua Umum HMG. Menurut pemuda yang akrab disapa Meru ini, pastinya nanti saat bekerja dipertambangan alumni geodesi akan berhadapan dengan problem yang sama. Disitulah tugas mereka agar bisa menyeimbangkan antara pemanfaatan tambang sekaligus menjaga lingkungan.

“Tugas kami sebagai mahasiswa bagaimana bisa ‘melek’ dan memperbaiki dampak buruk pertambangan. Setidaknya kami tahu, saat lulus dan bekerja di pertambangan tidak melakukan kesalahan yang sama,” tandas Meru.

Ia menegaskan, seumpama lulus nanti, dan jadi petinggi pertambangan ia akan menghilangkan budaya buruk seperti tidak mereklamasi. Bagaimanapun masyarakat yang dekat dengan pertambangan terkena imbasnya. (mer/humas)

 295 total views,  1 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC