Mahasiswa ITN Malang buat “Sikrid Ryana” untuk Peternak Ayam

Tim Sikrid Ryana bersama mitra. Dari kiri ke kanan, Agung Bagus Putranto, Muhammad Halim Prayogo, Emi Ma’rifa (mitra), dan Dini Aprillia Mulyawati

Tim Sikrid Ryana bersama mitra. Dari kiri ke kanan, Agung Bagus Putranto, Muhammad Halim Prayogo, Emi Ma’rifa (mitra), dan Dini Aprillia Mulyawati. (Foto: Istimewa)


Selama ini peternakan ayam di Wajak, Kabupaten Malang masih memanfaatkan listrik untuk berbagai keperluan, seperti penerangan, penghangat kandang, penetasan telur, serta memompa air. Kebutuhan listrik yang masih memanfaatkan sumber listrik dari PLN tersebut tidak sedikit, dan menjadi beban biaya bagi peternak ayam. Melihat kondisi tersebut Dini Aprillia Mulyawati, Agung Bagus Putranto, dan Muhammad Halim Prayogo, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang membuat terobosan renewable energi sebagai solusi. Ketiga mahasiswa Teknik Elektro S-1 ini memanfaatkan sumber energi, yakni dari sel surya dan biogas.

“Peternak di Wajak masih konvensional menggunakan listrik PLN untuk keperluan kandang ayam, hingga menghabiskan 500 sampai 600 ribu rupiah perbulannya. Jadi, kami ingin membantu menghasilkan energi alternatif dari sinar matahari dan memanfaatkan biogas dari korotan ayam yang ada,” ujar Dini Aprillia Mulyawati, Ketua Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Teknologi, yang didanai Kemenristekdikti tahun 2019.

Sistem Kelistrikan Hybrid Renewable Energy untuk Peternakan Ayam ini disebut dengan “Sikrid Ryana”. Gabungan dari sel surya dan biogas tersebut dapat digunakan langsung atau bisa disalurkan langsung ke beban. Jika disiang hari sel surya akan memberikan kontribusi yang cukup besar untuk menghasilkan energi listrik, dan di malam hari berganti biogas akan berperan menghasilkan energi listrik.

“Solar cell untuk lampu sebagai penerangan malam hari serta siang hari kalau terjadi hujan. Sedangkan biogas bisa dimanfaatkan pada pompa untuk mengisi air minum ayam ke tandon. Untuk tandon kan membutuhkan energi besar, jadi tidak cukup kalau hanya dari solar cell, jadi ditambah suplay dari genset biogas,” beber Dini. Dengan begitu pemanfaatan genset biogas akan membantu mengurangi limbah kotoran ayam.

Sikrid Ryana (Sistem Kelistrikan Hybrid Renewable Energy untuk Peternakan Ayam)
Sikrid Ryana (Sistem Kelistrikan Hybrid Renewable Energy untuk Peternakan Ayam)

Renewable energy dari solar cell menggunakan panel surya yang berfungsi untuk menyerap energi matahari yang nantinya akan disambungkan dengan kabel ke controller. Dari controller tersebut terbagi menjadi 3 bagian sambungan, yaitu panel surya, baterai, dan inverter yang dapat diputus dan disambungkan dengan menggunakan switch agar lebih aman.

Sedangkan untuk biogas bahan bakunya adalah kotoran ayam dari peternakan ayam itu sendiri. Kotoran dikumpulkan dalam digester selama 1 bulan untuk proses penguraian kotoran oleh bakteri-bakteri. Hasil biogas difilter dulu untuk mendapatkan metana murni dan ditampung di tangki penampungan. Gas yang telah didapat kemudian disalurkan ke genset melalui pipa dengan regulator untuk mengatur tekanan, disini gas metan difungsikan sebagai pengganti bahan bakar LPG, solar. Untuk selanjutnya output dari generator yang berupa tegangan listrik dialirkan ke instalasi listrik yang telah dibuat. (mer/humas)

 440 total views,  1 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC