Analisis Deformasi Jembatan Akibat Banjir Bandang Berbasis Fotogrametri Jarak Dekat

Larasaty Ayu Parsamardhani lulusan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pada wisuda ke 67 periode I tahun 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Bencana alam di Malang Raya dua tahun terakhir sempat menjadi perhatian dan keprihatinan nasional. Salah satunya adalah bencana banjir bandang yang menerjang beberapa wilayah Malang Raya akibat curah hujan yang tinggi. Intensitas curah hujan tersebut tentunya mempengaruhi derasnya aliran air pada sungai yang bermuara di Waduk Selorejo.

Banjir bandang selain berdampak pada faktor ekonomi dan sosial, juga berdampak pada infrastruktur. Salah satunya jembatan yang berada di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Sebagai langkah mitigasi untuk keselamatan dan kelangsungan hidup masyarakat, dan antisipatif untuk mengurangi kerugian Larasaty Ayu Parsamardhani melakukan pemantauan deformasi pada objek jembatan di Desa Pandansari berbasis fotogrametri jarak dekat.

“Saya melakukan analisis deformasi untuk melihat adakah pergeseran jembatan akibat banjir bandang. Dengan membandingkan data (foto) sebelum, dan pasca banjir bandang,” ujar Laras akrab disapa. Laras merupakan wisudawan terbaik Teknik Geodesi S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTI), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Ia diwisuda pada wisuda ke 67 periode I tahun 2022.

Baca juga : Penuh Pengalaman, Geodet ITN Malang Magang Bersertifikat di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Menurut Laras, selama ini salah satu faktor kendala dalam proses memperoleh informasi tentang kekuatan struktur, dan perubahan bentuk serta dimensi (per satuan waktu) dari objek-objek tersebut adalah tingginya biaya operasional, serta lamanya pengolahan data apabila digunakan alat ukur konvensional. Maka, dengan memanfaatkan kamera DSLR menjadi metode alternatif yang cepat, murah, mudah, dan akurat untuk mendeteksi pergeseran atau deformasi struktur material jembatan akibat banjir bandang. Data-data foto digital hasil pemotretan jembatan diproses lebih lanjut dengan perangkat lunak tertentu untuk mendapatkan koordinat retro reflektif target yang sudah dilekatkan secara merata pada objek jembatan sebagai titik referensi.

 Larasaty Ayu Parsamardhani melakukan pemotretan jembatan dengan memanfaatkan kamera DSLR. (Foto: Istimewa).
Baca juga:

“Jadi, data sebelum dan pasca banjir bandang dianalisis memakai software untuk mendapatkan nilai koordinat. Masing-masing gambar diolah baru dianalisis pergeserannya, dilihat perbandingan dari koordinat tersebut,” imbuh putri pasangan Kadarsin Surya Kencana, dan Immaculata Mulyaningsih Putri.

Foto hasil yang diolah merupakan hasil pemotretan secara berkala dari Bulan Juli 2020 sampai Agustus 2021. Dari analisa deformasi struktur jembatan berhasil dideteksi dengan nilai antara 0.026 mm – 5.867 mm dengan tingkat ketelitian pengukuran berkisar 0.081 mm. Dengan tingkat ketelitian pengukuran tersebut sistem ini mampu untuk mendeteksi adanya deformasi struktur lebih kecil dari 0.1 mm, bahkan pergeseran yang tidak kasat mata pun masih bisa terdeteksi.

Baca juga :  Senangnya Lolos Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), dapat Ilmu dan Pengalaman

“Dan hasil akhirnya alhamdulillah tidak didapat pergeserannya pada jembatan. Jadi, jembatannya cukup kuat menahan limpahan banjir. Jikalau ada pergeseran maka harus ada tindak lanjut,” tandasnya. Dara asal Kota Malang ini lulus dengan IPK 3,63 dengan dosen pembimbing Martinus Edwin Tjahjadi, ST., MgeomSc., PhD., dan Feny Arafah, ST., MT. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print