Back

Indonesia Darurat Narkoba, Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Solusinya

Indonesia bahkan dunia lagi gencar-gencarnya menyuarakan Stop Narkoba !. Darurat narkoba ini membuat media massa baik televisi, koran maupun media online marak dengan berita seputar penyalahgunaan narkotika. Keadaan ini membuat mahasiswa ITN Malang turut prihatin dan mendorong terciptanya sebuah aplikasi pendeteksi narkotika. Diberinama NATECT (Narcotic Detector), merupakan aplikasi deteksi wajah pengguna narkoba berbasis android. “Berita di televisi semua tentang narkoba, semula baik-baik saja tiba-tiba sudah ditangkap pihak berwajib. Dari situ saya mencoba membuat aplikasi untuk deteksi dini bagi pengguna narkoba,” tutur Bastian Wisnu Priyatna Ketua Tim PKMKC 2017.

Bastian wisnu mahasiswa ITN Malang alat deteksi narkoba
Menurut mahasiswa Teknik Informatika ini, mata kuliah yang ia tempuh mempelajari tentang pengolahan citra digital dan computer vision sangat membantu dalam pembuatan aplikasi natect tersebut. “Jadi lebih expand bisa memanfaatkan kamera dalam implementasi sistem biometrika dengan objek wajah sebagai parameternya. Dari topik-topik itu akhirnya saya gabungkan,” jelasnya saat ditemui di ruang humas, Sabtu (15/7).
Mahasiswa semester tujuh ini menggunakan empat parameter untuk mengetahui ciri wajah pengguna narkoba, yaitu entropi, energi, kontras dan homogenitas, dengan metode GLCN (Gray Level Co-Occurrent Matrix). Metode ini berfungsi untuk mengidentifikasi ekstraksi wajah pengguna narkoba dengan membandingkan dengan citra wajah yang sehat.
Aplikasi ini menggunakan empat fitur : deteksi, informasi, pelaporan dan panduan rehabilitasi. Cara kerjanya fitur deteksi diarahkan ke wajah (wajah tegak presisi), foto disimpan ke galeri, citra akan disimpan ke server untuk dilakukan pemrosesan dengan diekstraksi ciri. Kemudian hasilnya akan ditampilkan di layar handphone dalam bentuk nilai prosentase. User bisa menyimpan data ini untuk pribadi atau ditindak lanjuti kepada pihak yang berwenang. ”Dalam aplikasi ini juga ada panduan rehabilitasi, jadi keluarga terdekat bisa membantu selama pengguna masih bisa ditangani secara dini,” jabarnya.
Judul dan proposal Program Kreatifitas Mahasiswa Pendanaan Ristek Dikti 2017 tersebut sudah mengikuti monev eksternal di Kampus UM, Kamis (13/7). Ini merupakan proposal kali kedua, dimana sebelumnya dengan deteksi pupil mata pada pengguna narkoba tidak lolos PKM. “Judulnya hampir sama, hanya obyek yang diganti. Tahun kemarin pupil mata, sekarang deteksi wajah dan mengganti metode,” ungkap mahasiswa asli Pacitan ini.
Penelitian yang dilakukan sejak bulan Mei ini masih dua puluh prosen, dan Dikti hanya memberi waktu sampai Agustus akhir. Minimnya literatur ilmiah mengenai ciri-ciri pengguna narkoba tidak menjadi hambatan bagi Tim NATECT yang beranggotakan Bella Fardani, Ivandi Rifniansah, dan Zulkifli Arief untuk terus berjuang memperbaiki dan menyempurnakan aplikasi ini. (mer/humas)

image_pdfimage_print
id_IDIndonesian