Back

Dosen Teknik Lingkungan Kampus Biru Terjun ke Kampung Bersinar

Kepala Program Studi Teknik Lingkungan ITN Malang, Sudiro, ST MT sekaligus Koordinator Lomba Kampung Bersinal Kota Malang (kanan depan) bersama tim saat melalukan penjurian di RW 06 Kelurahan Merjosari, Kota Malang. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Perhelatan Lomba Kampung Bersinar Kota Malang untuk mendorong dan membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tahun ini tetap digelar meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, penjurian Lomba Kampung bersinar diikuti 135 RW dari 57 kelurahan mulai awal Oktober hingga akhir November 2020.

Seperti tahun-tahun sebelumnya dua dosen dari Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang turut terlibat dalam tim juri. Yakni, Sudiro, ST MT Kepala Program Studi Teknik Lingkungan, dan Candra Dwi Ratna, ST MT.

“Alhamdulillah ITN Malang sebagai perwakilan dari perguruan tinggi masih diberi kepercayaan oleh DLH Kota Malang untuk menjadi tim penjurian Lomba Kampung Bersinar. Pas banget lomba ini dengan Teknik Lingkungan, karena di indikator penilaian banyak yang berkaitan dengan Teknik Lingkungan,” ujar Sudiro yang sekaligus dipercaya sebagai Koordinator Tim Juri Lomba Kampung Bersinar saat ditemui beberapa waktu lalu.

Candra Dwi Ratna, ST MT dosen Teknik Lingkungan ITN Malang (dua dari kiri) saat melakukan penjurian Lomba Kampung Bersinar di salah satu RW. (Foto: Istimewa)
Candra Dwi Ratna, ST MT dosen Teknik Lingkungan ITN Malang (dua dari kiri) saat melakukan penjurian Lomba Kampung Bersinar di salah satu RW. (Foto: Istimewa)

Sudiro menyebutkan, ada lima indokator penilaian lomba. Diantaranya adalah penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, sarana dan prasarana sanitasi, serta pemberdayaan masyarakat.

Ada dua tim juri yang terjun langsung ke lapangan. Masing-masing tim beranggotakan lima orang. Mereka merupakan perwakilan beberapa elemen. Seperti, ITN Malang perwakilan dari perguruan tinggi, kemudian ada Kader Lingkungan Kota Malang, LSM Lingkungan, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, dan dari media.

Lomba Kampung Bersinar di tengah pandemi ternyata tidak menyurutkan semangat warga untuk berkreasi dan berinovasi. Ini terbukti ditiap kedatangan tim juri warga menyambut dengan antusias.

Baca juga: Kaprodi Teknik lingkungan: TPA Kota Batu Potensi Pengelolaan Akhir Berbasis Sumber

Menurut Sudiro, dibanyak RW warga berusaha berlomba-lomba mengolah sampah menjadi produk yang berguna bahkan bernilai secara ekonomi. Mereka juga memanfaatkan lahan yang terbatas untuk menanam berbagai macam tanaman bermanfaat. Barang-barang bekas juga disulap menjadi media tanam.

Sebut saja RW 09 Kelurahan Kotalama, Kedungkandang. Warga berhasil mengurangi sampah organik dari dapur dengan memanfaatkan sebagai komposter cair. Inovasi ini meminimalkan limbah yang terbuang. “Fokusnya Teknik Lingkungan kan tidak jauh-jauh dari penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, sanitasi. Ketika variabel-variabel itu baik, maka akan tercipta sebuah kampung yang sehat,” lanjut Sudiro.

Dikatakan Sudiro, pemanfaatan barang bekas juga dilakukan oleh RW 05 Kelurahan Tunggul Wulung, Lowokwaru. Melalui konsep urban farming warga juga memanfaatkan barang bekas, seperti wadah cat bekas dan botol air mineral untuk media tanam.

Baca juga: ITN Malang Peduli Sampah Ajak Mahasiswa Ikut Aksi

”Ada pemanfaatan barang bekas juga. Namun di RW 05 Tunggul Wulung pengolahan sampah belum ada. Ini perlu bersama-sama dicarikan inovasi,” kata Sudiro.

Yang unik ditemui tim juri adalah pengolahan limbah pampers bayi menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomi. Ibu-ibu di RW 01 Tunjungsekar berkreasi mengolah sampah pampers menjadi vas bunga, lampu duduk beserta cup lampunya.

“Di Tunjungsekar pengolahan sampah sudah bagus, juga sudah mempunyai bank sampah. Malah di Tunjungsekar ada nilai plusnya. Yakni, daur ulang pampers,” pujinya.

Keberadaan bank sampah dan pengolahan sampah organik menjadi komposter memang menjadi solusi untuk menekan volume sampah yang terbuat ke tempat pembuangan akhir (TPA). Bagaimanapun juga selama ini permasalahan sampah menjadi masalah bersama dan menjadi perhatian serius oleh pemerintah.

“Ya, harapannya semangat kebersihan lingkungan, penghijauan dan inovasi-inovasi pengelolaan sampah tidak hanya saat ada lomba saja. Tapi terus dipelihara dan ditingkatkan dari waktu ke waktu. Sehingga kualitas kesehatan warga meningkat. Apalagi saat pandemi seperti ini. Semua harus saling menjaga,” pungkas Sudiro. (me/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print
id_IDIndonesian