Back

Dari Ajang Putra Putri Pendidikan Jawa Timur 2022, Mahasiswa ITN Malang Masuk 10 Besar Duta Pendidikan

Ray Bara, mahasiswa ITN Malang menjadi Duta Pendidikan Jawa Timur 2022-2023, Kategori Remaja, dari Ajang Putra Putri Pendidikan Jawa Timur 2022. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Punya kemauan keras, ramah, supel, dan suka tantangan layak disematkan kepada Ray Bara. Mahasiswa Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini berhasil masuk 10 besar Duta Pendidikan Jawa Timur 2022-2023, Kategori Remaja, dari Ajang Putra Putri Pendidikan Jawa Timur 2022. Setelah sebelumnya mengikuti grand final yang digelar di Grand City Mall Surabaya, Selasa (28/6/2022).

Ray Bara mengaku baru kali pertama mengikuti ajang pemilihan putra putri pendidikan, atau ajang yang serupa. Pria kelahiran Sulawesi Selatan ini termotivasi ikut lomba agar bisa berkontribusi memajukan dunia pendidikan di Jawa Timur.   

“Senang, tidak pernah menyangka bisa lolos 10 besar menjadi Duta Pendidikan Jawa Timur. Saya baru pertama kali ini ikut, dan langsung masuk grand final. Sempat berdebar, tapi excited juga,” kata Bara sapaan akrab Ray Bara, saat ditemui Ruang Humas ITN Malang, Jumat (08/7/2022).

Tidak mudah bagi Bara lolos dalam ajang tersebut. Ada sekitar 300 kontestan yang bersaing mulai tahapan pendaftaran di Bulan Januari 2022. Beruntung bagi Bara tidak mengikuti tes tahap pertama. Ia langsung mengikuti tes tahap kedua berkat dukungan teman-temannya.

Baca juga : Tujuh Inovasi Antarkan Tim Spectra Doa Dosen Menangkan National Tender Competition di Bali

“Saya dapat golden tiket. Karena mendapat dukungan like, dan komen terbanyak. Jadi langsung mengikuti tes tahap dua,” ujarnya.

Hingga akhirnya, Bara lolos sampai tahap grand final. Ia masuk dalam 12 pasang kontestan putra – putri, dan harus mengikuti karantina selama tiga hari di Surabaya, mulai Jumat – Minggu (24-26/6/2022). Event yang diadakan oleh Yayasan Ikatan Pemuda Prestasi Indonesia ini rutin diselenggarakan setiap tahun. Tahun ini mengangkat tema Terwujudnya Insan yang Cerdas, Berakhlak, Profesional, dan Berbudaya.

Saat karantina. Ray Bara, mahasiswa ITN Malang, Duta Pendidikan Jawa Timur 2022-2023, mewakili Kota Malang, bersama pasangannya dari perwakilan Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)

“Sebenarnya kompetisi sesungguhnya ya di saat karantina. Jika di hari biasa kami bisa santai-santai. Kalau sudah di dalam karantina dari subuh sampai tidur semua diperhatikan oleh panitia. Cara bersikap, berbicara, sampai cara makan semua diperhatikan. Kami anak kuliahan penampilan apa adanya, tapi saat di karantina harus lebih rapi,” kesannya.

Diceritakan Bara, di dalam karantina itulah kontestan belajar banyak hal. Mereka juga diharuskan bisa presentasi kelompok, menunjukkan minat dan bakat, keterampilan komunikasi, deep interview, dan lain sebagainya.  

Menurut Bara, yang harus dipersiapkan dalam lomba bukan hanya sekedar pengetahuan. Tapi juga harus bisa menempatkan diri, memiliki etika dan kepribadian, public speaking baik, dan sebagainya. Serta, harus melek terhadap isu yang sedang berkembang saat ini.

“Perkembangan ke depan harus update terus. Seperti agenda G20, dan industri 4.0. Sebelum-sebelumnya untuk G20 saya tidak begitu paham manfaat luasnya. Baru di karantina ini mendalami. Biasanya kan hanya sekedar membaca berita saja,” jelas mahasiswa semester dua ini.

Dengan menjadi Duta Pendidikan Jawa Timur Bara berharap bisa langsung terjun ke masyarakat. “Saya senang bersosialisasi dan bertemu banyak orang. Menyenangkan tentunya kegiatan Duta Pendidikan Jawa Timur. Bisa bersosialisasi dengan masyarakat, kunjungan ke panti asuhan, berbagi ilmu, dan lainnya,” jelas Bara bersemangat. 

Baca juga : Ecive Dorong Siswa SMK Terapkan Eco House dalam Desain Rumah Dua Lantai

Waktu tiga hari ternyata sempat menorehkan cerita sendiri dalam ingatan Bara. Pemuda yang ringan tangan ini sempat meminjamkan laptopnya kepada kontestan yang lain. Bahkan laptop yang biasa untuk kuliah ini beberapa kali pindah tangan. Hingga akhirnya kembali ke Bara sudah dalam keadaan tidak bisa dinyalakan.

“Kan ada tugas-tugas. Selama karantina saya tidak pegang laptop. Jadi saat di hari ketiga saya buka, laptopnya tidak bisa nyala. Dan harus diservis,” kenangnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print
id_IDIndonesian