Back

Mahasiswa ITN Malang Rancang Malang Superblock Hunian One Stop Living

Nicodimus Wijanarko lulusan terbaik Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang, wisuda ke 68 tahun 2022. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Malang Superblock merupakan sebuah kawasan berkonsep one stop living. Konsep rancangan Nicodimus Wijanarko wisudawan terbaik Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini bertujuan untuk mewadahi kegiatan masyarakat Kota Malang mulai dari komersial, pendidikan, hingga hunian.

Malang Superblock menjawab keresahan masyarakat akan perkembangan penduduk, dimana lahan hunian makin terbatas dan mahal. Belum lagi kemacetan Kota Malang yang berada di posisi keempat sebagai kota termacet se-Indonesia setelah Surabaya, Jakarta, dan Denpasar versi perusahaan analisis dan penyedia data pengelolaan lalu lintas Inrix. Melalui hasil survey Global Traffic Scorecard tahun 2021.

“Sebagai kota tujuan pelajar Kota Malang semakin banyak pendudukannya, dan kemacetan dimana-mana. Sementara kebutuhan akan tempat tinggal meningkat, sedang lahan semakin berkurang karena adanya alih fungsi lahan sawah menjadi rumah,” tutur Nico yang merupakan wisudawan terbaik Prodi Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), ITN Malang pada wisuda ke-68 tahun 2022.

Baca juga : Kerennya Maket Rest Area Tumpakrejo Karya Mahasiswa Arsitektur

Solusi yang ditawarkan pemilik IPK 3.86 ini adalah sebuah konsep bangunan one stop living dengan kawasan independen yang tersentralisasi. Total bangunan yang desain ada dua tower. Terdiri dari 15 dan 18 lantai yang dikelilingi oleh mall dan apartemen. Bangunan vertikal lengkap dengan fasilitas komersial, perkantoran, pendidikan, fasilitas hiburan, pusat perbelanjaan, perhotelan, wisata, dan hunian dimana setiap fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan era milenial saat ini.

“Dengan konsep hunian vertikal akan meminimalkan penggunaan lahan, yang akhirnya alih fungsi lahan berkurang. Sekaligus mengurangi kemacetan, karena semua fasilitas sudah berada di dalam satu lokasi (bangunan),” imbuhnya.

Desain Malang Superblock sebuah kawasan berkonsep one stop living karya Nicodimus Wijanarko wisudawan terbaik Arsitektur S-1 ITN Malang.

Menurut Nico, di Kota Malang belum ditemukan kawasan yang menerapkan konsep semacam ini. Untuk pendekatan desain arsitektur yang digunakan dalam merancang Malang Superblock mengacu pada hasil pendalaman observasi setempat, serta studi banding perancangan serupa. Sehingga diharapkan tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan masyarakat Kota Malang.

Sebagai milenial Nico tidak lupa akan kebutuhan dan perkembangan zaman. Adanya transisi era industri 4.0 ke 5.0 kawasan Malang Superblock menggunakan High-Tech. “Setelah riset di Kota Malang belum ada yang sepenuhnya High-Tech. Meliputi smart ekosistem. Ketika masuk ke superblock pengunjung hanya menggunakan fasilitas handphone (hp), dengan scan barcode. Penghuni juga bisa menyalakan dan mematikan elektronik dengan menggunakan hp,” jelas wisudawan asal Situbondo ini.

Sementara untuk bangunanya sendiri menerapkan fasad yang diekspos dengan tiga material, kaca, besi, dan plastik. Besi yang digunakan besi berlubang sehingga memberi kesan artistik. Pencahayaan juga memanfaatkan dan memaksimalkan pencahayaan alami. Dimana setiap kamar memiliki jendela. Vegetasi juga diletakkan di tiap unit, sementara tiap lantai terdapat area terbuka hijau sebagai area komunal.

Baca juga : Atasi Kemacetan di Kota Malang, ITN Malang Siap Kontribusi Terjunkan Pakar Transportasi

“Kawasan ini diharapkan mampu menjadi landmark serta ikon baru di Kota Malang dalam menghadapi era Industri 4.0, menjadi jawaban bagi masyarakat akan kebutuhan hunian, dan mengurangi kemacetan. Penghuni area tersebut juga tidak perlu kemana-mana untuk memenuhi kebutuhannya,” harap putra dari Anton Wijanarko, dan Maria Yuniati Ningsi.

Selama kuliah Nico juga sempat mengerjakan proyek desain beberapa hunian di Kota Malang, Cilegon, Manado, serta Makasar. Ia juga aktif di beberapa kegiatan MBKM. “Waktu MBKM mengerjakan desain Rest Area Desa Tumpakrejo tim kami hanya diberi waktu 21 hari. Sehingga kami harus tidur di studio selama tiga hari. Tidur pun harus bergantian, soalnya kalau tidur semua desain tidak akan selesai,” kenangnya. Ia lulus skripsi dibawah bimbingan Bayu Teguh Ujianto, ST., MT M, dan Nelza Mulki Iqbal, ST., MSc. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print
id_IDIndonesian