Back

Muhammad Alfian Fauzannova Membuat Mesin Pelet Ergonomis Untuk Home Industri

Muhammad Alfian Fauzannova, lulusan terbaik Teknik Industri D-3, Fakultas Teknologi Industri (FTI), ITN Malang pada wisuda ke 68 tahun 2022. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Pakan ternak yang bergizi merupakan faktor yang sangat penting untuk menghasilkan hewan ternak yang sehat dan berkualitas. Salah satunya pelet, yang berdasarkan ukurannya sangat cocok untuk pakan ternak jenis unggas (ayam dan bebek). Para peternak biasanya membuat sendiri pelet dari bahan-bahan mentah. Pembuatan pelet ini menjadi kendala di home industri ayam dan bebek milik Pak Hadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Pasalnya dalam pembuatan pelet masih manual menggunakan tangan.

Masalah inilah yang berusaha dipecahkan oleh Muhammad Alfian Fauzannova, lulusan terbaik Teknik Industri D-3, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. “Saya amati pembuatan peletnya masih diaduk dengan tangan, dengan posisi bapaknya duduk di bawah. Lama kelamaan posisi tersebut bisa mengganggu kesehatan bapaknya. Usianya sudah 60 tahun,” tutur Alfian akrab disapa.

Baca juga : Kedaireka ITN Malang Ubah TPS Poncokusumo jadi Wisata Edukasi Berbasis Technopark

Alfian kemudian memiliki ide untuk membantu Pak Hadi membuat alat/mesin pencacah dan pengolah pelet yang ergonomis. Keunggulan mesin ini lebih efektif dan efisien dalam produksi. Pencampuran pakan lebih berkualitas, dan komposisinya tercampur merata. Selain itu mampu memperbaiki kesalahan dan kesehatan kerja.

“Waktunya juga lebih cepat 40 persen dari pembuatan secara manual,” imbuh pemilih IPK 3.67 ini. Alfian ikut diwisuda pada wisuda ITN Malang ke 68 tahun 2022 beberapa waktu lalu.

Muhammad Alfian Fauzannova (paling kanan) memperlihatkan mesin pencacah dan pengolah pelet yang didesain secara ergonomis. (Foto: Istimewa)

Mesin pencacah dan pengolah pelet terbuat dari rangka besi hollow dengan tinggi 108 cm, panjang 82 cm, dan lebar 41 cm. Mesin digerakkan oleh dinamo listrik. Dilengkapi roda portabel sehingga bisa dipindahkan menyesuaikan tempat. Besar alat sudah disesuaikan dengan ergonomis tubuh manusia.

Dengan mesin tentunya durasi waktu pembuatan pelet juga semakin efektif. Pelet sebanyak 4 kg biasanya dibuat secara manual memakan waktu 15 menit, dengan menggunakan mesin selesainya lebih cepat menjadi 8,3 menit. Cara pengoperasian mesin juga mudah. Pertama-tama roda penggilingnya diputar kemudian bahan baru dimasukkan. Pelet yang sudah jadi akan keluar di bagian bawah berbentuk padat memanjang berdiameter 4 mm. Pembuatan mesin ditaksir 4,5 juta rupiah. Dipasaran dengan spesifikasi yang sama harga mencapai 6-9 juta rupiah.

“Mesin pelet sudah dirancang lebih ergonomis. Ukuran mesin sesuai dengan dimensi dari pekerja. Kami juga mengutamakan keselamatan pekerja. Makanya mesin desainnya dibuat tertutup, tapi masih bisa dibuka untuk maintenance,” katanya. Untuk skripsi ia dibimbing oleh Dr. Priscilla Tamara, ST, MT.

Baca juga : Rektor ITN Malang Lepas Keberangkatan Alumni Fresh Graduate Bekerja

Semasa kuliah Alfian ternyata memiliki kesibukan diluar akademik. Ia punya kerja sampingan sebagai fotografer, videografer, serta editor video untuk salah satu youtuber di kota asalnya Madiun. Sejak 2020 ia memang tergabung dalam klub organisasi fotografer. Diakhir masa kuliahnya ia juga menyempatkan diri bekerja sebagai grafik desainer dan marketing assistant di salah satu agen umroh Surabaya yang berpusat di Jakarta.

“Tugas saya mendesain brosur. Kadang juga membantu membuat power point untuk presentasi umroh. Karena pekerjaan ini bisa dilakukan secara online,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

image_pdfimage_print
id_IDIndonesian