HIMAKPA ITN Malang Kibarkan Bendera di 5472 mdpl di Island Peak, Nepal

HIMAKPA ITN Malang Kibarkan Bendera di 5472 mdpl di Island Peak, Nepal

Anggota Luar Biasa HIMAKPA ITN Malang Kibarkan Bendera di 5472 Mdpl, Island Peak, Nepal. (Foto: Istimewa)

 

Alfonso Reno Erawan, Eko Ludy Maryono, Dewi T Malik, anggota luar biasa Himpunan Mahasiswa Teknik Pecinta Alam (HIMAKPA) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil kibarkan bendera HIMAKPA di ketinggian 5472 mdpl di Island Peak, Nepal. Kawasan pegunungan Himalaya Everest Range, Nepal ini memang menawarkan destinasi pendakian terbaik. Di kalangan pendaki, Nepal dikenal pemilik pegunungan Himalaya. Pegunungan Himalaya memiliki gugusan es yang membentang di lima negara, Nepal, India, Bhutan, Tibet, dan Pakistan. Sedangkan Island Peak (Puncak Pulau) memiliki ketinggian 6189 mdpl, menjulang di bagian Selatan Everest yang merupakan puncak paling diminati oleh para pendaki.

Untuk menambah wawasan tentang pendakian gunung es, anggota luar biasa HIMAKPA ITN Malang bersama tiga alumni Vignesvara ABM Malang berangkat dari Jakarta pada tanggal 28 Februari 2019 lalu, dan tiba di Kathmandu, Nepal pada hari yang sama. Pendakian dimulai pada tanggal 2 Maret 2019 hingga sampai saat summit attack (istilah yang digunakan saat akan naik ke puncak gunung) tanggal 10 Maret 2019.

“Kondisi (Island Peak) cukup ekstrim bagi kami yang biasa tinggal di negara tropis, dengan suhu sekitar -14 hingga -40. Kondisi gunung sangat bervariasi, kami menemukan jalan tanah, berbatu, salju, dan es. Memang sangat berat, karena ketinggiannya hampir dua kali tinggi gunung yang pernah kami daki di Indonesia, dengan suhu yang sangat dingin,” terang Alfonso Reno kepada humas ITN beberapa waktu lalu.

Namun, sayangnya ke 6 anggota tim tersebut tidak bisa sampai ke puncak Island Peak di 6189 mdpl. Pasalnya, di ketinggian 5472 mdpl mereka dan semua rombongan pendaki Island Peak terkendala dengan adanya badai angin. “Sayangnya kami berhenti di 5472 mdpl. Jadi, pada saat ‘summit attack’ kami terkena badai angin kencang sehingga suhu turun drastis. Maka, team memutuskan untuk stop di 5472 mdpl. Ini untuk kemanan semua anggota,” ujar Reno. Bukan hanya tim dari Indonesia yang memutuskan berhenti, tapi juga ada tim dari Jepang dan rombongan lainnya yang tidak berhasil sampai puncak.

 

Anggota Luar Biasa HIMAKPA ITN Malang bersama alumni Vignesvara ABM Malang. (Foto: Istimewa)
Anggota Luar Biasa HIMAKPA ITN Malang bersama alumni Vignesvara ABM Malang. (Foto: Istimewa)

Tidak berkecil hati, mumpung di Nepal, Reno dan teman-temannya juga mencoba spot arung jeram di Sungai Trisuli. Menghadapi kondisi yang berbeda dari Indonesia, mereka sudah mempersiapkan diri mengikuti prosedur pendakian dengan melakukan teknik aklimatisasi. Dalam pendakian gunung, aklimatisasi merupakan penyesuaian/adaptasi tubuh terhadap ketinggian tertentu (lingkungan baru).

“Hal lain yang harus dipersiapkan adalah latihan fisik yang intens dan mengejar VO2 max (volume oksigen maksimum yang dapat digunakan permenit. Red) agar dapat mencapai 50mg/kg,” ujar Reno. Selain latihan fisik, peralatan pendakian gunug es yang layak juga dipersiapkan.

Mendaki gunung di luar negeri bukan hal yang baru bagi Reno dan teman-temannya. Sebelumnya mereka juga pernah mendaki Poon Hill, Nepal, dua tahun silan.
“Keindahan yang disajikan pada saat naik gunung sangat luar biasa, dan dengan naik gunung kami menjadi pribadi yang tangguh. Dapat bekerja sama secara team, serta bisa bertangung jawab secara pribadi. Semoga apa yang kami lalukan bisa memberi inspirasi bagi adik-adik HIMAKPA di ITN Malang,” pungkas alumni Teknik Mesin angkatan 1992 ini. (mer/humas)

 560 total views,  1 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC