Redesign Jembatan Blahkiuh Ayunan Badung Bali, Terinspirasi dari Youtefa Papua

I Komang Azi Sunarya Guritna lulusan terbaik Teknik Sipil S-1 ITN Malang, pada wisuda ke-66 periode II tahun 2021. (Foto: Yanuar/humas) 


Malang, ITN.AC.ID – Jembatan merupakan infrastruktur paling penting untuk menghubungkan satu titik ketitik lain, baik dalam satu daerah maupun antar daerah yang terpisahkan oleh suatu rintangan seperti, sungai, lembah, rawa, teluk, bahkan laut. Dibeberapa daerah jembatan tidak hanya sebagai penghubung semata, namun juga berfungsi estetika.

Fungsi estetika inilah yang ingin ditambahkan I Komang Azi Sunarya Guritna pada jembatan Blahkiuh Ayunan, di Kabupaten Badung, Bali. Menurut Azi akrab disapa, jembatan memiliki variasi bentuk desain, material, dan fungsi yang bermacam-macam, salah satunya pelengkung baja. Maka, putra Bali ini memilih redesign (mendesain kembali) tipe pelengkung baja, karena diyakini memiliki konstruksi yang kuat, dan mempunyai nilai estetika.

“Sebenarnya sudah ada bangunan (eksisting) jembatannya di Badung, Bali. Karena, jembatannya masih jembatan beton biasa, maka saya melakukan redesign dengan mengubah model jembatan menjadi jembatan pelengkung dengan baja,” kata Azi saat ditemui di ruang Humas ITN Malang beberapa waktu lalu.

Azi yang merupakan lulusan terbaik Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada wisuda ke-66 periode II tahun 2021 ini, ingin memberikan nuansa lain. Sehingga desain jembatan tidak monoton. Desain jembatan yang berkesan monumental, tapi strukturnya tetap kuat bisa mendukung wajah Bali sebagai daerah wisata.

Baca juga: Dua Tim Teknik Sipil ITN Malang Juara 3 dan Nominasi 4 Tingkat Nasional Kompetisi Desain Tahan Gempa 2021

Dikatakan Azi, jembatan eksisting memiliki panjang 90 meter, lebar 9 meter dengan 2 pilar di tengah bentang jembatan. Dengan lebar jalur kendaraan 7 meter, serta kanan-kiri trotor selebar 1 meter. Maka, Azi melakukan Studi Alternatif Perencanaan Struktur Atas Jembatan Tipe Pelengkung Dengan Box Baja Menggunakan Metode DFBK pada Jembatan Blahkiuh-Ayunan, Kab. Badung, Bali. Dengan metode perencanaan yang digunakan yaitu DFBK (Desain Faktor Beban dan Ketahanan), dan menggunakan program bantu SAP2000 V20.

“Panjang jembatan 90 meter itu sudah termasuk jembatan bentang panjang. Dan untuk jembatan dengan konstruksi pelengkung sangat cocok digunakan. Jembatan selain memperhatikan kekuatan konstruksi juga memperhatikan efeknya di lendutan. Jadi, jembatan lengkung cocok untuk meredam lendutan,” lanjut pemilik IPK IPK 3,72 ini.

Redesign Jembatan Blahkiuh Ayunan Badung Bali karya mahasiswa ITN Malang terinspirasi dari Jembatan Youtefa Papua. (Foto: Istimewa)

Alternatif desain yang dibuat Azi menggunakan profil box, yang terinspirasi oleh jembatan Youtefa di Papua. Keuntungan menggunakan profil box desain lebih trendi. Proses pembuatannya dilakukan di pabrikasi, sehingga bisa memangkas waktu pengerjaan di lapangan. Keuntungan lainnya, jembatan ini akan memberikan kekuatan struktur yang lebih lebih optimal. Bentang jembatan yang cukup panjang 90 meter juga tidak memerlukan tiang penyangga di bawahnya.

“Jadi, dari jembatan eksisting ada pilar tiang penyangga di bawahnya. Karena jembatan beton setiap 25 meter atau 40 meter memerlukan penyangga. Dengan jembatan pelengkung, maka penyangga ini tidak diperlukan lagi. Jadi (jembatan) langsung dari ujung ke ujung,” jelas putra pasangan I Made Suwela dan Ni Ketut Nariani ini.

Baca Juga : Sebanyak 69 Pelajar Ramaikan Lomba Konstruksi Jembatan (LKJ) ITN Malang

Jembatan lengkung ini juga lebih mudah dalam perawatan. Ketika ada yang rusak, maka tinggal menganti batangnya. “Jembatan beton kalau rusak harus dibongkar. Beda dengan baja, tinggal batang yang rusak yang diganti,” pungkasnya yang lulus dengan memuaskan atas bimbingannya Ir Sudirman Indra, MSc, dan Dr Yosimson P Manaha, ST MT. (me/Humas ITN Malang)

 335 total views,  5 views today

image_pdfimage_print
itn.ac.id - Powered by PUSTIK - NOC