Back

Mahasiswa Teknik Kimia Bantu Atasi Stunting dengan Olahan Bahan Lokal

Tim BOOST, Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ITN Malang 2024. Ki-ka: Betarina Natasya F, Trustha Aurora F, Adhisty Elcahyani, Elvin Sindi, dan Firmanta Waruwu. (Foto: Istimewa)


Malang, ITN.AC.ID – Prevalensi stunting pada anak di Indonesia perkembangannya cenderung tidak menentu. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Biasanya ditandai dengan tinggi badan berada di bawah standar tinggi badan anak seusianya. Selain mempengaruhi pertumbuhan fisik, dalam jangka pendek stunting juga menyebabkan terganggunya perkembangan otak, dan metabolisme tubuh.

Upaya menurunkan angka, dan mencegah stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab bersama. Seperti yang dilakukan 5 mahasiswa Teknik Kimia S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Lewat Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2024 mereka mengolah tepung talas dan spirulina menjadi olahan mie kering. Substitusi tepung umbi talas dan penambahan spirulina pada mie ini bermanfaat untuk mencegah stunting.

“Kami ikut prihatin dengan masih banyaknya kasus stunting di Indonesia. Nah, untuk mencegahnya dengan mengonsumsi makanan yang bergizi. Maka kami tergerak membuat mie dengan bahan baku lokal umbi talas,” kata Dhisty sapaan akrab Adhisty Elcahyani, Ketua Tim PKM RE saat dihubungi lewat sambungan Whatsapp.

Tergabung dalam Tim BOOST (Better Option of Spirulina Taro in Noodles to Stop Stunting). Tim terdiri dari Adhisty Elcahyani (2114011), Betarina Natasya F (2114003), Trustha Aurora F (2214004), Adhisty Elcahyani (2114011), Elvin Sindi (2314013), dan Firmanta Waruwu (2314017). Dibimbing oleh dosen Teknik Kimia ITN Malang, Dra. Siswi Astuti, M.Pd.

Tim BOOST mencari solusi untuk memecahkan permasalahan stunting di masyarakat. Mereka berlima mengembangkan ide lewat riset atau penelitian PKM RE dengan judul “Substitusi Tepung Ubi Talas (Colocasia Esculenta L.) dengan penambahan Spirulina (Arthrospira Platensis) pada Mie Kering untuk Pencegahan Stunting”.

Baca juga: Mahasiswa Teknik Kimia ITN Malang Ikuti Taiwan Experience Education Program (TEEP) 2024 ke Tatung University Taiwan

Melihat masyarakat Indonesia khususnya anak-anak sangat gemar mengkonsumsi mie, maka Tim BOOST memilih produk berbentuk mie sebagai terobosan. Sebenarnya mie instan sangat tidak baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering. Untuk itu Tim BOOST membuat inovasi mie kering yang sehat dan bergizi berbahan substitusi tepung talas dan spirulina. Tepung talas mudah ditemukan, sementara spirulina memiliki kadar protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pencegahan stunting.

Mahasiswa Teknik Kimia ITN Malang menciptakan mie kering untuk atasi stunting pada anak. (Foto: Istimewa)

Menurut Dhisty, untuk membuat mie kering sangat mudah seperti membuat mie pada umumnya. Bahan yang dibutuhkan adalah tepung terigu, tepung talas, spirulina, dan bahan pendukung lainnya. Untuk tepung talasnya mereka membuat sendiri karena umbi talas mudah ditemukan. Mereka mendapatkannya di pasar tradisional atau pasar desa, dan sebagian didapat langsung dari petani umbi talas.

Setelah bahan-bahan ditakar kemudian dicampur dan diuleni dengan air hingga kalis. Lalu adonan dipipihkan menggunakan noodle maker, dan dipotong menjadi untaian mie. Selanjutnya dikukus kurang lebih 5 menit, dan dikeringkan dengan alat dehidrator selama 2 jam dengan suhu 60°C.

“Pengeringannya kami lakukan dengan dehidrator untuk mempertahankan kualitas gizi dan warna pada mie. Karena warna hijau mie merupakan warna asli dari spirulina. Sebenarnya bisa juga dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, tapi nanti gizi di dalam mie bisa berkurang, warnanya juga berubah banyak. Dengan dikeringkan mie mampu bertahan lama,” ungkapnya.

Dikatakan Dhisty untuk mie kering ini yang dianalisa yaitu uji organoleptik, uji kadar air, kadar abu, karbohidrat, lemak, protein, e.coli (mikroba) dan logam. Dari hasil riset, produk mie Tim BOOST telah sesuai dengan SNI mie kering, sehingga saat dikonsumsi aman dan tidak menimbulkan efek samping.

Baca juga : Produk Karya Mahasiswa Teknik Kimia Menjawab Diversifikasi Pangan

Kedepannya untuk penelitian mereka bisa dikembangkan dengan menambah variabel berat spirulina hingga diperoleh kandungan gizi yang lebih tinggi. Serta bisa mengkombinasikan dengan bahan-bahan alami lainnya. Bisa juga dengan membuat mie basah yang komposisinya sama dengan mie kering talas dan spirulina.

Dhisty mengingatkan, untuk sampel dari produk hasil penelitian yang akan diujikan harus benar-benar dijaga, karena merupakan produk hasil olahan pangan. “Apabila ada kesalahan sedikit dalam pembuatan, baik takaran, kebersihan akan menimbulkan efek samping dan beresiko pada tubuh,” serunya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang).

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023