
Uniknya Expo Gigantik ITN Malang: Dari Pameran Karya Prodi Hingga Maba Berbaju Adat yang Unik dan Nyentrik
Suasana mahasiswa dan UKM expo di Gigantik 2026 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Suasana Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mendadak riuh dan penuh warna pada Rabu (02/09/2026). Ratusan mahasiswa baru (maba) Abhyasa 57 tampak memadati area halaman rektorat untuk berburu informasi seputar dunia perkuliahan dan kegiatan kemahasiswaan dalam ajang Expo HMPS dan UKM Gigantik 2026.
Ada yang beda pada perhelatan tahun ini. Jika biasanya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengenalkan diri di atas panggung di aula, panitia kali ini menyediakan stan di area outdoor. Konsep ini sengaja dipilih agar maba punya ruang gerak yang lebih leluasa untuk berinteraksi langsung dengan para seniornya. Menariknya lagi, expo tidak hanya diisi oleh UKM, tapi juga melibatkan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) serta beberapa stan mitra kampus seperti BTN, Telkomsel, dan BRI Medika.
Sesuai tradisi Gigantik, para maba Abhyasa tampil nyentrik dengan busana adat daerah asal masing-masing serta kain batik. Kehadiran mereka membuat deretan stan terasa seperti festival budaya mini.

Maba ITN Malang (kiri) sedang mencoba peragaan jurus bersama anggota UKM Jujitsu. (Foto: Humas ITN Malang)
Di area FTSP, Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) memajang maket jembatan dan gedung, sementara Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG) memamerkan alat-alat surveying yang membuat maba penasaran. Beralih ke FTI, Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) unjuk gigi lewat sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan instalasi listrik, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) memajang produk olahan pangan, serta Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) yang memamerkan karya kapal tak berawak.
Stan UKM tak kalah riuh diserbu maba. UKM Himakpa memajang inflatable raft (perahu arung jeram) berukuran besar di depan stan. Sementara UKM olahraga bela diri seperti Jujitsu dan Taekwondo memajang perlengkapan bertanding serta sarung tinju yang bebas dicoba oleh para maba. Stan lain seperti Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Lembaga Dakwah Islamiah (LDI), hingga Duta Kampus juga ramai dipadati pengunjung.
Kebebasan maba untuk bereksplorasi secara langsung ini rupanya membakar semangat para maba, salah satunya Ahmad Dewandaru Tegar. Maba Bisnis Digital asal Malang ini bahkan tak canggung mengenakan sarung tinju untuk menjajal peragaan jurus bersama anggota UKM Jujitsu.

Mahasiswa Teknik Kimia ITN Malang dengan sabar menjawab setiap pertanyaan maba. (Foto: Humas ITN Malang)
“Saya tertarik mau mengaktifkan lagi hobi bela diri. Sebelumnya pernah belajar Jujitsu tapi sempat terhenti. Kebetulan memang cari olahraga yang bikin berkeringat dan sehat. Karena postur kaki saya tidak terlalu panjang, saya lebih fokus ke teknik pukulan dan tangkisan,” ujar Tegar penuh semangat usai mencoba sarung tinju di stan Jujitsu.
Atmosfer keberagaman budaya juga dirasakan betul oleh Zhara Tussitha Fahmi, maba Teknik Geodesi asal Jambi. Tampil anggun mengenakan baju kurung dan penutup kepala tengkuluk, Zhara mengaku sempat berlatih memakai penutup kepala tradisional itu selama dua hari sebelum berangkat expo.
“Ibu yang minta bawa baju adat ke kampus. Kebetulan ini motif batiknya ada gambar buaya, khas Kelurahan Teluk Dawan di Jambi. Bangga sekali bisa mengenakan pakaian adat daerah sendiri karena sepertinya dari Jambi cuma saya sendiri di sini. Selain cari tahu soal perkuliahan di Geodesi, saya juga tertarik masuk Duta Kampus karena ingin melatih public speaking dan menambah wawasan,” tutur Zhara.
Tak kalah berkesan, Khalil Gibran, maba Teknik Sipil asal Lombok, turut mencuri perhatian dengan pakaian adat Goreng Tongkek khas suku Sasak. “Seru banget acara hari ini, ramah-ramah semua seniornya. Selain kenal dengan kakak tingkat di jurusan Sipil, saya juga langsung tertarik bergabung dengan UKM Himakpa. Soalnya saya hobi mendaki gunung waktu di Lombok, jadi rasanya pas banget buat menyalurkan hobi,” kata Gibran.
Koordinator Gigantik 2026, Ida Soewarni, ST., MT., menyampaikan apresiasinya atas antusiasme seluruh organisasi kemahasiswaan yang telah unjuk kebolehan di ajang ini.
“Semua stan mengapresiasi karena diberi kesempatan untuk mengejawantahkan diri. Baik UKM maupun HMPS merasa diapresiasi dan diakui keberadaannya. Harapannya wadah ini terus ada, karena saat mereka berkumpul bersama seperti ini, rasa menyatunya sangat terasa. Ini jadi ruang pengenalan yang menyenangkan. Untuk UKM mereka bisa pilih sesuai hobi demi pengembangan diri, sedangkan untuk HMPS tentu menjadi bagian wajib dalam perjalanan akademik mereka,” papar Ida.
Baca juga: Pesan Dr. Aladin untuk Mahasiswa Baru ITN Malang: Kuliah Teknik Jangan Malu Deketin Dosen!
Hal senada diungkapkan Koordinator Acara, Reni Rupianti, SM., MM. Menurutnya, perubahan konsep menjadi outdoor terbukti efektif mencairkan suasana antara maba dan organisasi kampus.
“Semua stan yang disediakan panitia terisi penuh, baik oleh HMPS, UKM, maupun mitra Gigantik. Konsep tahun ini memang beda. Kalau dulu penjelasan UKM dilakukan di dalam ruangan, kali ini dibuat di luar ruangan dan maba yang mendatangi stan secara langsung. Jadi semua UKM dan HMPS mendapat porsi kesempatan yang sama untuk mengenalkan dirinya,” jelas Reni. (Mita/Humas ITN Malang)



