
Kisah Khoyru Nisya Salsabila Putri, Wisudawan Terbaik Teknik Sipil ITN Malang yang LuwesBerorganisasi dan Rintis Karir Sejak Kuliah
Khoyru Nisya Salsabila Putri lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1n Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITN Malang pasa Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Di balik deretan wisudawan berprestasi Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, ada sosok Khoyru Nisya Salsabila Putri yang mencuri perhatian. Mahasiswi asal Kota Batu, Jawa Timur ini berhasil menyandang predikat Lulusan Terbaik Program Studi Teknik Sipil S-1 ITN Malang dengan IPK mengagumkan, 3.81. Saat ini, Putri sedang menjalani kontrak magang terbatas secara remote di Boon Technologies, Inc. (Boon AI), sebuah perusahaan berbasis di California yang berfokus pada dua sektor industri utama, yaitu Sektor Konstruksi serta Sektor Logistik & Operasi Armada.
Keberhasilan ini menjadi momen emosional bagi keluarga besarnya. Lahir sebagai anak tunggal dari pasangan Ahmad Purianto, seorang buruh tani, dan Evi Dwi Riskiah, seorang ibu rumah tangga, Putri akrab disapa tak kuasa menahan haru saat melihat orang tuanya meneteskan air mata bahagia.
“Reaksi orang tua bangga sekali, ayah dan ibu sampai menangis dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Apalagi saya ini cucu pertama yang berhasil meraih gelar sarjana dari pihak ibu,” tutur Putri yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 mendatang.
Perjalanan kuliah alumnus SMAN 3 Batu ini diraih melalui jalur penerima KIP Kuliah (KIP-K) Aspirasi. Pendidikan unggul di kampus teknik ternama ini memberi ruang bagi anak bangsa dari berbagai latar belakang untuk membuktikan kapasitasnya.
Selama menempuh studi, Putri dikenal sangat aktif. Di luar jam kuliah, ia ikut pengabdian masyarakat (abdimas) dosen, aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMS), hingga lolos ke babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025 serta ajang jembatan balsa. Masuk semester tujuh, ia bahkan sudah merambah dunia freelance sebagai drafter dan perancang perhitungan struktur.
Di sela kesibukan yang padat, Putri tak segan membantu ibunya menjaga warung di rumah. Memanfaatkan perangkat seadanya, ia juga membuka jasa cetak (print) dokumen untuk anak-anak sekolah di sekitar rumahnya.
“Kalau bagi waktu, tugas kuliah sebisanya saya selesaikan di kampus. Jadi di rumah tinggal mengerjakan sisanya. Saya sering di kampus sampai malam, mengerjakan tugas akademis sekaligus urusan himpunan,” ungkapnya.
Pengalaman berorganisasi di HMS juga mengubah pribadi Putri yang dulunya pemalu. Dipercaya sebagai koordinator bidang melatih keberanian dan kemampuan pemecahan masalahnya (problem solving). “Dulu public speaking saya buruk sekali. Sejak aktif di himpunan, karena dituntut pintar bicara dan menyelesaikan masalah, di situlah saya betul-betul belajar. Ternyata organisasi tidak menghambat akademik, justru memperbanyak pengalaman,” kenang Putri.
Khoyru Nisya Salsabila Putri mahasiswa Teknik Sipil S-1 ITN Malang saat mengikuti babak final Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025. (Foto: Istimewa)
Keaktifannya di KBGI pun berawal dari peran sederhana. Awalnya, ia hanya anggota tim pendukung (support team) kontingen. Melihat kegigihan para finalis berjuang memicu motivasinya hingga akhirnya ia mempersiapkan diri jauh-jauh hari dan berhasil lolos ke babak final.
Skripsi Angkat Teknologi Masa Depan Konstruksi: Pengendalian Jembatan Besuk
Kecerdasan akademis Putri tecermin kuat dalam tugas akhir skripsinya di bawah bimbingan Dr. Lila Ayu Ratna Winanda, ST., MT., dan Dr. Yosimson Petrus Manaha, ST., MT. Ia mengangkat judul “Analisis Pengendalian Waktu dan Biaya dengan Building Information Modeling (BIM) Berbasis Earned Value Management (EVM) Studi Kasus Jembatan Besuk Kabupaten Bondowoso”.
Dalam penelitiannya pada Proyek Pembangunan Jembatan Besuk Ruas Kota Bondowoso, Putri menerapkan pemodelan 3D menggunakan perangkat lunak Tekla Structures untuk menghasilkan quantity take-off otomatis. Data tersebut diintegrasikan dengan metode EVM melalui indikator Cost Performance Index (CPI) dan Schedule Performance Index (SPI).
“Di Jembatan Besuk belum ada pemodelan 3D. Saya membuat pemodelannya di Tekla Structures untuk menghitung volume secara lebih detail. Hasilnya, perhitungan volume dengan BIM terbukti lebih efisien dan hemat sekitar 0,013 dibanding perhitungan manual,” jelasnya.
Menariknya, penggunaan Tekla ini dipelajari Putri secara mandiri dari nol. Meski proses menggambarnya membutuhkan kecermatan tinggi, software ini memberikan hasil detail untuk evaluasi kinerja biaya dan waktu secara kuantitatif.
“Awalnya mau pakai Revit, tapi supaya lebih presisi saya pilih Tekla. Analisis EVM ini membantu mengetahui kinerja proyek secara real-time, apakah terlambat atau over budget. Di awal pelaksanaan proyek sempat ada keterlambatan, tapi di pertengahan progresnya bisa dipacu jadi lebih cepat dari perencanaan awal,” tambahnya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Teknik, Putri tidak lantas berpuas diri. Sambil menjalani rangkaian tes rekrutmen kerja, ia tengah bersiap untuk berburu beasiswa demi melanjutkan studi ke jenjang S2. (Mita/Humas ITN Malang)



