Back

Intip Tantangan Survei Batimetri di Lapangan, Geodesi ITN Malang Pertajam Wawasan Mahasiswa Siap Kerja

Teknik Geodesi ITN Malang menggelar Kuliah Tamu Geodesi 2026 diikuti puluhan mahasiswa Geodesi dari berbagai angkatan. (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Dunia kerja di sektor maritim dan konstruksi laut ternyata menyimpan cerita lapangan yang unik dan penuh tantangan. Mulai dari urusan dinamika alur pelayaran hingga risiko menemukan benda berbahaya seperti ranjau sisa perang dan jangkar raksasa di dasar laut. Realita itulah yang dibagikan secara blak-blakan dalam Kuliah Tamu Geodesi 2026 bertajuk “Peran Survei Batimetri untuk Mendukung Pekerjaan Dredging” di Aula Kampus 1 ITN Malang, Senin (14/09/2026).

Acara yang digagas Himpunan Mahasiswa Geodesi (HMG), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) ini menghadirkan praktisi berpengalaman dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Ir. Asti Rahayu, ST. Di hadapan puluhan mahasiswa Teknik Geodesi dari berbagai angkatan, Asti membeberkan betapa krusialnya pemetaan bawah air (bathymetry survey) sebelum dan selama proyek pengerukan (dredging) pelabuhan berjalan.

“Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan punya sekitar 111 unit pelabuhan laut yang diusahakan. Untuk menjaga kedalaman alur masuk pelabuhan agar kapal bisa lewat dengan aman, pengerukan rutin itu wajib. Nah, disitulah kunci peran ahli geodesi,” papar Asti.

Baca Juga : Bisa Jalan-Jalan Digaji Besar, Pakar ITN Malang Sebut Lulusan Teknik Geodesi Tidak Bakal Tergantikan Robot

Asti menekankan, pemetaan batimetri memainkan peran vital di seluruh tahapan proyek pengerukan, mulai dari pre-dredging survey untuk menghitung volume sedimentasi dan menentukan rencana anggaran biaya (RAB), interim/progress survey tiap dua minggu untuk memantau titik under-dredging atau over-dredging, hingga post-dredging survey sebagai jaminan keselamatan navigasi serta syarat verifikasi pembayaran final (Mutual Check 100%).

“Dua hal yang paling penting dalam konstruksi laut adalah kombinasi data batimetri dan data tanah (investigasi tanah/bor log). Data ini jadi kunci awal untuk menentukan arah pekerjaan selanjutnya, memilih jenis kapal keruk. Apakah tipe hopper atau non-hopper, hingga perhitungan estimasi biaya dan volume pengerukan,” tambahnya.

Ir. Asti Rahayu, ST., praktisi dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, saat membawakan materi di Kuliah Tamu Geodesi 2026 di ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)

Dalam paparannya, Asti juga menjelaskan ragam peralatan penting yang digunakan dalam survei batimetri, seperti echosounder (SBES/MBES), GPS Geodetictransducer, hingga palem pasut. Peralatan teknis ini sangat menentukan keakuratan peta tematik dan Electronic Navigation Charts (ENC) demi menjamin Safety of Navigation kapal.

Menurutnya, tantangan di lapangan semakin kompleks ketika tim survei berhadapan dengan berbagai rintangan bawah laut (obstacle pengerukan). Mulai dari shipwreck (bangkai kapal karam), UXO (Unexploded Ordnance atau sisa bahan peledak/ranjau laut), anomali magnetik, hingga koordinasi penempatan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP). Untuk mengatasi masalah bangkai kapal misalnya, tim harus melalui prosedur ketat mulai dari identifikasi dan pelaporan publik, pengangkatan menggunakan grab dredger, hingga pemindahan material ke darat secara legal.

Baca juga: Go International! Tiga Alumni ITN Malang Resmi Berkarir di Raksasa Galangan Kapal Hanwha Ocean Korea Selatan

Tak hanya itu, aspek regulasi dan legalitas lokasi pembuangan material (dumping area) juga menjadi sorotan. Pembuangan material hasil keruk di luar area yang ditentukan dalam dokumen SIKK/PKKK merupakan bentuk pelanggaran hukum. Oleh karena itu, kapal Hopper Barge wajib dilengkapi dengan sistem Automatic Identification System (AIS) dan dipantau posisinya secara akurat lewat koordinat GPS serta aplikasi MarineTraffic.

Kehadiran praktisi lapangan ini disambut hangat oleh pihak kampus. Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor I ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., dan Sekretaris Prodi Teknik Geodesi, Adkha Yulianandha Mabrur, ST., MT., yang sepakat bahwa kolaborasi dengan praktisi industri sangat penting untuk memperkuat kurikulum akademis dan memberi gambaran riil dunia kerja kepada mahasiswa.

Dosen Teknik Geodesi ITN Malang yang bertindak sebagai moderator, Hery Purwanto, ST., M.Sc., juga berpesan agar para mahasiswa memanfaatkan momentum ini untuk mengasah keahlian teknis yang bisa saling melengkapi dengan bidang lain, khususnya teknik sipil keairan dan pelabuhan.

“Harapan kami, kuliah tamu ini memberikan pencerahan agar kalian (mahasiswa) tahu gambaran masa depan di bidang geodesi. Pekerjaan batimetri ini sangat penting untuk mem-backup pekerjaan teknik sipil di bidang pelabuhan. Mulai sekarang, siapkan hal-hal penting untuk membekali diri kalian,” ungkap Hery.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa Teknik Geodesi S-1 ITN Malang diharapkan tidak hanya menguasai teori penginderaan dan pemetaan perairan di kelas, tetapi juga memiliki gambaran utuh, chemistry, serta kesiapan mental untuk terjun langsung mendukung proyek-proyek infrastruktur maritim nasional di masa mendatang. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023