
Kisah Hamsah, Anak Buruh Sawit Sabah Malaysia Jadi Wisudawan Terbaik ITN Malang Usai Bikin Alat Listrik Tenaga Surya
Hamsah lulusan terbaik Teknik Listrik D-3 Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITN Malang pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026. (Foto: Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangat Hamsah untuk meraih pendidikan tinggi. Putra dari pasangan buruh sawit, Hasan, dan Nurmiati yang merupakan seorang ibu rumah tangga ini berhasil menobatkan dirinya sebagai Wisudawan Terbaik Teknik Listrik D-3 pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang).
Pria kelahiran Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini meraih IPK 3,65. Capaian tersebut lahir dari ketekunan panjang seorang anak yang sejak usia empat tahun diboyong orang tuanya merantau ke Sabah, Malaysia. Dari empat bersaudara, Hamsah menjadi satu-satunya yang berkesempatan mengecap bangku kuliah. Ia menamatkan sekolahnya di SMK Brantas Karangkates berkat beasiswa dari Yayasan BJ Habibie.
“Di keluarga, yang sekolah sampai tinggi cuma saya. Kakak-kakak tidak lanjut karena sekolah di sana sangat jauh. Saya bersyukur bisa dapat beasiswa ke Malang,” ujar Hamsah mengenang perjalanan studinya.
Baca Juga : Bantu Sanitasi Wisata Wonokoyo, Program Abdimas ITN Malang Lulus Uji Monev Kemendiktisaintek
Sebagai bagian dari syarat kelulusannya di perguruan tinggi, ia menyusun tugas akhir berjudul “Rancang Bangun PLTS untuk Aplikasi Hybrid sebagai Media Praktek Laboratorium”, di bawah bimbingan Ir. Eko Nurcahyo, MT., dan Bima Romadhon Parada Dian Palevi, ST., MT.
Inovasi ini berawal dari realitas di tempat tinggal orang tuanya di pelosok perkebunan kelapa sawit Sabah Malaysia. Wilayah tersebut belum tersentuh listrik negara, sehingga warga terpaksa bergantung pada nyala genset yang terbatas dari pukul 6 sore hingga 10 malam.
Hamsah merancang prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hibrid berkapasitas daya 200 Wp (dua panel polikristalin 100 Wp) yang dipadukan dengan Solar Charge Controller (SCC) MPPT 30A, inverter hibrid 24V 600W, serta penyimpanan energi baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4) 24V 60Ah. Sistem hibrid ini bekerja otomatis memindahkan pasokan listrik ke PLN jika batas aman baterai tercapai, begitu pula sebaliknya jika PLN padam.
Hamsah, mahasiswa Teknik Listrik ITN Malang D-3, berpose bersama karya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Hybrid miliknya. (Foto: Humas ITN Malang)
Menurutnya, dalam pengujian laboratorium, alat ini mampu menyuplai berbagai beban rumah tangga hingga 200 Watt, seperti lampu LED, kipas angin, hingga speaker. Meskipun sempat mengalami kendala teknis akibat trial and error yang menyebabkan baterai rusak hingga empat kali dan menelan biaya pengembangan kelompok sebesar 9 juta rupiah, sistem ini berhasil beroperasi dengan stabil.
Baca Juga : Belajar Energi Terbarukan, Ratusan Siswa MI Roudlotul Ulum Pasuruan Serbu PLTS ITN Malang
“Saya tidak menyangka bisa jadi wisudawan terbaik. Saya hanya berusaha aktif dan fokus kuliah karena orang tua sudah berjuang keras bekerja di Malaysia,” tutur lulusan yang ikut diwisuda pada 19 September 2026 ini.
Setelah diwisuda, Hamsah yang aktif di UKM Voli dan Himpunan Mahasiswa Teknik Listrik D-3 ini berencana mencari pengalaman kerja di Indonesia. Ia juga berencana mengaplikasikan keahliannya untuk membangun PLTS mandiri skala rumah tangga di Polewali Mandar saat keluarganya kembali ke Indonesia. (Mita/Humas ITN Malang)



