Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

Bisa dibayangkan, ketika petani kunyit sebelum menjual hasil kunyitnya harus merajang kunyit dengan pasrah (sejenis alat perajang), kemudian dikeringkan. Pastinya membutuhkan waktu dan tenaga tidak sedikit, mengingat banyaknya kunyit yang harus dirajang serta lamanya proses pengeringan. Sebenarnya bisa saja petani menjual hasil panen kunyit dalam kondisi basah tanpa pengolahan, namun tentu saja harganya jauh lebih murah dibandingkan melalui proses pengolahan.

Hal inilah yang kemudian mendasari dua dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang membuat mesin perajang kunyit dan oven pengering kunyit. Ir. Basuki Widodo, MT., dan Dr. Eko Yohanes Setyawan, ST.,MT., dosen Teknik Mesin S-1, tergerak untuk membantu para petani Dusun Wates, Kecamatan Slaung, Kabupaten Ponorogo. “Kalau dahulu petani merajang kunyit dengan pasrah, sekarang sudah makin efisien dengan mesin perajang ini. Juga untuk mengeringkan tidak terkendala cuaca dan bisa memangkas waktu pengeringan,” ujar Dr. Eko Yohanes Setyawan, ST.,MT., saat ditemui di ruang humas, Jumat (12/10/18) yang lalu.

Alat perajang kunyit ini sangat efisien digunakan. Menurut Yohane biasa ia disapa, dengan alat perajang kunyit maka akan mempersingkat waktu pemotongan kunyit, sangat aman untuk digunakan, lebih ringkas, memiliki pisau yang dapat diganti dan diasah, bisa diatur ketebalannya dan bisa berpindah tempat dengan mudah. “Biasanya perlu berjam-jam untuk merajang kunyit dengan pasrah, tapi sekarang petani bisa merajang kunyit 2 kg permenit,” lanjutnya.

Keunggulan teknologi tepat guna dari mesin pemotong kunyit ini menggunakan bahan stenlis stell yang keras dan berkualitas, sehingga aman bagi produk bahan makanan. Menggunakan motor penggerak berbahan bakar bensin 2,5 PK, serta mempunyai kapasitas merajang kunyit 2 kg permenit, sehingga perhari petani mampu mencacah 120 kg. Perbedaan mesin ini dibanding yang lain adalah mesin karya dosen ITN memiliki dua tempat untuk memasukkan kunyit. Satu tempat berada di atas, satunya lagi berada di sisi samping bagian bawah. Kelebihannya kedua tempat itu memiliki fungsi yang berbeda.

“Kami sesuaikan dengan kebutuhan petani. Soalnya ada petani yang menginginkan potongan acak, dan ada juga yang menginginkan potongan besar-besar, makanya kami buat dua versi. Kalau menginginkan memotong secara vertikal atau horisontal dan besar-besar bisa memasukkan kunyit dari samping. Sedangkan kunyit yang kecil-kecil bisa dari atas, yang menghasilkan potongan acak,” jelas Yohanes sambil menunjukkan video proses pemotongan kunyit.

Untuk melengkapi proses pengeringan kunyit, maka dosen ITN Malang ini juga membuat terobosan baru, yaitu membuat oven sebagai alat pengering kunyit. Bila selama ini untuk mengeringkan kunyit di bawah sinar matahari membutuhkan waktu yang lama kurang lebih 5 hari, maka dengan oven pengering ini hanya membutuhkan waktu maksimal 2 jam. Oven berdimensi 100 x 100 x 200 cm ini mampu menampung 5-8 kg kunyit basah, sedangkan satu kali pengeringan dengan 7 kg kunyit basah bisa menghasilkan 1 kg kunyit kering.

“Kunyit dalam keadaan kering akan lebih lama waktu simpannya. Selain itu oven ini juga higienis, mempercepat proses pengeringan serta bisa meningkatkan nilai jugal, karena harga kunyit kering lebih tinggi. Harga kunyit basah saat ini sekitar 2.500/kg, tapi kalau kering mencapai 21.000/kg,” ungkap alumni doktoral Universitas Sumatra Utara ini.

Sistem kerja pengering, kunyit terlebih dahulu diletakkan pada tray, dan diatur agar merata. Buka valve aliran bahan bakar yang akan menyalakan api pada kompor dan atur kecepatan blower, solenoid dan valve berfungsi sebagai control suhu yang diinginkan yaitu 500-550C. Ketika start-up solenoid bekerja dengan mengalirkan gas yang berasal dari LPG, dan menyalakan api pada kompor yang sudah dibuka sebelumnya. Gas akan bersinggungan dengan pemantik api pada kompor, sehingga api terus menyala sampai tercapai suhu yang telah di set-up pada control panel.

Material yang digunakan ST 37 untuk rangka konstruksi, sedangkan penutup bagian dalam menggunakan stainless steel, untuk penutup bagian luar cover menggunakan material hot rolled steel sheet. Pengering kunyit ini memiliki kontruksi yang lebih efektif dan efisien dengan hasil maksimal agar tidak terkontaminasi oleh debu dan bakteri lainnya yang menempel pada kunyit yang menjadikan kunyit lebih mudah busuk karena jamuran.

 

Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

Istimewa, Bantu Petani Kunyit Dosen ITN Malang Ciptakan Oven dan Mesin Perajang Kunyit

 

Blower yang terpasang pada oven pengering kunyit ini merupakan rancangan khusus, gunanya untuk mempercepat pengeringan. “Kalau oven biasa kadar airnya masih di dalam dan tidak bisa ke luar oven, sehingga kalau temperaturnya turun maka kadar airnya bisa kembali ke dalam kunyit. Ini berbeda kalau oven kita pasang blower, maka dengan bantuan blower dapat mengeluarkan kandungan air yang ada di dalam oven sehingga tidak kembali diserap oleh kunyit setelah selesai proses pengeringan,” beber dosen asli Pare Kediri ini.

Oven dan perajang kunyit ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemesristek Dikti pendanaan tahun 2018. Petani kunyit merasa terbantu dan sangat mengapresiasi mesin buatan dosen ITN Malang. “Setelah ada program ini kenaikan keuntungan petani kunyit sebesar 23 persen,” tutupnya. (mer/humas)




Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan listrik saat ini sangat penting untuk aktivitas sehari-hari mulai dari urusan rumah tangga, pendidikan, kehidupan sosial, budaya dan teknologi. Keberadaan listrik ini juga sekaligus mendorong peningkatan ekonomi, kesehatan dan menambah lapangan kerja baru. Namun faktanya beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang belum mendapatkan aliran listrik. Salah satunya adalah Kampung Seng dan Kampung Genteng, di Desa Gelang, Kecamatan Sumberbaru, Jember.

Kondisi tersebut kemudian direspon oleh Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dengan melakukan pemberdayaan masyarakat secara mandiri lewat penerapan pembangkit listrik tenaga air skala pikohidro. Pemasangan pikohidro sendiri dipasang pada bulan Juli 2018 dengan melibatkan 15 mahasiswa Teknik Elektro.

“Kami ingin berbagi langsung dengan masyarakat yang belum merasakan terangnya listrik. Respon masyarakat sangat senang sekali karena baru pertama kalinya mereka mendapat aliran listrik,” tutur Ir. Yusuf Ismail Nakhoda, MT., yang turut serta ke rumah-rumah warga untuk sosialisasi.

Dosen Teknik Elektro S-1 ini menambahkan, Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro (PLTP) merupakan salah satu alternatif pembangkit listrik skala mikro. Bedanya dengan mikrohidro adalah pikohidro didesainnya lebih kecil. Penggunaan pikohidro sebagai alternatif pengganti pembangkit listrik tenaga diesel yang selama ini membutuhkan biaya operasional tinggi dan tidak ramah lingkungan.

Pikohidro yang sifatnya ramah lingkungan dapat diterapkan di daerah pedesaan yang memiliki potensi aliran air sungai. Ketersediaan aliran sungai di Dusun Gelang memiliki debit yang kontinyu sepanjang tahun. Selain itu sungai tersebut sangat cocok untuk pemasangan pikohidro karena masih terjaga dan bersih.

“Setelah kami survey, debit air yang mengalir di desa tersebut ternyata memiliki potensi energi terbarukan. Kami sudah melakukan ujicoba, dan sampai saat ini PLTP yang kami pasang terus menyala di kampung tersebut,” kata Yusuf.

Alat pikohidro ITN Malang ini didesain portable sehigga mudah untuk dipindahkan. Meskipun secara mikro, namun pembangkit listrik ini setidaknya bisa menghasilkan daya sampai 200 watt. Sehingga bisa menerangi masyarakat yang rumahnya belum ada aliran listrik. “Setidaknya pikohidro ini mampu menerangi rumah masyarakat sekitar,” lanjutnya.

Pikohidro sendiri merupakan pembangkit listrik tenaga air yang mempunyai daya di bawah 5000 watt (5 Kw). Secara teknis pikohidro terdiri dari tiga komponen utama, yakni air sebagai sumber energi, generator dan turbin. Untuk merampungkan PLTP, tim ITN Malang sudah melakukan beberapa tahapan mulai bulan Maret – Agustus 2018.

Pertama, memilih generator pikohidro dengan pengolahan generator magnet permanen. Mereka mendapatkannya dari komponen bekas sepeda motor yang dirakit menjadi rotor berjumlah 6 buah kutub magnet permanen. Selanjutnya membuat stator generator dari pipa besi berukuran 5 diameter. Stator tersebut dijadikan sebagai tempat meletakkan lilitan kumparan kawat yang terdiri dari 6 buah kumparan yang disesuaikan dengan besar diameter pipa besi.

 

Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

Pikohidro ITN Malang Datang, Desa Gelang Jember Terang Benderang

 

Tahapan kedua adalah pengujian laboratorium menyangkut kinerja dari generator magnet permanen sebelum diterapkan di sungai. Tujuannya untuk mengetahui besaran tegangan, dari yang tertinggi sampai terendah menggunakan motor yang diputar dengan kecepatan (rpm) bervariasi tanpa dibebani apapun.

Kemudian tahapan ketiga pembuatan turbin/kincir air pikohidro. Turbin ini berfungsi mengubah energi air menjadi energi gerak putar yang dihubungkan pada generator sehingga menghasilkan energi listrik. Sementara tahapan keempat dan kelima adalah bagian terakhir, yaitu perakitan turbin air dan pemasangan PLTP.

“Kami berharap pikohidro bisa dikembangkan di daerah-daerah yang belum ada aliran listrik. Kami akan daftarkan hak patennya dan membuat proyeksi lebih lanjut,” pungkas Yusuf, yang merampungkan pikohidro sebagai Program Kemitraan Masyarakat bersama Dr. Irrine Budi Sulistiawati, St.MT., dan Dr. Eng. Aryuanto Soetedjo, ST.MT. (mer/humas)




Produktif Menulis, Empat Karya Dosen ITN Malang Mendapat Hak Cipta

Bangga, begitulah yang dirasakan oleh Aladin Eko Purkuncori ST.MT., dosen ITN Malang. Empat buat bukunya telah mendapat pengakuan dari pemerintah dengan terbitnya surat hak cipta.

Empat buat buku tersebut merupakan buku Panduan Praktek Design dan Simulasi, buku Panduan Praktek Pengantar Manufaktur, buku Panduan Praktik Menggambar Teknik, dan buku Panduan Praktik Pengecoran Logam.

Menurut Aladin sebenarnya ada 17 buku panduan yang dia tulis, namun baru 4 yang mendapat hak cipta. “Baru empat yang saya daftarkan hak cipta, nanti sisanya menyusul,” katanya.

Buku panduan tersebuat dibuat atas dasar kebutuhan praktek mahasiswa di laboratorium Teknik Mesin D3. Untuk menjadi sebuah buku Aladin harus melakukan riset dengan membaca banyak buku panduan praktek yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan laboratorium.

“Kalau menulis saya juga mempelajari buku panduan yang lain. Kemudian saya sempurnakan dengan menambah di dalamnya lembar kerja praktek untuk diisi mahasiswa,” terangnya.

Dalam buku panduan tersebut ia menggabungkan tiga pilar yakni kognitif, afektif dan spikomotorik. Diharapkan ketiganya mampu menjadi dasar proses evaluasi hasil belajar mahasiswa, yang disesuaikan dengan bakat, minat, dan kemampuan.
“Antara teori dan praktek prosentase sudah jelas di Teknik Mesin D3. Maka buku ini juga penggabungan antara teori dan praktek,” tuturnya. (mer/humas)




Crumble Portable, Mesin Pencetak Pakan Ikan Dosen ITN Malang Lolos Paten

Aladin Eko Purkuncoro, ST.MT., dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, berhasil mengembangkan mesin pencetak pakan ikan hingga lolos paten. Hak paten didapat dari kebaruan (novelty) dalam hal bentuk alat yang sangat portable. Mesin pencetak pakan ikan crumble portable ini memiliki dua roda yang menjadi sarana berpindah tempat. “Invensi ada pada portable-nya, sehingga bisa digeser karena ada rodanya,” terang Aladin saat ditemui di ruang humas ITN Malang, Selasa (30/1).

 

Ide ini berawal dari mendengar keluh kesah masyarakat di Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang yang banyak membudidayakan ikan dengan keramba. Menurut Aladin, biasanya masyarakat memberi makan ikan dengan menggunakan cacahan limbah dari ikan louhan. Selain membutuhkan waktu yang lama, cacahan ikan louhan bentuknya kurang seragam dan sulit habis saat dikonsumsi ikan.

 

“Masyarakat mengeluh tentang mahalnya harga crumbel, sehingga mereka menggunakan limbah ikan louhan yang dicacah dengan masa panen 6 bulan. Sedangkan kalau memakai crumble nelayan bisa panen 2 bulan sekali. Saat itulah kenapa saya mengembangkan mesin pencetak pakan ikan dalam bentuk portable,” lanjutnya.

 
Selain portable, ada sebuah alat yang berbentuk menyerupai terompet/kerucut terpasang di dalam mesin dan ikut dipatenkan. Menurutnya alat tersebut yang membuat hasil dari pakan ikan lebih padat. “Alat inilah yang membuat karya saya lolos paten,” katanya.

 

Pria kelahiran Pacitan ini membeberkan cara kerja mesin. Bahan pakan ikan terlebih dahulu dicampur di hopper semacam nampan. Kemudian digeser masuk ke dalam alat yang menyerupai terompet/kerucut. Semakin ke dalam alat akan berputar semakin cepat dan membuat pakan ikan semakin padat dengan bentuk silinder berdiameter 7 milimeter. Kemudian saat keluar di bagian bawah mesin akan jatuh ke nampan dan siap dijemur. Untuk ukuran silindernyapun bisa dirubah sesuai dengan kebutuhan.

 

Dari pengamatannya, mesin yang ada di pasaran selama ini hanya menggunakan penampang dan belum dilengkapi terompet. Hal itulah yang membuat pakan ikan/pelet kurang padat dan cepat pecah setelah dicetak. Sedangkan saat memindahkan mesinpun harus diangkat.

 

“Dengan mesin crumble portable ini hasil peletnya lebih padat dan tidak mudah pecah, juga mudah dipindahkan,” akunya. Pelet hasil dari mesin buatannya mempunyai kapasitas produksi 50 kilogram per jam. Ini sangat hemat dan lebih efisien daripada membeli. Untuk komposisi pelet juga kaya nutrisi karena terdiri dari campuran tepung ikan, tepung kedelai, bungkil kelapa, tepung jagung, tepung tapioka serta dedak halus. Campuran tersebut bisa meningkatkan protein dari pelet ikan.

 

“Tinggal menghitung saja. Misalnya per kilogram pelet harganya 10-15 ribu rupiah, maka dalam satu jam dari 50 kg yang menghasilkan 500 ribu rupiah. Jadi kalau nelayan membuat sendiri akan ebih efisien. Ini juga bisa membuka lapangan kerja bagi mereka,” terang dosen Teknik Mesin ini.

 

Ia juga berharap bisa memberikan motivasi bagi mahasiswa Teknik Mesin D3 dan S1 yang terlibat dalam pembuatan mesin tersebut untuk terus berkreasi dan berinovasi, sehingga nantinya mampu membuka peluang kerja. (mer/humas)




Zero Waste, Dosen ITN Malang Manfaatkan Limbah Printer jadi Souvenir Menarik

Limbah printer yang selama ini hanya dijual kiloan di tangan dosen ITN Malang disulap menjadi sebuah souvenir menarik sebagai kenang-kenangan saat wisuda. Ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari Dr. I Komang Astana Widi, ST.MT., dosen Teknik Mesin ITN Malang dan Luh Dina Ekasari SE.Ak.,MM., dosen Universitas Tribhuwana Tungga Dewi (Unitri), melalui program Iptek bagi Masyarakat (IbM).

I Komang Astana Widi menuturkan, abdimas ini merupakan kolaborasi antara ITN Malang sebagai institut berbasis teknologi yang mengajarkan bagaimana produk menjadi lebih berkualitas dengan pemanfaatan teknologi. Sedangkan peran serta dosen Unitri dibutuhkan dalam membantu manajemen dan pemasaran.

Kegiatan ini mampu mempertemukan dua usaha kecil menengah (UKM) di Malang, yakni UKM Progress Print Malang (pengepul printer) di Mondoroko, Singosari dan UKM Harapan Jaya (pengolah limbah plastik) di Klayatan.

“Biasanya pengepul printer bila mendapat printer bekas tidak bisa dipakai langsung dijual kiloan begitu saja ke pemulung besar. Padahal printer bekas ini bisa dimanfaatkan tiap bagiannya,” terangnya saat ditemui di Kampus II beberapa waktu yang lalu.

Dosen sekaligus Wakil Dekan I FTI ini mengungkapkan, menumpuknya limbah printer di pengepul menjadikan alasan tersendiri baginya. Dengan pemanfaatan dan pengolahan limbah printer selain untuk meminimalkan limbah buang juga bisa menambah manfaat secara ekonomis. Caranya, printer setelah dibongkar, semua bagian bisa dimanfaatkan kembali sampai zero waste. Mulai dari besi, sparepart yang masih bisa dipakai digunakan untuk mengganti onderdil printer yang masih berfungsi. Sedangkan material berupa plastik bisa diolah menjadi souvenir.

“Kami pisahkan antara bagian yang rusak dan bagian yang bisa digunakan. Bagian yang bisa digunakan ini dimanfaatkan kembali untuk merakit printer, sedangkan yang rusak diolah untuk souvenir,” terang pria kelahiran Denpasar ini.

Zero Waste, Dosen ITN Malang Manfaatkan Limbah Printer jadi Souvenir Menarik

Zero Waste, Dosen ITN Malang Manfaatkan Limbah Printer jadi Souvenir Menarik

Limbah printer plastik terlebih dahulu dicacah dan dibuat adonan, kemudian dimasukkan ke dalam mesin cetakan dengan cara injeksi. Untuk mengetahui ketahanan dari patung ini maka dilakukan juga uji kekuatan terhadap benturan dan uji daya tarik di laboratorium ITN. Ini agar patung tetap kuat dan tidak mudah pecah.

Produk jadi kemudian dipasarkan dengan pendampingan dari Unitri. Pemasaran souvenir ditujukan ke sekolah-sekolah dan kampus yang biasa menyelenggarakan acara wisuda. (mer/humas)




Jawab Masalah UKM Tempe, Dosen ITN Malang Kembangkan Mesin Pengolah Kedelai yang Ramah Lingkungan dan Higienis

Siapa yang tidak suka tempe, tahu, atau keripik tempe. Olahan berbahan dasar kedelai khususnya tempe dan keripik tempe ini merupakan makanan khas Malang. Namun dibalik enaknya camilan tersebut ternyata masih menyisakan problem dalam pemrosesan bahan baku.

Selama ini kebanyakan UKM dalam mengolah kedelai masih memanfaatkan sistem pelembangan/ayakan manual. Proses manual tersebut selain belum mampu meningkatkan produktifitas hasil olahan juga berdampak pada kesehatan para pekerja.

“Mereka (pekerja, Red) selama pelembangan harus merendam tangan tiap hari. Proses ini rawan terhadap penyakit kulit seperti gatal-gatal. Apa lagi diusia mereka yang tidak muda lagi antara 40-50,” terang Dr. I Komang Astana Widi, ST.MT., dosen Teknik Mesin ITN Malang saat ditemui di Kampus II, Sabtu (11/11).

Melihat fenomena tersebut Ir. Wayan Sujana, MT., Ir Teguh Rahardjo, MT., dan Dr. I Komang Astana Widi, ST.MT., berupaya memberikan jawaban atas masalah yang dihadapi UKM pengrajin tempe dan keripik tempe di Desa Sanan, Kota Malang. Melalui program pengabdian kepada masyarakat tahun 2017, dosen ITN Malang ini mengembangkan mesin dengan teknologi otomatis pengolahan kulit ari kedelai yang ramah lingkungan dan higienis.

Secara spesifik dosen sekaligus Wakil Dekan I FTI menjelaskan, beberapa kasus muncul dari model pelembangan/ayakan kedelai manual. Diantaranya, usia pekerja umumnya sudah tua; selama pelembangan pekerja rawan terhadap penyakit kulit terutama pada tangan dan kaki; lamanya pelembangan dengan kapasitas besar akan merusak biji kedelai dan berdampak pada menurunnya kualitas serta produktifitas produk; dari segi ergonomi seringkali pekerja mengeluh karena kram atau kaku dibagian pinggul saat pelembangan; daya listrik yang dimiliki UKM umumnya sangat rendah antara 450 dan 900 watt sehingga UKM meminimalisir pemanfaatan teknologi dalam proses produksinya.

“UKM umumnya memakai daya listrik rendah. Mereka ingin alat yang tidak ribet dan tidak menggunakan listrik. Sehingga kami mengakalinya dengan memakai pompa,” terang Komang biasa didapa.

Cara kerja alat ini sangat sederhana. Komang menggambarkan, setelah kedelai dimasukkan ke dalam alat, kemudian diberi tekanan dengan pompa air yang bersudut dari bawah. Tekanan air berputar inilah yang akan melepaskan kulit ari kedelai. Kulit ari yang ringan selanjutnya mengambang dan terkumpul diwadah penampungan.

Biji kedelai yang sudah mengelupas otomatis akan mengendap ke bawah. Pekerja bisa melihat melalui kaca di sisi samping alat. Kaca tersebut juga berfungsi untuk memonitor bersih tidaknya kedelai serta pengontrol tekanan air. Kalau kedelai kurang bersih bisa diulang lagi dengan memberikan tekanan air.

“Kami memakai pompa dengan daya kecil agar air tidak muncrat saat dioperasikan. Operator juga bisa mengatur tekanan pompa kalau ingin kedelai lekas bersih tekanannya bisa dipercepat,” tambah dosen kelahiran Denpasar ini.

Memanfaatkan pompa air berkapasitan 145 watt, mesin pelembang kedelai dirancang memiliki kapasitas 5 kg dengan pengulangan proses dapat dilakukan setiap 20 menit. Dengan demikian, dalam 1 jam dapat memproses kedelai sekitar 15 kg. Ini jauh berbeda kalau menggunakan cara manual, untuk kapasitas 20 kg dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

“Berbeda dengan pengerjaan manual yang biasanya sedapatnya, bergantung pada skill dan kekuatan pekerja. Mesin ini bisa memberikan hasil yang lebih konsisten,” katanya berharap teknologi tepat guna bisa langsung dimanfaatkan oleh UKM. (mer/humas)




Berawal Kecintaan pada Candi, Rektor ITN Malang Prakarsai Batik Khas Malangan

Pasca bergabungnya ITN Malang ke dalam anggota TISC, Selasa 31 Oktober 2017 lalu, Rektor ITN Malang Dr.Ir. Lalu Mulyadi, MT., kembali berkeinginan untuk mengangkat penelitiannya tentang candi menjadi karya batik sebagai icon batik Malangan. Keunikan candi peninggalan Kerajaan Singosari yang ada di Malang memang menjadi daya tarik tersendiri bagi Lalu Mulyadi.

Keunikan pada relief, model arsitektur dari candi yang ia teliti bersama tim selama dua tahun melahirkan ide tersebut. “Sebenarnya saat penelitian itulah saya bersama tim sudah ada ide untuk mengangkat keunikan dari candi menjadi suatu karya batik,” terangnya, saat jumpa pers, di Kampus I, Kamis (2/11).

Ia menambahkan, saat acara di Pasar Inovasi dan Kreativitas di Jakarta ia mengunjungi stand pameran batik dari Kabupaten Tangerang. Mereka menjual batik beserta keterangan sejarah dari tiap-tiap motif batik. “Saat itulah saya teringat kembali penelitian tentang candi yang akan saya gunakan sebagai motif batik Malangan,” ungkapnya.

Penelitiannya sudah ia tuangkan dalam dua buah buku yang mengupas tentang empat candi yaitu candi, Jago, Kidal, Singosari dan Jawi. Banyak cerita sejarah yang bisa terungkap dari sana. Bahkan candi Jago disebut juga sebagai perpustakaan raja Singosari yang masih ada sampai sekarang, karena di candi Jago terdapat banyak relief yang menceriterakan sejarah Singosari, bahkan kehidupan nirwana pasca kematian. Sedangkan di Candi Kidal juga ada relief terkenal seperti Medalion.

“Saya nanti akan mengundang dan sosialisasi hasil penelitian saya kepada siswa SMK, kemudian untuk pembuatan motif akan kami perlombakan. Kami juga akan bekerjasama dengan home industri dalam proses pembuatannya,” kata rektor.

Kolaborasi dengan berbagai elemen ini menurut rektor sudah sesuai dengan visi ITN Malang tentang teknologi terapan. “Hasil teknologi ini kami terapkan, jadi sejalan dengan visi ITN. Ini akan bermanfaat baik di internal kampus maupun setelah mahasiswa menjadi alumni. Tidak menutup kemungkinan kami juga akan bekerjasama dengan para alumni,”

Buku tentang candi ini sudah mendapat hak cipta. Sedangkan motif batiknya tentu saja akan didaftarkan memalui hak cipta dan juga ada beberapa batik khas Malangan yang akan dipatenkan. (mer/humas)




Rektor ITN Malang Apresiasi Applikasi Ur-Watch Buatan Dosen PWK

Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT, Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang mengapresiasi keberhasilan dosen PWK (Perencanaan Wilayah dan Kota) yang telah membuat applikasi Ur-Watch (Urban and regional watch) untuk memudahkan masyarakat dalam mengawasi Kota dan Wilayah. Hal ini dinyatakan olehnya dalam sambutannya saat launching applikasi tersebut di ruang serbaguna pada Senin (8/5).

Menurut Lalu, temuan dosen ini merupakan salah satu keunggulan kampus biru yang layak dipublikasikan ke masyarakat. Pasalnya, sejauh ini belum ada yang membuat applikasi semacam ini. Di mana masyarakat dan pemerintah dapat melakukan pengawasan tata ruang kotanya lewat applikasi yang dibuat oleh Mohammad Reza, ST, MURP. “Applikasi juga ini sangat penting bagi pengembang. Karena mereka dapat tahu lahan-lahan mana saja di suatu kota yang dapat dibangun untuk pemukiman, tanpa mereka harus datang ke kawasan tersebut,” terang alumni Universitas Teknologi Malaysia (UTM) itu.

Bahkan, lanjut Lalu, applikasi ini akan dikolaborasikan dengan salah satu pengembang terbesar di Indonesia yaitu Podomoro, Jakarta. Apalagi sejauh ini antara ITN Malang dengan Universitas Podomoro sudah teken kerjasama. “Podomoro itu pengembang yang besar, sudah ada di beberapa daerah. Maka tentu, applikasi ini sangat dibutuhkan oleh mereka,” kata dia.

Selain itu, pria asal Lombok itu juga bercerita tentang beberapa poin kerjasama yang telah disepakati antara ITN Malang dengan Universitas Podomoro. Di antaranya: mahasiswa dapat praktik kerja nyata di bangunan-bangunan tinggi punya Podomoro, mahasiswa dan dosen dapat berkunjung ke sana, kolaborasi riset dan seminar. “Di Malang gedung masih pendek-pendek. Maka kesempatan untuk praktek di gedung-gedung tinggi itu menjadi penting bagi para mahasiswa nantinya,” tuturnya. (her)

 




Uniknya Batik Karya Arief Setyawan, Motifnya Aktifitas Kegiatan Planologi

Uniknya batik karya Arief Setiyawan, ST,MTP, dosen Perencanaan Wilayah Kota (PWK) ITN Malang. Motif batik yang ia buat sangat dipengaruhi oleh aktifitas seputar kegiatan pelaku Perencanaan Wilayah dan Kota. Latar belakang kehidupan planologi menjadi identitas batik yang ia buat.

Di tangan Arief Setiyawan, kegiatan planologi dilukis menjadi bentuk motif batik di atas kertas, kemudian diserahkan kepada pebatik untuk dituangkan di atas kain. “Kegiatan planologi diawali survei, bertanya, dicatat, kemudian dikerjakan, setelah dilakukan analisa baru dipresentasikan. Kegiatan-kegiatan inilah yang menjadi motif batik,” ungkapnya saat ditemui itnmalangnews.com beberapa waktu yang lalu.

Berawal tujuh tahun yang lalu, pria asli Malang ini merasa jurusan perlu adanya identitas, penanda, serta kepeduliannya terhadap warisan budaya yang harus dilestarikan. Batik planologi mengangkat warna coklat bukannya tanpa alasan. “Karena semua yang direncanakan oleh planologi jatuhnya ke masalah tanah. Jadi warna coklat identik warnanya planologi. Kebetulan waranya kulit orang-orang planologi juga coklat,” kelakarnya.

Mencoba menekan biaya produksi, batik planologi pernah diproduksi di Jogja dengan cara cap. Meski hasilnya berbeda dengan batik tulis namun tidak merubah makna dari motif batik planologi. Menurutnya, tidak hanya planologi yang memiliki motif batik khas. Jurusan Geodesi juga memiliki batik khas dengan motif disesuaikan aktifitasnya.

Sementara batik Planologi ITN Malang hasil karyanya masih sebatas dijadikan souvenir bila ada kegiatan di Prodi PWK. “Pas acara-acara tertentu saya memakai batik tulis planologi, ternyata teman-teman yang melihat banyak yang pesan juga,” tuturnya berharap batik tulis khususnya karya dosen bisa menjadi ciri khas dari masing-masing jurusan tentunya dengan warna yang seragam meskipun beda motif. (sar)




Dosen ITN Malang Kembangkan Spray Anti Jamur dari Produk Samping Biodisel

Maraknya penggunaan biodisel di Indonesia saat ini, membuat dosen Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berpikir lain. Dia bukan ikut berlomba mengembangkan biodisel, malah mencari dari limbah biodisel untuk dimanfaatkan lagi menjadi barang berharga. Dosen itu adalah Mohammad Istnaeny Hudha, ST, MT, dosen teknik kimia ITN Malang.

Ditemui di ruang kerjanya pria yang akrab disapa Istnaeny terbut bercerita pengalamannya meneliti limbah biodisel menjadi spray anti jamur dan alternatif pupuk kalium. Menurutnya dalam produksi biodisel dari minyak goreng bekas menyisakan produk samping berupa gliserol atau gliserin. Gliserol inilah yang menarik perhatiannya untuk diteliti lebih lanjut.

Pria asal Lamongan tersebut melakukan acidivikasi atau penambahan asam terhadap terhadap gliserol sehingga kaliumnya dapat terikat. Kalium inilah yang digunakan untuk spray anti jamur dan pupuk kalium. “Untuk spray kita sudah melakukan uji coba terhadap jamur putihdi daun mangga, dan hasilnya bagus,” kata alumni magister ITN Surabaya itu.

Sementara untuk pengembangan pada pupuk kalium, merupakan lanjutan dari penelitian yang dilakukan sebelumnya. Dalam penelitian ini, Istnaeny berupaya mendapatkan kondisi paling optimum dalam pemurnian gliserol dengan target gliserol murni sehingga dapat menghasilkan kalium paling baik yang dapat digunakan untuk bahan alternatif pupuk kalium. (her)