Angkat Konsep Kultur dan Futuristik, Tetenger Panca Srasah Masuk Peringkat 6 lomba Desain Landmark Kabupaten Jombang 2021

Kompak. Kika: Alessandro Pareira Saputra Wula, Moh. Rikzan Wagianto, dan Agung Setya Wahyudi, Tim Creature Arsitektur S-1 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas)


Malang, ITN.AC.ID – Tiga mahasiswa Arsitektur S-1, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang masuk enam besar lomba Desain Landmark Kabupaten Jombang. Diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jombang, pengumuman 6 besar diumumkan pada Kamis (02/12/2021) yang lalu.

Tergabung dalam Tim Creature, ketiganya adalah Moh. Rikzan Wagianto, Agung Setya Wahyudi, dan Alessandro Pareira Saputra Wula. Mereka harus bersaing dengan puluhan peserta dari kalangan mahasiswa dan umum yang kebanyakan arsitek profesional.

Desain landmark bertema Tetenger Panca Srasah mengangkat konsep kultur dan futuristik. Ini untuk memenuhi harapan Kabupaten Jombang dalam menjaga nilai-nilai karakteristik lokal Jombangan dan mewujudkan Jombang mempunyai identitas yang kuat. Maka, diperlukan upaya untuk melestarikan nilai-nilai karakteristik lokal tersebut.

“Salah satu upayanya dengan membangun penanda atau tetenger yang ikonik dan menarik di lokasi perbatasan wilayah administrasi Kabupaten Jombang, maupun pintu masuk ke pusat perkotaan Jombang. Jadi, kami mencoba memasukkan juga karakteristik lokal Jombang sebagai Kota Santri,” jelas Rikzan saat dihubungi lewat sambungan whatsapp, Rabu (08/12/2021).

Menurut Rikzan nama Tetenger Panca Srasah diambil dari dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Sansekerta. Tetenger berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti penanda, dan Panca Srasah berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti lima lapisan. Kata lima lapisan sendiri terinspirasi dari bentuk landmark yang terdiri dari lima layer, yang diambil dari jumlah lima rukun Islam. Jadi, Tetenger Panca Srasah memiliki makna penanda yang memiliki lima bentuk lapisan.

Baca juga : Garap Desa Wisata Nusantara, Dua Mahasiswa Arsitektur ITN Malang Juara 1 Rendering Acsent Udayana 2021

“Dalam desain tersebut kami menerapkan empat sistem, yaitu green building, budaya, agama Islam, dan futuristik,” sambung Rikzan yang juga pernah menyabet juara 3 Lomba Gambar Teknik (LGT) di Politeknik Negeri Malang tahun 2020 yang lalu.

Rikzan menjabarkan, budaya terletak pada relief mataram di kedua sisi landmark, dan juga terletak pada pasangan GRC yang menggunakan motif batik Jombang. Sedangkan green building terletak pada sistem kelistrikan yang menggunakan tenaga surya serta sistem penyiraman vegetasi otomatis. Kemudian, pada kultur agama Islam diaplikasikan pada bentuk landmark. Selanjutnya futuristik diterapkan juga pada bentuk dan tampilan landmark yang modern.

Desain landmark Tetenger Panca Srasah Arsitektur ITN Malang masuk peringkat 6, Lomba Desain Landmark Kabupaten Jombang 2021. Mengangkat konsep kultur dan futuristic. Sisi kiri waktu malam, dan sisi kanan waktu siang hari. (Foto: Istimewa)

“Kami tambahkan juga lighting agar suasana landmark menjadi lebih megah dan dramatis. Lighting yang digunakan smart energy berupa LED. Tampilan futuristik tanpa menghilang kan poin-poin budaya Jombang ini menjadi keunikan desain landmark yang kami buat,” jelas mahasiswa asal Probolinggo ini.

Desain dinilai dalam lima aspek. Yakni aspek arsitektur, teknis, budaya, sejarah, dan anggaran pembangunan. Dengan menghadirkan dewan juri dari unsur profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), unsur akademisi, unsur budayawan, dan lainya.

Sementara itu menurut Sando sapaan akrab Alessandro Pareira Saputra Wula, tidak bisa survei langsung ke Jombang menjadi sedikit kendala baginya membuat rendering foto. Namun bagi penyabet juara 1 Lomba Rendering Desa Wisata Nuntara ACSENT Udayana 2021 ini semua bisa teratasi.

Baca juga : ITN Malang Serahkan Empat Maket Kampung Heritage Kayutangan

“Kami merampungkan desain selama dua bulan dengan memanfaatkan software Autocad, Sketchup, Lumion, Photoshop,“ ujar Sando.

Ketiga mahasiswa semester 5 ini sama-sama berharap akan semakin banyak daerah di Indonesia yang memperhatikan pentingnya sebuah landmark sebagai identitas daerah tersebut. “Sebuah daerah jika ingin membuat landmark dapat dibuat lomba seperti ini. Karena akan sangat baik jika landmark yang menjadi identitas daerah tersebut juga hasil karya dari masyarakat sekitar,” timpalnya. (me/Humas ITN Malang)

 423 total views,  7 views today

image_pdfimage_print