Back

Sering Ceria Belum Tentu Bebas Stres, Maba ITN Malang Diajak Peka Kesehatan Mental Saat Memulai Perkuliahan

Hilda Rosa Ainiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan materi Mental Health di hadapan ratusan maba ITN Malang.  (Foto: Humas ITN Malang)


Malang, ITN.AC.ID – Sering melihat teman yang ceria dan hobi bercanda? Jangan terburu-buru menyimpulkan hidupnya tanpa beban. Psikolog Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Hilda Rosa Ainiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan mental tidak selalu tecermin dari ekspresi luar atau perilaku sehari-hari.

Banyak orang menyangka sosok yang selalu tampil gembira pasti baik-baik saja. Padahal, anggapan tersebut kerap kali hanya mitos. Penegasan ini disampaikan Hilda saat membawakan materi “Mental Health Check-In: Siap Kuliah, Siap Bertumbuh” dalam gelaran Gigantik (PKKMB) ITN Malang 2026, Rabu (02/08/2026).

“Sering kali kita mengira orang yang suka bercanda itu pasti sehat mentalnya, padahal itu mitos. Kesehatan mental tidak selalu terlihat dari luar. Mitos lain yang sering keliru adalah soal healingHealing itu bukan sekadar jalan-jalan atau liburan. Pemulihan, istirahat yang cukup, hingga sekadar mengobrol dan berbagi cerita juga bagian dari healing untuk menyelesaikan masalah kita sendiri,” ujar Hilda di hadapan ratusan mahasiswa baru.

Baca juga: Memahami Bahasa Hati: Strategi Validasi Emosi untuk Guru BK SMK Se-Kabupaten Malang

Memahami Transisi Perkuliahan dan Konsep Growth Mindset

Masa transisi dari SMA ke perguruan tinggi membawa dinamika baru bagi mahasiswa. Jika di sekolah jadwal terasa terstruktur dan guru kerap mengingatkan, dunia kuliah menuntut kemandirian mengatur waktu, proaktif, serta tanggung jawab akademik yang jauh lebih besar.

Dalam paparannya, Hilda membeberkan 6 tantangan nyata yang jamak dihadapi mahasiswa baru: Academic Pressure: Ketakutan tidak mampu mengikuti ritme perkuliahan. Social Adjustment: Kecemasan dalam beradaptasi dan membangun pertemanan baru. Homesickness: Rindu suasana rumah dan rutinitas lama. Time Management: Tekanan untuk langsung berprestasi di tengah padatnya jadwal. Self-Doubt: Keraguan pada kemampuan diri dan rasa takut gagal. Ekspektasi Diri: Tekanan internal maupun eksternal yang menumpuk.

“Mengalami tantangan saat masa transisi adalah hal yang sangat manusiawi. Mengubah sudut pandang itu penting. Ingat, gagal itu data, bukan identitas. Jangan memakai fixed mindset seperti ‘Aku gagal karena aku tidak mampu’, tapi gunakan growth mindset: ‘Aku belum berhasil, apa yang bisa aku pelajari?’. Prosesnya sederhananya: Fail → Learn → Adjust → Try Again,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa lingkungan yang sehat mental harus dibentuk bersama, salah satunya dengan menjadi pendengar yang baik saat teman bercerita. Di perguruan tinggi saat ini juga ditunjang dengan aturan tegas terkait pencegahan penanganan kekerasan dan perundungan (PPKPT). Segala bentuk diskriminasi maupun bullying akan ditindak tegas untuk menjaga ruang aman kampus.

Hilda Rosa Ainiyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan materi Mental Health di hadapan ratusan maba ITN Malang.  (Foto: Humas ITN Malang)

Ketika situasi terasa terlalu berat seperti seusai ujian, Hilda menyarankan mahasiswa untuk mengambil jeda (pause) dan menenangkan pusat emosi di otak. “Pergantian masa SMA ke kampus memang berbeda, disini kalian akan dilatih menyelesaikan masalah. Kalau bisa di-handle sendiri tentu bagus, tapi kalau butuh bantuan, jangan ragu mencari bantuan profesional maupun support system terdekat,” pungkasnya.

Respon Mahasiswa Baru: Mengelola Stres Gen Z

Materi seputar kesehatan mental ini mendapat respons hangat dari para peserta. Ahmad Dewandaru Tegar, mahasiswa baru Program Studi Bisnis Digital asal Malang, mengaku topik ini sangat dekat dengan realitas Gen Z saat ini. Ia terdorong untuk lebih peduli pada kesehatan mental setelah mengamati lingkungan terdekatnya, termasuk keluarganya sendiri.

Baca juga: Terjebak Pinjol dan Modus Investasi Bodong, 50% Gen Z Terancam Petaka Finansial: Pesan Menohok BTN untuk Maba ITN Malang

“Sangat menarik karena isu stres di kalangan Gen Z ini nyata. Saya perhatikan saudara saya yang sudah bekerja sering mengalami stres berat akibat tekanan pekerjaan dari pimpinan. Dari situ saya belajar bahwa mengelola stres itu penting. Caranya bisa dengan menyalurkan ke kegiatan positif, mulai dari olahraga, keluar main, hingga berani cerita terbuka ke teman-teman agar beban terasa lebih ringan,” ungkap Dewandaru. (Mita/Humas ITN Malang)

Copyright - PERKUMPULAN PENGELOLA PENDIDIKAN UMUM DAN TEKNOLOGI NASIONAL - ITN MALANG - Powered by - PUSTIK 2023