
Terjebak Pinjol dan Modus Investasi Bodong, 50% Gen Z Terancam Petaka Finansial: Pesan Menohok BTN untuk Maba ITN Malang
Branch Manager Bank BTN KCP Batu, Ratih Cahyaratri Pribadi, SP., MP., saat memberikan literasi keuangan kepada mahasiswa baru Abhyasa 57 pada acara Gigantik 2026 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
Malang, ITN.AC.ID – Fenomena membayangi generasi muda saat ini: sekitar 50 persen Gen Z ditengarai telah terjebak pinjaman online (pinjol). Fenomena ini menjadi alarm keras dalam materi literasi keuangan pada Gigantik 2026, momen Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) di Aula Kampus 1, Rabu (02/08/2026).
Hadir sebagai narasumber, Branch Manager Bank BTN KCP Batu, Ratih Cahyaratri Pribadi, SP., MP. Ia mengingatkan para mahasiswa baru Abhyasa 57, bahwa fase transisi dari remaja menuju dewasa adalah momentum pertama mereka memegang kendali penuh atas uang. Namun, kebebasan ini kerap menjadi petaka jika tidak disertai pemahaman risiko.
“Hati-hati kalian yang baru ‘keluar dari sangkar’. Sekarang tidak ada lagi orang tua yang mengingatkan sehari-hari. Mau tidak mau, suka tidak suka, kalian harus bertanggung jawab penuh terhadap keuangan sendiri. Ingat, masa depan itu jarang hancur karena satu kesalahan besar, tapi runtuh perlahan oleh kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan terus-menerus,” tegas praktisi perbankan dengan rekam jejak lebih dari 20 tahun tersebut di hadapan ratusan mahasiswa.

Branch Manager Bank BTN KCP Batu, Ratih Cahyaratri Pribadi, SP., MP., saat memberikan literasi keuangan kepada mahasiswa baru Abhyasa 57 pada acara Gigantik 2026 ITN Malang. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)
Celah Bahaya Literasi dan Jebakan Gaya Hidup
Dalam materinya yang menyertakan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ratih menunjukkan adanya jurang (gap) antara akses finansial mahasiswa dengan pemahaman risikonya. Akses dompet digital dan pinjaman instan yang begitu mudah seringkali tidak diimbangi dengan kecakapan mengelola uang.
Ia membeberkan sejumlah faktor yang menjadi sumber petaka keuangan mahasiswa, di antaranya:
- Terlalu nyaman dengan uang saku yang didapat tanpa perhitungan.
- Hidup tanpa arah keuangan yang jelas, mudah tergiur fiturPayLaterdan budaya nongkrong.
- Mengabaikan pengeluaran kecil yang menumpuk berujung utang.
- Membandingkan gaya hidup (FOMO) dengan orang lain.
- Menyamakan keinginan dan kebutuhan, serta tergiur investasi bodong tanpa risiko.
“Jangan sampai terjebak investasi ‘bodong’. Hati-hati kalau ada yang menawarkan investasi dengan kata-kata ‘tidak ada risiko’. Semua instrumen legal pasti ada resikonya. Pastikan wadahnya terdaftar di OJK, pelajari baik-baik sebelum masuk,” tambah Ketua Rukun Ibu ITN Malang ini.
Sebagai panduan praktis bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua, Ratih membagikan formula alokasi anggaran bulanan: 50% untuk kebutuhan hidup, 30% untuk tabungan dan dana darurat, dan 20% untuk gaya hidup dan hiburan.
Cerita Maba: Dari Lombok hingga Malaysia
Sesi interaktif berlangsung hangat ketika beberapa mahasiswa baru membagikan pengalaman mereka mengelola uang saku di kota perantauan.
Diva, mahasiswa baru asal Lombok, mengaku senang sekaligus tertantang saat jauh dari orang tua. “Senang bisa belajar menata keuangan sendiri ketika jauh dari keluarga. Saya kelompokkan mana kebutuhan pokok, untuk skincare, dan sisanya langsung disisihkan untuk ditabung,” ungkap Diva.
Baca juga: Pesan Dr. Aladin untuk Mahasiswa Baru ITN Malang: Kuliah Teknik Jangan Malu Deketin Dosen!
Sementara itu, Udin, mahasiswa asal Malaysia, menceritakan bagaimana orang tuanya telah membiasakan tata kelola anggaran keluarga. “Sejak awal sudah dikasih uang harian dan belanja sendiri. Kebutuhan harian sudah dikelompokkan oleh orang tua, jadi memang dibiasakan aware soal keuangan,” tuturnya.
Di akhir sesi, Ratih berpesan agar mahasiswa ITN Malang memanfaatkan layanan ekosistem perbankan digital yang aman seperti Bale by BTN untuk mempermudah pembayaran UKT, transaksi harian, hingga menabung secara disiplin.
“Jangan jadikan orang tuamu sebagai sumber dana darurat, jangan jadikan anakmu kelak sebagai tabungan pensiun, dan jangan jadikan temanmu sebagai pay later. Kembangkan skill, atur anggaran, dan jadilah nahkoda atas kemandirian finansialmu sendiri,” pungkas Ratih. (Mita/Humas ITN Malang)



