
ITN Malang Dipercaya Kementerian ATR/BPN Susun RDTR Konawe Kepulauan, Terjunkan Tim Menembus Daerah Terpencil
FGD 1 dan Konsultasi Publik 1 KLHS penyusunan RDTR Kabupaten Konawe Kepulauan yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan. (Foto: Istimewa)
Malang, itn.ac.id – Kepercayaan nasional kembali diraih oleh Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menunjuk tim ahli dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITN Malang untuk menggarap percepatan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) secara swakelola di Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara.
Pekerjaan tata ruang ini mencakup tiga Wilayah Perencanaan (WP), yakni WP Kampa yang difokuskan pada pengembangan pariwisata, WP Munse untuk sektor pertanian dan perikanan, serta WP Polara yang dikonsentrasikan pada pertanian dan peternakan.
Ketua Tim Penyusun RDTR ITN Malang, Arief Setiawan, ST., MT., menceritakan bagaimana timnya dihadapkan pada realita lapangan yang penuh tantangan namun disambut antusiasme masyarakat dan pemerintah daerah yang luar biasa.
“Waktu pertama turun ke lokasi di tiga kecamatan (Wawonii Barat, Wawonii Timur, dan Wawonii Tenggara), kami lumayan kaget karena kondisinya sangat alami dan agraris. Untungnya daya bertahan anak-anak tim bagus,” cerita Arief mengingat pengalaman survei awal.
Baca Juga : Kementerian ATR/BPN Gandeng ITN Malang Terjunkan Dosen dan Mahasiswa Susun RDTR Kabupaten Kuningan Jabar
Meski harus menyusuri jalanan ekstrem yang hanya sekitar 20 persen berkondisi mulus, tim ITN Malang menyerap aspirasi warga secara langsung. Antusiasme daerah terpancar saat gelaran Focus Group Discussion (FGD) 1 dan Konsultasi Publik (KP) 1 Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kegiatan swakelola Penyusunan Teknis dan Ranperkada RDTR di Kabupaten Konawe Kepulauan yang dilaksanakan pada Rabu (14/10/2026) di Aula Kantor Bupati Konawe Kepulauan. Acara tersebut dihadiri jajaran pimpinan daerah, mulai dari Wakil Bupati, Kepala Dinas PUPR, Kepala Bappeda, para kepala dinas lintas sektor, para camat, kepala desa, hingga tokoh masyarakat setempat.
Ketua Tim Penyusun RDTR ITN Malang, Arief Setiawan, ST., MT., menyampaikan paparan dalam rangkaian acara penyusunan tata ruang wilayah. (Foto: Istimewa)
Arief menjelaskan, pendekatan yang digunakan timnya kali ini cukup unik secara akademis. Dibanding menyusun perencanaan muluk-muluk dari atas meja, tim justru menerapkan metode dari bawah (grounded approach) agar dokumen tata ruang yang dihasilkan tidak berhenti sebagai pajangan buku semata, tetapi membumi dan dapat direalisasikan.
“Istilah keren seperti Water Front City atau megapolitan sengaja kami hindari supaya perencanaannya membumi dan benar-benar bisa dilaksanakan. Kami melihat kondisi riil di lapangan, lalu kami angkat menjadi konsep tata ruang yang solutif. Mumpung wilayahnya masih asli dan belum terlanjur padat, tata ruang ini jadi panduan awal agar arah pembangunan ke depan tidak terlambat,” jelas dosen PWK ITN Malang tersebut.
Sebagai contoh, tim merancang penataan ruang yang mampu mendongkrak sektor produktif warga. Sektor perikanan yang semula hanya dijalani belasan nelayan dirancang ruang pendukungnya agar bisa berkembang melipatgandakan jumlah pelaku usaha. Begitu pula sektor olahan kelapa yang awalnya sebatas produk kopra, disiapkan ruang bagi industri turunannya, serta perbaikan akses menuju spot pariwisata yang terkoneksi dengan simpul UMKM lokal.
Tim penyusun RDTR ITN Malang Arief Setiawan, ST., MT., (kemeja batik) berfoto bersama jajaran pimpinan daerah dan peserta FGD 1 dan Konsultasi Publik 1 KLHS di Kabupaten Konawe Kepulauan. (Foto: Istimewa)
“Tantangan di lapangan memang tidak ringan, dari medan yang berat sampai kondisi wilayah yang serba terbatas. Namun, ini jadi ajang pembuktian bahwa perencanaan kita betul-betul berpijak pada realita. Kami ingin menyusun RDTR yang menjadi guideline koridor pembangunan yang terarah dan bisa diimplementasikan langsung oleh pemerintah daerah,” tegas Arief mengenai peran timnya.
Langkah nyata ini juga menjadi wujud nyata dari kampus berdampak, di mana kepakaran akademis ITN Malang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di kawasan terluar Indonesia. Seluruh tim pendukung yang diterjunkan merupakan para alumni fresh graduate PWK ITN Malang yang ditempatkan langsung di tiap wilayah perencanaan.
“Melalui kerja nyata di lapangan seperti ini, masyarakat di daerah bisa merasakan langsung manfaat kehadiran perguruan tinggi. Hubungan sinergis dengan pemerintah daerah terbangun baik, dan kepercayaan publik terhadap kampus kami semakin kuat. Ini pembuktian bahwa ITN Malang hadir dan memberi solusi bagi pengembangan wilayah di tanah air,” pungkas Arief. (Mita/Humas ITN Malang)



