
Aksi Kemanusiaan KSR PMI ITN Malang: Dari Takut Jarum Suntik Hingga Ketagihan Donor Darah
Petugas medis Unit Donor Darah PMI Kota Malang dengan cermat melakukan proses pengambilan darah dari pendonor di Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)
Malang, itn.ac.id – Ada yang deg-degan, ada yang nutup mata pas jarum masuk, tapi ujung-ujungnya malah ketagihan. Itulah keseruan aksi donor darah yang digelar oleh Korps Sukarela (KSR) PMI Unit Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) pada Kamis-Jumat (15-16/10/2026). Mengusung tema “Setetes Darah Anda, Harapan bagi Sesama”, kegiatan ini sukses menggandeng banyak peserta dari berbagai kalangan sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga para mahasiswa di Kampus 1 dan Kampus 2.
Meski awalnya banyak yang kecil hati karena ngeri melihat jarum suntik, antusiasme peserta justru patut diacungi jempol. Terutama dari kalangan Gen Z yang membuktikan kalau berbagi kantong darah untuk sesama itu sama sekali bukan hal yang menyeramkan.
Kegiatan yang berlangsung di dua lokasi ini mencatat angka partisipasi yang cukup menarik. Berdasarkan data panitia, antusiasme peserta di Kampus 2 tergolong sangat baik. Di Kampus 1 yang berlokasi di aula kampus, tercatat ada 25 orang yang mendaftar, namun yang lolos screening kesehatan hanya 11 orang. Sementara itu, di Kampus 2 (Ruang II.1.4), dari 33 pendaftar ada 22 orang yang berhasil mendonorkan darahnya.
Ketua UKM KSR PMI Unit ITN Malang, Roswita Karolin, menjelaskan bahwa aksi kemanusiaan ini memang menjadi salah satu program kerja wajib organisasi sekaligus bentuk kepedulian nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin memupuk kesadaran seluruh civitas akademika baik dosen, staf, maupun mahasiswa bahwa setetes darah yang disumbangkan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” ujar mahasiswa Teknik Elektro S-1 ini.
Petugas medis Unit Donor Darah PMI Kota Malang dengan cermat melakukan proses pengambilan darah dari pendonor di Kampus 1 ITN Malang. (Foto: Humas ITN Malang)
Sementara, menurut Koordinator Kegiatan, Istinatul Isnani, mahasiswa jurusan Teknik Industri, tantangan terbesar panitia ada pada koordinasi dan cara menyampaikan informasi agar calon pendonor tidak ragu. Beruntung, hambatan tersebut bisa diatasi berkat kerja sama yang solid antar anggota serta dukungan penuh dari Unit Donor Darah (UDD) Kota Malang.
“Tantangannya dalam mengatur koordinasi panitia, menyampaikan informasi kepada calon pendonor serta menyesuaikan persiapan dengan kondisi di lapangan. Untuk mengatasinya, kami berusaha memperkuat komunikasi dan koordinasi antar anggota, serta berkoordinasi dengan pihak Unit Donor Darah Kota Malang,” ujar Istinatul.
Baca Juga : Wajah Baru Gedung UKM ITN Malang: Rektor Tegaskan Aturan Lembur dan target Prestasi
Selain aksi sosial untuk menutupi stok darah di PMI Kota Malang, kegiatan ini juga memberikan banyak keuntungan kesehatan bagi para pendonor. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa rutin mendonorkan darah dapat membantu mendeteksi penyakit serius sejak dini, menurunkan risiko penyakit jantung, hingga membantu mengontrol berat badan.
Untuk memastikan keamanan dan kesehatan calon pendonor, panitia menetapkan sejumlah persyaratan ketat. Di antaranya, peserta harus sehat jasmani dan rohani, berusia 17–60 tahun, beristirahat cukup 4–5 jam, serta memiliki berat badan minimal 45 kg (untuk pengambilan 350 ml) atau minimal 55 kg (untuk pengambilan 450 ml). Selain itu, tekanan darah, kadar hemoglobin (12,5–17,0 g/dl), hingga kondisi tubuh seperti tidak sedang haid, hamil, menyusui, atau mengkonsumsi obat tertentu dalam 3 hari terakhir juga diperiksa secara teliti.
Calon pendonor di Kampus 2 ITN Malang menjalani tahapan pemeriksaan tekanan darah dan kesehatan sebelum mendonorkan darahnya. (Foto: Humas ITN Malang)
Melalui kegiatan rutin seperti ini, KSR PMI ITN Malang berharap kepedulian sosial tidak berhenti pada event sesaat saja, melainkan menjelma menjadi gaya hidup sehat dan kebiasaan positif yang berkelanjutan di lingkungan kampus.
Cerita seru datang dari salah satu peserta mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1 ITN Malang, Cut Puan Galuh Angelina. Bagi Angel akrab disapa, momen ini adalah pengalaman pertamanya merasakan tusukan jarum donor darah seumur hidup.
Baca Juga : Ikatan Mahasiswa Hindu Dharma ITN Malang Sukses Gelar Malam Puncak DGFI 2026
Saat ditanya alasannya ikut serta, ia mengaku ingin mencari pengalaman baru sekaligus berbuat kebaikan. Namun, ia tidak menampik sempat merasa tegang karena ukuran jarum yang panjang. “Iya itu sih, lebih ke takut sama jarumnya. Takut pas masukin jarumnya ke tangan aja, selebihnya aman,” cerita Angel sambil tertawa ringan.
Meski sempat merasa sedikit pusing usai mendonorkan darah, pengalaman pertamanya ini justru menumbuhkan niat baik untuk rutin berpartisipasi setiap dua bulan sekali. Ia juga berpesan kepada teman-teman sebayanya agar tidak perlu takut mendonorkan darah demi membantu sesama.
“Buat teman-teman terutama Gen Z, perbanyak donor darah. Membantu orang seenggaknya satu kantong itu bukan masalah besar untuk kita,” tambahnya. (Mita/Humas ITN Malang)



