
Rancang Wajah Baru Kota Pasuruan, Tim Ahli ITN Malang Siapkan Sentra Industri Baru Kepel-Blandongan hingga Kawasan Heritage
Suasana agenda Konsultasi Publik 2 RTRW dan KLHS Kota Pasuruan yang dihadiri jajaran pimpinan daerah, tim ahli ITN Malang, serta tokoh masyarakat. (Foto: Istimewa)
Malang, ITN.AC.ID – Wajah Kota Pasuruan dipastikan bakal semakin tertata dan modern dalam beberapa tahun ke depan. Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali dipercaya oleh Pemerintah Kota Pasuruan untuk mengawal penyusunan dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) serta Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kota Pasuruan.
Kepercayaan besar ini ditegaskan dalam agenda Konsultasi Publik 2 (KP 2) Penyusunan Materi Teknis RTRW dan KLHS Kota Pasuruan yang digelar di Gedung Gradika Kota Pasuruan, Rabu (07/10/2026) lalu. Forum strategis untuk menjaring aspirasi masyarakat ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo (Mas Adi), Wakil Wali Kota Pasuruan, pimpinan serta anggota DPRD Kota Pasuruan, unsur TNI/Polri, tokoh masyarakat, hingga para pakar tata ruang ITN Malang.
Baca juga: PUPR Pasuruan Perkuat Laboratorium, Gandeng ITN Malang dalam Pelatihan Teknis
Kepala Lembaga Pengembangan Kerjasama dan Usaha (LPKU) ITN Malang, Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., mengungkapkan rasa bangganya atas kemitraan strategis yang terus terjalin antara Kampus Teknologi dan Inovasi ITN Malang dan Pemkot Pasuruan. Dalam penyusunan ini, ia juga bertindak sebagai salah satu tenaga ahli yang mengkaji kondisi lingkungan hidup strategis untuk mendukung penataan Kota Pasuruan.
“Tahun ini ITN Malang mendapat kepercayaan penuh untuk menyusun RDTR Kota Pasuruan sekaligus Revisi RTRW Kota Pasuruan. Kami menerjunkan tim ahli terbaik agar dokumen perencanaan ini benar-benar responsif terhadap perkembangan kota dan kebutuhan warga,” ujar Ardiyanto saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp, Jumat (09/10/2026).
Kepala LPKU ITN Malang, Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., saat memaparkan materi dalam Konsultasi Publik 2 Penyusunan KLHS RTRW Kota Pasuruan 2026 di Gedung Gradika Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)
Kawasan Industri Baru Kepel-Blandongan & Akses Jalan Lingkar Utara
Tim Ahli ITN Malang, Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT., memaparkan gambaran besar hasil analisis dan konsep penataan ruang Kota Pasuruan. Menurutnya, Pasuruan memiliki posisi unik sebagai kota transit yang mengandalkan sektor perdagangan, jasa, dan industri. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi masa depan, ITN Malang merancang titik pertumbuhan baru di wilayah timur Pasuruan, yaitu kawasan industri Kepel-Blandongan.
“Materi pengembangan kota kita basisnya adalah perdagangan, jasa, dan industri. Kalau dulu industri makanan yang terkenal Bipang Jangkar, nah yang sekarang masih bertahan ada mebel di Bukir dan industri logam di bagian utara. Yang paling gres, kita posisikan kawasan industri baru di daerah sekitar Kepel-Blandongan,” jelas Ibnu.
Tim Ahli ITN Malang Dr. Ir. Ibnu Sasongko, MT. (kiri), mendampingi Wakil Wali Kota Pasuruan (tengah) dan Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo (kanan) dalam Konsultasi Publik 2 Penyusunan Materi Teknis RTRW dan KLHS Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)
Agar kawasan industri baru tersebut berkembang optimal, tim ahli ITN Malang merekomendasikan percepatan pembangunan infrastruktur penunjang. “Karena aksesnya saat ini masih terbatas, harus didukung dengan pembangunan Jalan Lingkar Utara (JLU) Pasuruan. Ini akan menjadi pendorong utama arus logistik industri sekaligus penggerak ekonomi kota,” tambahnya.
Integrasi Wisata Religi Mbah Hamid dan Kawasan Heritage Kota Lama
Tak hanya fokus pada pilar industri, penataan ruang Kota Pasuruan juga memberi perhatian khusus pada identitas sejarah dan budaya lokal. Ibnu menekankan pentingnya menjaga daya tarik wisata religi makam Kiai Hamid (Mbah Hamid) yang saban hari dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai daerah.
Di samping itu, kawasan perkotaan lama sepanjang Jalan Raya Pahlawan hingga area pelabuhan diproyeksikan menjadi koridor heritage berbasis arsitektur bersejarah.
Kepala LPKU ITN Malang, Dr. Ir. Ardiyanto Maksimilianus Gai, ST., M.Si., MM., saat memaparkan materi dalam Konsultasi Publik 2 Penyusunan KLHS RTRW Kota Pasuruan 2026 di Gedung Gradika Kota Pasuruan. (Foto: Istimewa)
“Pasuruan ini kota lama. Ada potensi wisata religi Mbah Hamid yang menyedot ribuan peziarah tiap hari. Lalu ada kawasan heritage dari Jalan Pahlawan sampai pelabuhan yang kita kemas jadi area wisata budaya berbasis bangunan kuno, mirip seperti koridor Jalan Ijen atau Kayutangan Heritage di Malang,” kata Ibnu.
Baca Juga : ITN Malang Kawal Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah Wisata dan Akses Perkantoran di Mahakam Ulu
Ia menuturkan, seluruh masukan warga dalam Konsultasi Publik ini, termasuk penataan RTH dan ruang aktivitas sosial akan dikemas dalam draf Raperda RTRW beserta peta teknisnya. Setelah itu, dokumen akan diajukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pembahasan DPRD Kota Pasuruan, serta mendapat persetujuan substansi dari Kementerian ATR/BPN sebelum disahkan menjadi Perda.
Wali Kota Pasuruan: Panduan Investasi dan Pembangunan Berkelanjutan
Sementara itu, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo (Mas Adi) menegaskan bahwa penyusunan revisi RTRW ini merupakan amanat UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja yang mewajibkan pelibatan aktif masyarakat.
“Proses penyusunan RTRW harus mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekaligus menyelaraskan kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Dokumen ini sangat strategis karena menjadi pedoman penyusunan RPJPD, RPJMD, penataan pertanahan, hingga penetapan lokasi investasi di Kota Pasuruan,” ungkap Mas Adi.
Mas Adi juga mengapresiasi sinergi akademisi ITN Malang yang cermat dalam mengkaji keseimbangan struktur ruang, pengendalian alih fungsi lahan, serta perlindungan lingkungan hidup.
“Perlindungan LP2B dan penataan ruang ini harus kita kawal bersama. Ini bukan sekadar dokumen teknis, tetapi tentang bagaimana kita menjaga keberlanjutan pembangunan dan masa depan warga Kota Pasuruan,” pungkasnya. (Mita/Humas ITN Malang)



